Senin, 26 September 2016

Tujuan Konseling

Tujuan Konseling :
1.      Menjadi insan yang berguna bagi kehidupannya
 Misal : membantu teman yang kesusahan.

2.      Memiliki berbagai wawasan dan pengetahuan
Missal: a. pandangan terhadap sesuatu.
              b. kecerdasan mengenai materi pelajaran.

3.      Mengembangkan diri secara optimal sesuai tahap perkembangan :
                  Misal >a. angka 1-10.
                             >b.  Pembedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan.

 Memiliki pilihan, penyesuaian & keterampilan
               Missal : a.  Baik dan buruk , boleh dan tidak.
                               b. Orang tua dan lingkungan anak dari TK.
                                c. menguasai seluruh pelajaran.
                             

Jumat, 23 September 2016

Pembelajaran Matematika Realistik Di Indonesia



Tugas PMR _23 September
Pembelajaran Matematika Realistik Di Indonesia
Di Indonesia adaptasi “Realistic Mathematic Education “ (RME) disebut juga Pendidikan Matematik Realistik Indonesia (PMRI) adalah pendidikan matematika yang telah diselaraskan dengan kondisi budaya, geografi, dan kehidupan masyarakat Indonesia. Bahwa hadirnya PMRI bukan untuk meniadakan cara-cara atau metode yang lama dibuang. Melainkan menyesuaikan tempat dan penerapannya dalam PMR.
Bahwa PMR merupakan inovasi pendidikan Matematika yang sejalan dengan Teori Konstruktivisme. Dalam PMR pontensi dalam diri si anak justru dikembangkan. Kenyakinan  guru terhadap potensi anak berdampak pada guru dalam mengelola pembelajaran. Keduanya akan berpengaruh dalam pada budaya guru dalam membelajarkan siswa dan cara guru memberdayakan siswa belajar optimal.
Dasar-Dasar Didaktik Matematika Menurut PMR
A.                Dasar filosofis PMR
Dalam PMR guru berfungsi sebagai fasilitator. Dalam filsafat matematika terdapat komponen-komponen : materi matematika, anak yang belajar matematika, sekolah dan guru yang “mengajarkan” matematika, dan realitas lingkungan. PMR memandang matematika  : “Mathematic as a human activity” (sebagai kegiatan manusia).

Skema Kerangka Didaktik
Matematika sebagai kegiatan manusia dan Matematika sebagai alat
Dalam kehidupan terdapat berbagai aneka masalah yang berhubungan dengan matematika. Masalah tersebut bias berupa nyata-semi abstrak-abstrak. Masalah tersebut bisa bersifat kontekstual dan kata sehari-hari digunakan untuk membantu dalam istilah formal dalam matematika. Matematika sebagai alat yakni dengan cara memecahkan model matematis dengan berbagai aturan yang formal yang ada dalam matematika. Sudah barang tentu untuk setiap anak, mungkin saja dapat terjadi perbedaan- perbedaan tertentu dalam rangka menuju tujuan tertentu yang diharapkan Itulah nanti yang akan disebut sebagai “learning trajectory”.

B. DASAR TEORETIK atau Prinsip PMR.
1) a) Guided Re-invention atau “menemukan kembali secara terbimbing” Prinsip ini menekankan “penemuan kembali” secara terbimbing.. Melalui topik-topik tertentu yang disajikan, siswa diberi kesempatan sama untuk membangun dan menemukan kembali ide-ide dan konsep-konsep matematika. Setiap siswa diberi kesempatan sama untuk merasakan situasi dan mengalami masalah kontekstual yang memiliki berbagai kemungkinan solusi. Bila diperlukan dapat diberikan bimbingan yang diperlukan. Jadi pembelajaran tidak diawali dari “sifat” atau
“definisi” atau “teorema” atau “ aturan” dan diikuti dengan “contoh=contoh” serta penerapannya,
tetapi justru dimulai dengan masalah kontekstual atau real/nyata meski hanya dengan membayangkannya, dan selanjutnya melalui aktivitas siswa diharapkan dapat menemukan kembali sifat, definisi dan lainnya itu. Hal terakhir menunjukkan kesesuiannya dengan paham
konstruktivisme yang meyakini bahwa pengetahuan tidak dapat ditransfer dari seseorang kepada orang lain tanpa aktivitas yang dilakukan sendiri oleh orang yang akan mengetahui pengetahuan tersebut. b) Progressive mathematization atau matematisasi progresif.
Bagian -2 dari prinsip pertama ini menekankan “matematisasi” atau “pematematikaan” yang dapat diartikan sebagai “upaya untuk mengarahkan kepada pemikiran matematika”. Dikatakan prograsif karena terdapat dua langkah matematisasi itu, yaitu matematisasi (1) horisontal dan (2) vertikal.yang berawal dari masalah kontekstual yang diberikan dan akan berakhir pada matematika yang formal.

 2) Didactical Phenomenology atau fenomenologi didaktik Prinsip ini menekankan fenomena pembelajaran yang bersifat mendidik dan menekankan pentingnya masalah kontekstual untuk memperkenalkan topik-topik matematika kepada siswa. Masalah kontekstual dipilih dengan mempertimbangkan (1) aspek kecocokan aplikasi yang harus diantisipasi dalam pembelajaran dan (2)kecocokan dengan proses re-inventionyang berarti bahwa aturan/cara,atau konsep
atau sifat termasuk model matematika tidak disediakan atau diajarkan oleh guru tetapisiswa perlu berusaha sendiri untuk menemukan atau membangun sendiri dengan berpangkal dari masalah kontektual yang diberikan. Ini akan menimbulkan “learning trajectory”/ lintasan belajar
yang akan menuju tujuan yang ditetapkan.Tidak mustahil lintasan belajar itu untuk setiap siswa bisa berbeda meskipun akan mencapai tujuan yang sama . Ini berarti bahwa pembelajaran tidak
lagi terpusat pada guru tetapi akan berpusat pada siswa bahkan dapat juga disebut berpusat pada masalah kontekstual yang dihadapi. Masalah kontekstual dapat juga untuk memantapkan pemahaman sesuatu yang telah didapatnya.

3) Self developed model atau membangun sendiri model
Prinsip ketiga ini menunjukkan adanya fungsi“jembatan” yang berupa model. Karena berpangkal dari masalah kontekstual dan akan menuju ke matematika formal serta adanya kebebasan pada anak maka tidaklah mustahil siswa akan mengembangkan model sendiri. Model itu mungkin masih seder-hana dan masih mirip dengan masalah kontekstualnya. Model ini disebut “model of” dan sifatnya masih dapat disebut “matematika informal” . Selanjutnya mungkin melalui generalisasi ataupun formalisasi dapat mengembangkan model yang mengarahkan ke matematika formal, model ini dapat disebut “model for”. Hal tersebut sesuai dengan matematisasi horisontal dan matematisasi vertikal, yang memungkinkan siswa dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan caranya sendiri.




Rabu, 21 September 2016

Berbicara tentang kekuasaan

Grote mengatakan “Bahwa meski manusia itu terdiri dari banyak hal… , meski Persemakmuran yang sempurna itu terdiri dari karakter Negara Ideal menempatkan individu sebagai salinan tidak sempurna. Republik “Hukum didesain secara keseluruhan mewujudkan kesejahteraan, menggabungkan seluruh warga Negara sebagai kedalam satu unit, baik secara persuasive maupun kekerasan”. 

Bahwa dalam Holisme “terdapat etetisme emosional, kerinduan pada keindahan, dapat terlihat. Laws “setiap seniman menjadi bagian dari keseluruhan, dan bukan keseluruhan demi bagian”. Holisme moral “Kamu diciptakan untuk keseluruhan dan keseluruhan tidak diciptakan untukmu”. Dalam keseluruhan ini individu-individu yang berbeda, dan kelompok-kelompok individu, dengan ketidaksederajatannya kodratik mereka, pasti memberikan pengabdian mereka yang timpang dan spesifik.

Penyakit negarandi produksi oleh kerusakan kodrat manusia dan secara khusus disebabkan kerusakan oleh anggota-anggota kelas penguasa, Degrenasi Negara dapat berupa degrenasi jiwa manusia, degrenasi sifat manusia, degrenasi ras manusia.

“Para penguasa kota yang telah kau didik, sebenarnya cukup bijak tapi mungkin menggunakan kalkulasi yang dibantu persepsi, mereka secara kebetulan tidak akan menemukan cara bagaimana memperoleh keturunan yang baik”. Karena kekurangan metode murni rasional, mereka melakukan blunder, suatu hari mereka menghasilkan keturunan yang dengan cara salah. Jumlah platonik, “penguasa hokum engenetika yang lebih tinggi”.

Selasa, 20 September 2016

Pentingnya Perencanaan Pembelajaran di Sekolah Dasar



Pentingnya Perencanaan Pembelajaran di Sekolah Dasar
Bahwa kegiatan pendidikan khususnya di sekolah dasar yang biasanya harus dipersiapkan oleh guru untuk menunjang keberhasilan siswa dalam melakukan kegiatan di kelas. Untuk itu sebelumnya harus merumuskan tentang pentingnya perencanaan pembelajaran di sekolah dasar. Bahwa perencanaan pembelajaran adalah suatu langkah kegiatan dimulai dari skema:
a.       Awal
b.      Proses
c.       Hasil

Di awal  perencanaan bahwa seorang guru harus mengetahui bahwa seorang anak mempunyai sifat yang unik, kemudian membangun kepercayaan diri siswa. Untuk membangun kepercayaan diri siswa seorang siswa bahwa guru harus mempersiapkan strategi, metode, media dan penilaian yang sesuai dengan anak didik.

Untuk hal itu perencanaan pembelajaran harus ditunjang dengan sarana prasana, manajemen sekolah, dan didukung oleh perangkat kurikulum yang terdiri dari, yakni :
1.      Silabus pelajaran
2.      Rencana Pokok Pembelajaran
3.      Metode
4.      Pendekatan pada saat pengajaran
5.      Media yang sesuai dengan materi

Terakhirnya harus mempersiapkan penilaian yang terdiri dari :
a.       Ulangan harian
b.      Ujian tengah semester
c.       Ulangan akhir semester
d.      Tugas harian dan remedial.
e.