Tugas PMR _23 September
Pembelajaran
Matematika Realistik Di Indonesia
Di
Indonesia adaptasi “Realistic Mathematic Education “ (RME) disebut juga
Pendidikan Matematik Realistik Indonesia (PMRI) adalah pendidikan matematika
yang telah diselaraskan dengan kondisi budaya, geografi, dan kehidupan
masyarakat Indonesia. Bahwa hadirnya PMRI bukan untuk meniadakan cara-cara atau
metode yang lama dibuang. Melainkan menyesuaikan tempat dan penerapannya dalam
PMR.
Bahwa
PMR merupakan inovasi pendidikan Matematika yang sejalan dengan Teori
Konstruktivisme. Dalam PMR pontensi dalam diri si anak justru dikembangkan.
Kenyakinan guru terhadap potensi anak
berdampak pada guru dalam mengelola pembelajaran. Keduanya akan berpengaruh
dalam pada budaya guru dalam membelajarkan siswa dan cara guru memberdayakan
siswa belajar optimal.
Dasar-Dasar
Didaktik Matematika Menurut PMR
A.
Dasar filosofis PMR
Dalam PMR guru berfungsi sebagai fasilitator. Dalam
filsafat matematika terdapat komponen-komponen : materi matematika, anak yang
belajar matematika, sekolah dan guru yang “mengajarkan” matematika, dan
realitas lingkungan. PMR memandang matematika
: “Mathematic as a human activity” (sebagai kegiatan manusia).
Skema
Kerangka Didaktik
Matematika sebagai kegiatan
manusia dan Matematika sebagai alat
Dalam kehidupan
terdapat berbagai aneka masalah yang berhubungan dengan matematika. Masalah
tersebut bias berupa nyata-semi
abstrak-abstrak. Masalah tersebut bisa bersifat kontekstual dan kata
sehari-hari digunakan untuk membantu dalam istilah formal dalam matematika. Matematika sebagai alat yakni dengan
cara memecahkan model matematis dengan berbagai aturan yang formal yang ada
dalam matematika. Sudah barang tentu untuk setiap
anak, mungkin saja dapat terjadi perbedaan- perbedaan tertentu dalam rangka
menuju tujuan tertentu yang diharapkan Itulah nanti yang akan disebut sebagai
“learning trajectory”.
B. DASAR TEORETIK atau Prinsip PMR.
1)
a) Guided Re-invention atau “menemukan kembali secara terbimbing” Prinsip ini menekankan
“penemuan kembali” secara terbimbing.. Melalui topik-topik tertentu yang disajikan,
siswa diberi kesempatan sama untuk membangun dan menemukan kembali ide-ide dan konsep-konsep
matematika. Setiap siswa diberi kesempatan sama untuk merasakan situasi dan mengalami
masalah kontekstual yang memiliki berbagai kemungkinan solusi. Bila diperlukan
dapat diberikan bimbingan yang diperlukan. Jadi pembelajaran tidak diawali dari
“sifat” atau
“definisi” atau “teorema” atau “ aturan”
dan diikuti dengan “contoh=contoh” serta penerapannya,
tetapi justru dimulai dengan masalah
kontekstual atau real/nyata meski hanya dengan membayangkannya, dan selanjutnya
melalui aktivitas siswa diharapkan dapat menemukan kembali sifat, definisi dan
lainnya itu. Hal terakhir menunjukkan kesesuiannya dengan paham
konstruktivisme yang meyakini bahwa pengetahuan
tidak dapat ditransfer dari seseorang kepada orang lain tanpa aktivitas yang
dilakukan sendiri oleh orang yang akan mengetahui pengetahuan tersebut. b) Progressive
mathematization atau matematisasi progresif.
Bagian -2 dari prinsip pertama ini menekankan
“matematisasi” atau “pematematikaan” yang dapat diartikan sebagai “upaya untuk
mengarahkan kepada pemikiran matematika”. Dikatakan prograsif karena terdapat
dua langkah matematisasi itu, yaitu matematisasi (1) horisontal dan (2) vertikal.yang
berawal dari masalah kontekstual yang diberikan dan akan berakhir pada matematika
yang formal.
2) Didactical Phenomenology atau fenomenologi
didaktik Prinsip ini menekankan fenomena pembelajaran yang bersifat mendidik
dan menekankan pentingnya masalah kontekstual untuk memperkenalkan topik-topik matematika
kepada siswa. Masalah kontekstual dipilih dengan mempertimbangkan (1) aspek
kecocokan aplikasi yang harus diantisipasi dalam pembelajaran dan (2)kecocokan
dengan proses re-inventionyang berarti bahwa aturan/cara,atau konsep
atau sifat termasuk model matematika
tidak disediakan atau diajarkan oleh guru tetapisiswa perlu berusaha sendiri untuk
menemukan atau membangun sendiri dengan berpangkal dari masalah kontektual yang
diberikan. Ini akan menimbulkan “learning trajectory”/ lintasan belajar
yang akan menuju tujuan yang ditetapkan.Tidak
mustahil lintasan belajar itu untuk setiap siswa bisa berbeda meskipun akan mencapai
tujuan yang sama . Ini berarti bahwa pembelajaran tidak
lagi terpusat pada guru tetapi akan
berpusat pada siswa bahkan dapat juga disebut berpusat pada masalah kontekstual
yang dihadapi. Masalah kontekstual dapat juga untuk memantapkan pemahaman sesuatu
yang telah didapatnya.
3)
Self developed model atau membangun sendiri model
Prinsip ketiga ini menunjukkan adanya
fungsi“jembatan” yang berupa model. Karena berpangkal dari masalah kontekstual dan
akan menuju ke matematika formal serta adanya kebebasan pada anak maka tidaklah
mustahil siswa akan mengembangkan model sendiri. Model itu mungkin masih
seder-hana dan masih mirip dengan masalah kontekstualnya. Model ini disebut “model
of” dan sifatnya masih dapat disebut “matematika informal” . Selanjutnya mungkin
melalui generalisasi ataupun formalisasi dapat mengembangkan model yang mengarahkan
ke matematika formal, model ini dapat disebut “model for”. Hal tersebut sesuai
dengan matematisasi horisontal dan matematisasi vertikal, yang memungkinkan
siswa dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan caranya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar