Jumat, 23 September 2016

Pembelajaran Matematika Realistik Di Indonesia



Tugas PMR _23 September
Pembelajaran Matematika Realistik Di Indonesia
Di Indonesia adaptasi “Realistic Mathematic Education “ (RME) disebut juga Pendidikan Matematik Realistik Indonesia (PMRI) adalah pendidikan matematika yang telah diselaraskan dengan kondisi budaya, geografi, dan kehidupan masyarakat Indonesia. Bahwa hadirnya PMRI bukan untuk meniadakan cara-cara atau metode yang lama dibuang. Melainkan menyesuaikan tempat dan penerapannya dalam PMR.
Bahwa PMR merupakan inovasi pendidikan Matematika yang sejalan dengan Teori Konstruktivisme. Dalam PMR pontensi dalam diri si anak justru dikembangkan. Kenyakinan  guru terhadap potensi anak berdampak pada guru dalam mengelola pembelajaran. Keduanya akan berpengaruh dalam pada budaya guru dalam membelajarkan siswa dan cara guru memberdayakan siswa belajar optimal.
Dasar-Dasar Didaktik Matematika Menurut PMR
A.                Dasar filosofis PMR
Dalam PMR guru berfungsi sebagai fasilitator. Dalam filsafat matematika terdapat komponen-komponen : materi matematika, anak yang belajar matematika, sekolah dan guru yang “mengajarkan” matematika, dan realitas lingkungan. PMR memandang matematika  : “Mathematic as a human activity” (sebagai kegiatan manusia).

Skema Kerangka Didaktik
Matematika sebagai kegiatan manusia dan Matematika sebagai alat
Dalam kehidupan terdapat berbagai aneka masalah yang berhubungan dengan matematika. Masalah tersebut bias berupa nyata-semi abstrak-abstrak. Masalah tersebut bisa bersifat kontekstual dan kata sehari-hari digunakan untuk membantu dalam istilah formal dalam matematika. Matematika sebagai alat yakni dengan cara memecahkan model matematis dengan berbagai aturan yang formal yang ada dalam matematika. Sudah barang tentu untuk setiap anak, mungkin saja dapat terjadi perbedaan- perbedaan tertentu dalam rangka menuju tujuan tertentu yang diharapkan Itulah nanti yang akan disebut sebagai “learning trajectory”.

B. DASAR TEORETIK atau Prinsip PMR.
1) a) Guided Re-invention atau “menemukan kembali secara terbimbing” Prinsip ini menekankan “penemuan kembali” secara terbimbing.. Melalui topik-topik tertentu yang disajikan, siswa diberi kesempatan sama untuk membangun dan menemukan kembali ide-ide dan konsep-konsep matematika. Setiap siswa diberi kesempatan sama untuk merasakan situasi dan mengalami masalah kontekstual yang memiliki berbagai kemungkinan solusi. Bila diperlukan dapat diberikan bimbingan yang diperlukan. Jadi pembelajaran tidak diawali dari “sifat” atau
“definisi” atau “teorema” atau “ aturan” dan diikuti dengan “contoh=contoh” serta penerapannya,
tetapi justru dimulai dengan masalah kontekstual atau real/nyata meski hanya dengan membayangkannya, dan selanjutnya melalui aktivitas siswa diharapkan dapat menemukan kembali sifat, definisi dan lainnya itu. Hal terakhir menunjukkan kesesuiannya dengan paham
konstruktivisme yang meyakini bahwa pengetahuan tidak dapat ditransfer dari seseorang kepada orang lain tanpa aktivitas yang dilakukan sendiri oleh orang yang akan mengetahui pengetahuan tersebut. b) Progressive mathematization atau matematisasi progresif.
Bagian -2 dari prinsip pertama ini menekankan “matematisasi” atau “pematematikaan” yang dapat diartikan sebagai “upaya untuk mengarahkan kepada pemikiran matematika”. Dikatakan prograsif karena terdapat dua langkah matematisasi itu, yaitu matematisasi (1) horisontal dan (2) vertikal.yang berawal dari masalah kontekstual yang diberikan dan akan berakhir pada matematika yang formal.

 2) Didactical Phenomenology atau fenomenologi didaktik Prinsip ini menekankan fenomena pembelajaran yang bersifat mendidik dan menekankan pentingnya masalah kontekstual untuk memperkenalkan topik-topik matematika kepada siswa. Masalah kontekstual dipilih dengan mempertimbangkan (1) aspek kecocokan aplikasi yang harus diantisipasi dalam pembelajaran dan (2)kecocokan dengan proses re-inventionyang berarti bahwa aturan/cara,atau konsep
atau sifat termasuk model matematika tidak disediakan atau diajarkan oleh guru tetapisiswa perlu berusaha sendiri untuk menemukan atau membangun sendiri dengan berpangkal dari masalah kontektual yang diberikan. Ini akan menimbulkan “learning trajectory”/ lintasan belajar
yang akan menuju tujuan yang ditetapkan.Tidak mustahil lintasan belajar itu untuk setiap siswa bisa berbeda meskipun akan mencapai tujuan yang sama . Ini berarti bahwa pembelajaran tidak
lagi terpusat pada guru tetapi akan berpusat pada siswa bahkan dapat juga disebut berpusat pada masalah kontekstual yang dihadapi. Masalah kontekstual dapat juga untuk memantapkan pemahaman sesuatu yang telah didapatnya.

3) Self developed model atau membangun sendiri model
Prinsip ketiga ini menunjukkan adanya fungsi“jembatan” yang berupa model. Karena berpangkal dari masalah kontekstual dan akan menuju ke matematika formal serta adanya kebebasan pada anak maka tidaklah mustahil siswa akan mengembangkan model sendiri. Model itu mungkin masih seder-hana dan masih mirip dengan masalah kontekstualnya. Model ini disebut “model of” dan sifatnya masih dapat disebut “matematika informal” . Selanjutnya mungkin melalui generalisasi ataupun formalisasi dapat mengembangkan model yang mengarahkan ke matematika formal, model ini dapat disebut “model for”. Hal tersebut sesuai dengan matematisasi horisontal dan matematisasi vertikal, yang memungkinkan siswa dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan caranya sendiri.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar