BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Belajar bukan hanya menghafal dan bukan pula mengingat, tetapi belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri siswa. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti perubahan terhadap lingkungan, sikap dan tingkah laku ketrampilan, kecakapan, kemampuan, daya reaksi dan daya penerimaan. Jadi belajar adalah suatu proses yang aktif, proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada pada siswa.
Didalam pembelajaran juga perlu adanya guru dan siswa, dan dukungan suatu teori belajar, karena tanpa guru siswa tidak akan dikatakan siswa, dan begitu juga sebaliknya tanpa siswa guru tidak akan disebut guru kalau tidak ada siswa, juga dalam pembelajaran tidak akan terlepas dengan teori karena teori itulah yang akan merangsang kemampuan para sisiwa atas apa yang dimiliki dalam dirirnya.
secara keseluruhan teori belajar di kelompokan menjadi empat kelompok atau aliran meliputi: (1) Teori Belajar Behavioristik (2) Teori Belajar Kognitifistik (3) Teori Belajar Konstruktifistik (4) Teori Belajar Humanistik.
Atas dasar keempat tersebut pemakalah akan menerangkan salah satu dari teori-teori diatas, yaitu teori belajar humanistik. Pada hakikatnya teori ini berkembang dari aliran psikologi yang kemudian berpengaruh terhadap arah pengembangan teori, praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran humanistik. Oleh karena judul yang penulis tulis adalah Teori Humanistik maka pembahasan yang akan terjadi adalah Psikologi dan Pendidikan
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud teori humanistik?
2. Siapakah tokoh-tokoh teori humanistik?
3. Apakah ciri-ciri dan prinsip dalam teori humanistik?
4. Aplikasi dan implikasi dari penerapan teori humanistik dalam pembelajaran?
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Teori Humanistik
Teori pendidikan adalah suatu pandangan pendidikan yang diidealkan yang disajikan dalam bentuk sebuah sistem konsep dan dalil. Ada juga yang mengatakan teori pendidikan adalah serangkaian konsep, definisi, asumsi dan proposisi tentang cara merubah sikap dan tingkah laku seseorang dalam rangka mewujudkan manusia yang adil dan beradab.
Teori Humanistik lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia. Psikolog humanistik mencoba untuk melihat kehidupan manusia sebagaimana manusia melihat kehidupan mereka. Mereka berfokus pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional untuk dalam mengendalikan hasrat biologisnya, serta dalam meraih potensi maksimal mereka. Dalam pandangan humanistik, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.
Menurut para tokoh aliran ini penyusunan dan pemilihan materi pelajaran harus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa. Tujuan utama pendidik adalah membantu siswa mengembangkan dirinya, yaitu membantu individu untuk mengenal dirinya sendiri sebagai manusia secara utuh dan membantu mengembangkan potensi dan keterampilan mereka.
Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada proses belajar yaitu proses memperoleh informasi baru dan internalisasi informasi ini pada individu. Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Pengertian humanistik yang beragam membuat batasan-batasan aplikasinya dalam dunia pendidikan mengundang berbagai macam arti pula.
Historis Teori Humanistik
Aliran Humanistik muncul sekitar tahun 1960-1972. Kemudian muncul bebrapa perubahan dan inovasi baru sampai dekade terakhir. Adapun tokoh – tokoh yang mempelopori psikologi humanistik yang digunakan sebagai teori belajar humanisme sebagai berikut :
Abraham Maslow
Maslow percaya bahwa manusia bergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang paling di kenal adalah teori tentang Hierarchy of Needs ( Hirarki kebutuhan ). Dia mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri orang memiliki rasa takut yang dapat membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan. Manusia juga bermotivasi untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan hidupnya. Kebutuhan – kebutuhan tersebut memiliki tingkatan mulai dari yang rendah sampai yang tinggi.
Carl Rogers
Adalah seorang psikolog humanistik yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka dalam membantu mengatasi masalah – masalah kehidupannya. Menurutnya hal yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran yaitu :
Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal – hal yang tidak ada artinya.
Siswa akan mempelajari hal – hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bahan yang bermakna bagi siswa.
Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.
Dari bukunya Freedom to learn, ia menunjukan sejumlah prinsip – prinsip yang terpenting adalah :
Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami
Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud – maksud tersendiri.
Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri di anggap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
Belajar yang bermakna di peroleh siswa dengan melakukanya.
Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggung jawab terhadap proses belajar itu.
Bagaimana proses belajar dapat terjadi menurut teori belajar humanisme? Orang balajar karena ingin mengetahui dunianya. Individu memilih sesuatu untuk dipelajari, mengusahakan proses belajar dengan caranya sendiri, dan menilainya sendiri tentang apakah proses belajarnya berhasil.
Bloom dan Krathwohl
Dalam hal ini, Bloom dan Krathwohl menunjukkan apa yang mungkin dikuasai (dipelajari) oleh siswa, yang tercakup dalam tiga kawasan berikut.
Kognitif, terdiri dari enam tingkatan, yaitu:
Pengetahuan ( mengingat, menghafal );
Pemahaman ( menginterpretasikan );
Aplikasi ( menggunakan konsep untuk memecahkan suatu masalah );
Analisis ( menjabarkan suatu konsep );
Sintesis ( menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi suatu konsep utuh);
Evaluasi ( membandingkan ide, nilai, metode, dsb ).
Psikomotor, terdiri dari lima tingkatan, yaitu:
Peniruan ( menirukan gerak );
Penggunaan ( menggunakan konsep untuk melakukan gerak );
Ketepatan ( melakukan gerak dengan benar );
Perangkaian ( melakukan beberapa gerakan sekaligus dengan benar );
Naturalisasi ( melakukan gerak secara wajar ).
Afektif, terdiri dari lima tingkatan, yaitu:
Pengenalan ( ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu );
Merespon ( aktif berpartisipasi );
Penghargaan ( menerima nilai-nilai, setia kepada nilai-nilai tertentu);
Pengorganisasian ( menghubung - hubungkan nilai-nilai yang dipercayai );
Pengalaman ( menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari pola hidup ).
Kolb
Sementara itu, Kolb membagi tahapan belajar menjadi empat tahap, yaitu:
Pengalaman konkret; Pada tahap ini seorang siswa hanya mampu sekedar ikut mengalami suatu kejadian. Dia belum mempunyai kesadaran tentang hakikat kejadian tersebut. Dia pun belum mengerti bagaimana dan mengapa suatu kejadian harus terjadi seperti itu.
Pengalaman aktif dan reflektif; Siswa lambat laun mampu mengadakan observasi aktif terhadap kejadian itu, serta mulai berusaha memikirkan dan memahaminya.
Konseptualisasi; Siswa mulai belajar untuk membuat abstraksi atau “teori” tentang sesuatu hal yang pernah diamatinya. Pada tahap ini siswa diharapkan sudah mampu untuk membuat aturan-aturan umum ( generalisasi ) dari berbagai contoh kejadian yang meskipun tampak berbeda-beda, tetapi mempunyai landasan aturan yang sama.
Eksperimentasi aktif Siswa sudah mampu mengaplikasikan suatu aturan umum ke situasi yang baru. Dalam dunia matematika misalnya, siswa tidak hanya memahami “ asal-usul” sebuah rumus, tetapi ia juga mampu memakai rumus tersebut untuk memecahkan suatu masalah yang belum pernah ia temui sebelumnya.[7]
Honey dan Mumford
Berdasarkan teori Kolb ini, Honey dan Mumford menggolongkan siswa menjadi empat tipe, yakni:
Aktivis; Ciri dari siswa ini adalah suka melibatkan diri pada pengalaman-pengalaman baru dan cenderung berpikiran terbuka serta mudah diajak berdialog. Namun, siswa seperti ini biasanya kurang skeptis terhadap sesuatu. Dalam belajar mereka menyukai metode yang mampu mendorong seseorang menemukan hal-hal baru, seperti brainstorming atau problem solving. Akan tetapi mereka cepat merasa bosan dengan hal-hal yang perlu waktu lama dalam implementasi.
Reflektor; Siswa tipe ini cenderung sangat berhati-hati mengambil langkah sehingga dalam mengambil keputusan mereka lebih suka menimbang-nimbang secara cermat baik buruknya.
Teoris; Siswa tipe ini biasanya sangat kritis, senang menganalisis, dan tidak menyukai pendapat atau penilaian yang sifatnya subjektif. Berpikir rasional adalah sangat penting. Dan mereka cenderung sangat skeptis dan tidak suka hal-hal yang spekulatif.
Pragmatis; Siswa pada tipe ini menaruh perhatian besar pada aspek-aspek praktis dari segala hal. Bagi mereka teori memang penting, tapi tidak akan berguna jika tidak dipraktikkan.
Aplikasi Teori Humanistik Terhadap Pembelajaran Siswa
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
Merumuskan tujuan belajar yang jelas.
Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas, jujur dan positif.
Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri.
Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri.
Siswa didorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan.
Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya.
Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa.
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin atau etika yang berlaku.
Ciri-ciri guru yang baik dan kurang baik menurut Humanistik
Guru yang baik menurut teori ini adalah : Guru yang memiliki rasa humor, adil, menarik, lebih demokratis, mampu berhubungan dengan siswa dengan mudah dan wajar. Ruang kelas lebih terbuka dan mampu menyesuaikan pada perubahan.
Sedangkan guru yang tidak efektif adalah guru yang memiliki rasa humor yang rendah, mudah menjadi tidak sabar, suka melukai perasaan siswa dengan komentar yang menyakitkan, bertindak agak otoriter, dan kurang peka terhadap perubahan yang ada.
Teori kurikulum humanistik
Konsep dasar
Kurikulum humanistik dikembangkan oleh ahli pendidikan humanistik. Kurikulum ini berdasarkan konsep aliran pendidikan pribadi yaitu oleh jhon dewey dan J.J Rousseau. Aliran ini lebih memberikan tempat utama kepada siswa. Mereka bertolak dari asumsi bahwa anak atau siswa adalah yang pertama dan utama dalam pendidikan. Ia adalah subjek yang menjadi pusat kegiatan pendidikan. Para pendidik humanis juga berpegang pada konsep gesalt, bahwa individu atau anak merupakan satu kesatuan yang menyeluruh. Pendidikan diarahkan kepada membina manusia yang utuh bukan saja segi fisik dan intelektual tetapi juga segi sosial dan afektif.
Pendidikan humanistik menekankan peranan siswa. Pendidikan merupakan suatu upaya untuk menciptakan situasi yang permisif, rileks, akrab. Berkat situasi tersebut anak mengembangkan segala potensi yang dimilikinya. Pendidikan mereka lebih menekankan bagaimana mengajar siswa (mendorong siswa), dan bagaimana merasakan atau bersikap terhadap sesuatu. Tujuan pengajaran adalah memperluas kesadaran diri sendiri dan mengurangi kerenggangan dan keterasingan dari lingkungan. Aliran yang termasuk dalm pendidikan humanistik yaitu pendidikan: konfluen, kritikisme radikal, dan mistikisme modern.
Pendidikan konfluen menekankan keutuhan pribadi, individu harus merespon secara utuh terhadap kesatuan yang menyeluruh dari lingkungan.
Pendidikan kritikisme radikal bersumber dari aliran naturalisme atau romantisme rousseau. Mereka memandang pendidikan sebagai upaya untuk membantu anak menemukan dan mengembangkan sendiri segala potensi yang dimilikinya.
Pendidikan mistikisme modern adalah aliran yang menekankan latihan dan pengebangkan kepekaan perasaan, kehalusan budi peerti, melalui sensitivity training, yoga, meditasi, dan sebagainya.
Karakteristik kurikulum humanisik
Kurikulum humanistik memiliki beberapa karakteristik, berkenaan dengan tujuan, metode, organisasi isi, dan evaluasi. Menurut para humanis, kurikulum berfungsi menyediakan pengalaman berharga untuk membantu memperlancar perkembangan pribadi murid.
Karekteristik humanistik menuntut hubungan emosional yang baik antara guru dan murid. Guru selain harus menciptakan hubungan yang hangat dengan urid, juga mampu menjadi sumber. Ia harus mampu memberikan materi yang menarik dan mampu menciptakan situasi yang memperlancar proses belajar. Sesuai prinsip yang dianut humanistik menekankan integrasi, yaitu kesatuan prilaku, bukan saja yang bersifat intelektual tetapi juga emosional dan tindakan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Teori Belajar Humanistik adalah suatu teori dalam pembelajaran yang mengedepankan bagaimana memanusiakan manusia serta peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya. Adapun tokoh dalam teori ini adalah Abraham Maslow, C. Roger dan Arthur Comb, dll.
Aliran Humanistik muncul sekitar tahun 1960-1972. Kemudian muncul bebrapa perubahan dan inovasi baru sampai dekade terakhir.
Kemudian aplikasi dalam teori ini, siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku. Serta guru hanya berperan sebagai fasilitator.
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
Merumuskan tujuan belajar yang jelas.
Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas, jujur dan positif.
Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri.
Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri.
Siswa didorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan.
Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya.
Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa.
DAFTAR PUSTAKA
B. Uno, M. Pd, Dr. Hamzah. 2006. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
Dr. Iskandar, M.Pd. 2009. Psikologi Pendidikan. Cipayung: Gaung Persada ( GP ) Press
Hadis, M. Pd, Drs. Abdul. 2006. Psikologi dalam Pendidikan. Bandung: Alfbeta
Mahmud, Drs. M. Dimyati. 1990. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: BPFE - Yogyakarta
Kamis, 04 Februari 2016
Ini Caranya Agar Bayi Punya IQ Tinggi Sejak dalam Kandungan
Setiap orang tua tentu menginginkan putra putrinya lahir dengan sehat dan tumbuh menjadi anak yang cerdas. Bila ingin memiliki anak ber-IQ tinggi, orang tua sebaiknya mempersiapkan sejak bayi masih dalam kandungan.
Para ahli kesehatan telah mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan IQ bayi saat ia dalam rahim ibu. Makan makanan sehat dan merangsang anak yang belum lahir saat masih dalam kandungan, dapat menciptakan sambungan di otak untuk meningkatkan kecerdasan dan konsentrasi, yang membantunya belajar di kemudian hari.
Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan IQ anak sejak ia masih dalam kandungan, seperti dilansir Onlymyhealth, Rabu (27/2/2013):
1. Sering mengajak janin bicara
Janin yang sedang berkembang di rahim sudah dapat mendengar suara yang terjadi di luar rahim setelah kehamilan 23 minggu. Bayi dalam kandungan memiliki kemampuan yang terbatas untuk mendengar, tetapi dapat membedakan suara ibunya.
Pakar kesehatan di NYU Brain Research Laboratories setuju bahwa mendengarkan musik yang menenangkan atau membacakan puisi untuk bayi Anda sejak ia masih dalam rahim dapat berguna untuk meningkatkan kemampuan menulis, membaca dan bahasa bayi kelak.
2. Makanan Yang Sehat
Membuat pilihan makan yang tepat tidak hanya akan menguntungkan ibu hamil tetapi juga memiliki dampak positif pada perkembangan bayi. Makanan tinggi lemak omega-3 (nabati) dan turunannya (DHA) meningkatkan perkembangan otak bayi.
Ikan berlemak seperti tuna, salmon, ikan herring, minyak ikan, dan hati yang tinggi omega-3, serta unggas dan kuning telur dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan DHA. Makanan tinggi asam folat, yang meliputi buah jeruk, brokoli, hati, sayuran berdaun hijau dan kacang-kacangan menghilangkan risiko cacat saraf otak dan tulang belakang pada bayi.
3. Merangsang bayi
Studi Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychology menyarankan bahwa cahaya redup bisa merangsang bayi saat diletakkan dekat dengan perut ibu. Jangan memberi bayi cahaya terang langsung di perut karena dapat membahayakan mata bayi.
Anda akan merasakan responsnya ketika merasakan ada gerakan menendang atau bergerak dari dalam perut. Menyentuh perut dengan lembut juga merupakan cara lain untuk merangsang si buah hati.
4. Hindari stres
Hindari stres karena dapat berdampak negatif pada perkembangan bayi. Jika Anda stres dan cemas, ada kemungkinan akan membuat bayi cemas juga karena Anda berbagi hormon dengannya. Untuk menghindari stres, praktikkan latihan relaksasi atau yoga prenatal.
5. Hentikan kebiasaan tak sehat
Berhentilah merokok, minum alkohol atau mengonsumsi obat-obatan karena dapat menghambat perkembangan otak bayi, menurut sebuah studi yang dilakukan di Moffitt Cancer Center.
Para ahli kesehatan telah mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan IQ bayi saat ia dalam rahim ibu. Makan makanan sehat dan merangsang anak yang belum lahir saat masih dalam kandungan, dapat menciptakan sambungan di otak untuk meningkatkan kecerdasan dan konsentrasi, yang membantunya belajar di kemudian hari.
Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan IQ anak sejak ia masih dalam kandungan, seperti dilansir Onlymyhealth, Rabu (27/2/2013):
1. Sering mengajak janin bicara
Janin yang sedang berkembang di rahim sudah dapat mendengar suara yang terjadi di luar rahim setelah kehamilan 23 minggu. Bayi dalam kandungan memiliki kemampuan yang terbatas untuk mendengar, tetapi dapat membedakan suara ibunya.
Pakar kesehatan di NYU Brain Research Laboratories setuju bahwa mendengarkan musik yang menenangkan atau membacakan puisi untuk bayi Anda sejak ia masih dalam rahim dapat berguna untuk meningkatkan kemampuan menulis, membaca dan bahasa bayi kelak.
2. Makanan Yang Sehat
Membuat pilihan makan yang tepat tidak hanya akan menguntungkan ibu hamil tetapi juga memiliki dampak positif pada perkembangan bayi. Makanan tinggi lemak omega-3 (nabati) dan turunannya (DHA) meningkatkan perkembangan otak bayi.
Ikan berlemak seperti tuna, salmon, ikan herring, minyak ikan, dan hati yang tinggi omega-3, serta unggas dan kuning telur dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan DHA. Makanan tinggi asam folat, yang meliputi buah jeruk, brokoli, hati, sayuran berdaun hijau dan kacang-kacangan menghilangkan risiko cacat saraf otak dan tulang belakang pada bayi.
3. Merangsang bayi
Studi Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychology menyarankan bahwa cahaya redup bisa merangsang bayi saat diletakkan dekat dengan perut ibu. Jangan memberi bayi cahaya terang langsung di perut karena dapat membahayakan mata bayi.
Anda akan merasakan responsnya ketika merasakan ada gerakan menendang atau bergerak dari dalam perut. Menyentuh perut dengan lembut juga merupakan cara lain untuk merangsang si buah hati.
4. Hindari stres
Hindari stres karena dapat berdampak negatif pada perkembangan bayi. Jika Anda stres dan cemas, ada kemungkinan akan membuat bayi cemas juga karena Anda berbagi hormon dengannya. Untuk menghindari stres, praktikkan latihan relaksasi atau yoga prenatal.
5. Hentikan kebiasaan tak sehat
Berhentilah merokok, minum alkohol atau mengonsumsi obat-obatan karena dapat menghambat perkembangan otak bayi, menurut sebuah studi yang dilakukan di Moffitt Cancer Center.
Selasa, 02 Februari 2016
Teknologi Pendidikan
1. Identifikasi topik – topik yang
relevan dengan program POD dan peningkatan diri peserta didik orang dewasa.
Berikan alasan jawaban anda!
Program pendidikan orang dewasa meliputi lembaga kursus,
pusat pendidikan & pelatihan, pusat kegiatan belajar dan masih banyak lagi.
Semua topik relevan dengan program POD, mulai dari sejarah POD sampai aspek
manajemen lembaga POD. Pendidikan Orang Dewasa adalah suatu proses dimana
orang-orang yang sudah memiliki peran sosial sebagai orang dewasa melakukan
aktivitas belajar yang sistematik dan berkelanjutan dengan tujuan untuk membuat
perubahan dalam pengetahuan, sikap, nilai-nilai, dan keterampilan. Topik – topik
tersebut akan mengkaji bagaimana menjadi orang dewasa yang melakukan akvitas
belajar sesuai dengan tujuan pendidikannya.
2. Evaluasi program POD dapat
menggunakan Kirkpatrick. Menurut anda 4 model evaluasi ini apakah dapat
diterapkan setelah diklat berlangsung ? jelaskan jawaban anda!
4 model evaluasi ini dapat
diterapkan setelah diklat berlangsung. 4 model ini meliputi
(1) Reaction, (2)
Learning, (3) Behaviour, (4) Result. :
a. Rection
Evaluasi ini dilakukan pada saat dan
setelah menerima materi pelatihan, yakni evaluasi untuk mengukur minat dan
reaksi peserta atas pelatihan.Evaluasi reaksi ini sama halnya dengan mengukur
tingkat kepuasan peserta pelatihan.
b. Learning
Evaluasi ini dilakukan untuk mengukur
tingkat pemahaman peserta setelah menerima pembahasan dari para pelatih setiap
sesi pelatihan. Penilaian terhadap tingkat pemahaman ini sangat penting untuk
mengetahui apakah peserta materi yang diberikan dalam pelatihan.Pada level
evaluasi ini untuk mengetahui sejauh mana daya serap peserta program pelatihan
pada materi pelatihan yang telah diberikan, dan juga dapat mengetahui dampak
dari program pelatihan yang diikuti para peserta dalam hal peningkatan
knowledge, skill dan attitude mengenai suatu hal yang dipelajari dalam
pelatihan.Untuk mengetahuinya, biasanya peserta diberikan tes sebelum dan
sesudah pelatihan.
c. Behavior
Evaluasi ini dilakukan setelah
pelatihan. Tujuannya untuk melihat bagaimana perilaku peserta setelah mengikuti
pelatihan, langkah – langkah apa yang sudah dilakukan serta bagaimana sikap stake
holder terhadap hasil pelatihan.diharapkan setelah mengikuti pelatihan terjadi
perubahan tingkah laku peserta dalam melakukan pekerjaan. Dan juga untuk
mengetahui apakah pengetahuan, keahlian dan sikap yang baru sebagai dampak dari
program pelatihan, benar-benar dimanfaatkan dan diaplikasikan di dalam perilaku
kerja sehari-hari dan berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan
kinerja/kompetensi di unit kerjanya masing-masing.
d. Result
Level ini untuk menguji dampak
pelatihan terhadap kelompok kerja atau organisasi secara keseluruhan. Sasaran
pelaksanaan program pelatihan adalah hasil yang nyata yang akan disumbangkan
kepada perusahaan/organisasi sebagai pihak yang berkepentingan.
3. Manajemen waktu, prestasi diri dan
makna hidupmempunyai hubungan linier. Jelaskan makna pertanyaan tersebut dan
berikan contoh.
Manajemen waktu adalah cara bagaimana seseoran mengatur
waktunya untuk kegiatan – kegiatan yang dilakukan sehingga ia dapat
melakukannya kegiatan itu dengan baik. Prestasi diri merupakan merupakan suatu
penghargaan terhadap individu karena sudah melakukan sesuatu yang membanggakan.
Sedangkan makna hidup merupakan kehidupan yang bermakna atau arti dari
kehidupan yang dapat menyadarkan diri seseorang bahwa hal itu merupakan makna
yang perlu disyukuri dalam kehidupan.
Contoh: Seorang anak laki - laki
berusia 17 tahun berhasil menjadi juara Hafidz Al-Qur’an di salah satu Program
Televisi. Untuk menjadi juara, anak itu harus membagi waktunya untuk
menghafalkan Al-Qur’an dan kegiatanya bersekolah. Ia pun menjadi juara kelas.
Manajemen waktu anak tersebut sangatlah baik sehingga ia mampu menghafal
Al-Qur’an untuk berkompetisi dan mempertahankan nilai pelajarannya. Kemudian
dengan ia menghafalkan Al – Qur’an (ayat dan artinya) ia juga mampu
melaksanakan kehidupan dengan ilmu. Didalam kitab suci Al – Qur’an dijelaskan mengenai
ilmu. Maka anak itu mampu menyesuaikannya dan diterapkan didalam kehidupannya.
4. Manajemen lembaga POD bertumpu kepada
pemimpin dan budaya organisasi. Jelaskan dua aspek tersebut mampu menunjang
keberhasilan lembaga POD. Berikan contoh!
Disetiap organisasi pastilah ada seorang pemimpin yang
mengatur segala hal yang ada didalam organisasi itu. Disetiap organisasi juga
mempunyai budaya merupakan sebuah sistem makna bersama yang dianut oleh para
anggota yang membedakan suatu organisasi dari organisasi-organisasi lainnya.
Sistem makna bersama ini adalah sekumpulan karakteristik kunci yang dijunjung
tinggi oleh organisasi. Kedua hal tersebut merupakan tumpuan sebuah manajemen
lembaga POD.
Contoh : Didalam lembaga keuangan
syariah, pemimpin perusahaan menciptakan program mengaji bersama setiap hari pada
jam setengah 8 untuk yang muslim. Hal ini merupaka budaya organisasi yang
membedakan lembaga ini dengan lembaga yang lain. Dengan adanya program ngaji
ini, maka, seluruh peserta dapat mengetahui bagaimana menjadi pribadi yang baik
dalam melayani serta berpegang kepada Al – Qur’an agar lebih
baik lagi dalam memberikan penajaman tentang nilai, keyakinan, dan sikap terhadap
lingkungan kerja yang syariah.
PENILAIAN PEMBELAJARAN BAHaSA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR
A. PENILAIAN BERBASIS KELAS
1.Evaluasi adalah identifikasi untuk melihat suatu program
yang telah di rencanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak, &
dapat pula melihat tingkat efisiensi pelaksanaanya berhubungan dengan keputusan
nilai (value judgement).
2.Penilaian (assesment) adalah penerapan berbagai cara &
penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh sejauh mana hasil belajar
siswa.
3.Pengukuran (measurement ) proses pemberian angka atau usaha
memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan bila seorang siswa mencapai
karakter tertentu.
4.Tes adalah cara penilaian yang di rancang & dilaksanakan
kepada siswa pada waktu & tempat tertentu serta memenuhi syarat yang jelas.
B. PENILAIAN KELAS
oProses pengumpulan &
penggunaan informasi oleh guru untuk pemberian nilai terhadap hasil belajar
siswa berdasarkan tahapan belajarnya sehingga di dapat profil kemampuan siswa
sesuai dengan daftar kompetensi yang telah di tetapkan (Depdiknas 2006).
oTeknik Penilaian : Harus
sesuai dengan karakteristik indikator, standar kompentens, dan kompetensi.
oTujuan penilaian: Sebagai
usaha memberikan gambaran tentang perkembangan hasil belajar siswa.
oManfaat penilaian :
memberikan umpan balik bagi peserta didik & memantau kemajuan maupun
kesulitan yang di temui siswa.
BEBERAPA
KRITERIA YANG HARUS DI PERHATIKAN GURU DI KELAS
oProses pengumpulan &
penggunaan informasi oleh guru untuk pemberian nilai terhadap hasil belajar
siswa berdasarkan tahapan belajarnya sehingga di dapat profil kemampuan siswa
sesuai dengan daftar kompetensi yang telah di tetapkan (Depdiknas 2006).
oTeknik Penilaian : Harus
sesuai dengan karakteristik indikator, standar kompentens, dan kompetensi.
oTujuan penilaian: Sebagai
usaha memberikan gambaran tentang perkembangan hasil belajar siswa.
oManfaat penilaian :
memberikan umpan balik bagi peserta didik & memantau kemajuan maupun
kesulitan yang di temui siswa.
BEBERAPA
KRITERIA YANG HARUS DI PERHATIKAN GURU DI KELAS
1.Validitas
2.Reliabilitas
3.Menyeluruh
4.Berkesinambungan
5.Obyektif
6.Mendidik
C. PENGUMPULAN INFORMASI
BELAJAR
Cara penilaian yang
dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa harus dirancang dengan memperhatikan
hal – hal berikut :
1.Mengacu
pada kurikulum
2.Bersifat
adil bagi seluruh siswa
3.Bermanfaat
bagi siswa
4.Memberi
informasi yang lengkap
Alat penilaian pada
masing – masing cara penilaian :
a.Penilaian
tertulis
b.Penilaian
Kinerja
c.Penilaian
produk
d.Penilain
portofolio
D. PENILAIAN PEMBELAJARAN
BAHASA INDONESIA
Tujuan Evaluasi menurut
Kosadi dkk, di bagi menjadi dua yaitu :
1.Elemen
Bahasa
2.Keterampilan
bahasa
PENILAIAN PEMBELAJARAN
BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR
A.Tes Pembelajaran Bahasa
Sastra Indonesia
Tes Kemampuan Menyimak
Bahan tes yang di ujikan
secara lisan kepada peserta didik.
1. Penggunaan media rekaman
2. Harus memperhatikan :
tingkat kesulitan wacana, isi cakupannya, dan jenis – jenis wacana.
Tujuan Tes kemampuan
membaca
1.Menguji
kemampuan siswa pengucapan & penulisan bahasa.
2.Tidak
memerlukan waktu yang banyak.
3.Membiasakan
peserta didik menangkap melakukan yang di katakan orang secara cepat.
2. TES KEMAMPUAN BAHASA
a.Penggunaan bahasa
lisan
b.Penggunaan isi
pembicaraan
c.Penguasaan teknik dan
keterampilan berbicara
Istilah yang digunakan dalam
melakukan evaluasi
Pengukuran (measurement)
Penilaian (assessment)
Evaluasi (evaluation)
Cat:
Ketiga istilah tersebut akan digunakan bergantian tanpa mengubah makna
pembahasan
Bentuk – Bentuk Kemampuan Berbicara
1.Pembicaraan
berdasarkan gambar.
2.Wawancara
3.Bercerita
4.Pidato
5.Diskusi
TES KEMAMPUAN MEMBACA
TES KEMAMPUAN MEMBACA
Jenis membaca dalam pengajaran Bahasa
Indonesia yaitu tes kecepatan membaca efektif.
Tes Membaca harus menyangkut kelancaran
pemahaman sistem lambang bunyi dan
pemahaman yang di baca.
Minggu, 31 Januari 2016
FUNGSI FILSAFAT PENDIDIKAN TERHADAP ILMU PENDIDIKAN
FUNGSI FILSAFAT PENDIDIKAN TERHADAP ILMU PENDIDIKAN
Abstrak
Tulisan ini membahas tentang filsafat pendidikan terhadap ilmu pendidikan. Filsafat merupakan acuan untuk meningkatkan mutu pendidikan., disadari atau tidak, nampaknya dapat mempengaruhi situasi dan kondisi yang memprihatinkan seperti saat ini, kita menumpukan seluruh harapan kepada pendidikan, karena sadar bahwa hanya melalui pendidikan kita dapat
memperbaiki hidup. Manusia tidak terlepas dari jangkauan pikirannya yang mencirikan hakekat manusia dan berpikirlan dia menjadi manusia, dan selanjutnya Ilmu pengetahuan berkembang dari rasa ingin tahu, yang merupakan ciri khas manusia. Ilmu pengetahuan merupakan upaya khusus manusia untuk menyingkapkan realitas, supaya memungkinkan manusia berkomunikasi satu sama lain, membangun dialog dengan mengakui yang lain, dan meningkatkan harkat kemanusiaannya.
Kata Kunci: Filsafat, Ilmu Pendidikan
A. Pendahuluan
B. Filsafat menyikapi ilmu pendidikan
D. Kesimpulan
Abstrak
Tulisan ini membahas tentang filsafat pendidikan terhadap ilmu pendidikan. Filsafat merupakan acuan untuk meningkatkan mutu pendidikan., disadari atau tidak, nampaknya dapat mempengaruhi situasi dan kondisi yang memprihatinkan seperti saat ini, kita menumpukan seluruh harapan kepada pendidikan, karena sadar bahwa hanya melalui pendidikan kita dapat
memperbaiki hidup. Manusia tidak terlepas dari jangkauan pikirannya yang mencirikan hakekat manusia dan berpikirlan dia menjadi manusia, dan selanjutnya Ilmu pengetahuan berkembang dari rasa ingin tahu, yang merupakan ciri khas manusia. Ilmu pengetahuan merupakan upaya khusus manusia untuk menyingkapkan realitas, supaya memungkinkan manusia berkomunikasi satu sama lain, membangun dialog dengan mengakui yang lain, dan meningkatkan harkat kemanusiaannya.
Kata Kunci: Filsafat, Ilmu Pendidikan
A. Pendahuluan
Aguste Rodin salah seorang pemahat termashur membuat patung Homo Sapiens, manusia yang berfikir. Dimana dalam bayangan Aguste Rodin menggambarkan bahwa manusia senantiasa berpikir. Setiap saat dari hidupnya, sejak dia lahir sampai masuk liang lahat, dia tak pernah berhenti berpikir. Hampir tak ada masalah yang menyangkut peri kehidupan yang terlepas dari jangkauan pikirannya, dari soal paling remeh sampai soal paling asasi. Berpikir itulah yang mencirikan hakekat manusia dan karena berpikirlah dia menjadi manusia.
Sejalan dengan manusia yang tidak terlepas dari jangkauan pikirannya yang mencirikan hakekat manusia dan berpikirlan dia menjadi manusia, yang menurut Dr. Anton Bakker dan Drs. Achmad Charris Zubair dalam bukunya Metodologi Penelitian Filsafat mengutarakan bahwa Ilmu pengetahuan berkembang dari rasa ingin tahu, yang merupakan ciri khas manusia. Ilmu pengetahuan merupakan upaya khusus manusia untuk menyingkapkan realitas, supaya memungkinkan manusia berkomunikasi satu sama lain, membangun dialog dengan mengakui yang lain, dan meningkatkan harkat kemanusiaannya.
Selanjutnya manusia juga mengalami kebutuhan yang lebih mendalam, yaitu untuk menemukan tata susunan yang sesungguhnya dalam kenyataannya. Berbeda dengan makhluk yang lain yang hubungannya dengan alam bersifat alamiah dan berupa ketundukan mutlak, hubungan manusia dengan alam mengandung unsur ikhtiar, atau upaya untuk hidup secara manusiawi.
Gambaran ini menunjukkan bahwa dalam berpikir, manusia terlihat dari aspek kemanusiaannya jika dia memikirkan kemajuannya., dan kemajuan kemajuan inilah salah satu isyarat bahwa dalam proses berpikir manusia senangtiasa berupaya berbenah diri untuk hari esok lebih baik dari hari ini, demikian pula pendidikan., pendidikan tidak akan selangkah lebih maju jika hanya diterima apa adanya, namun perlu adanya perbaikan dalam bentuk suatu upaya untuk proses berpikir secara mendalam.
Oleh karenanya dengan memahami filsafat dengan baik maka orang akan dapat mengembangkan secara konsisten ilmu-ilmu pengetahuan yang dipelajari. Filsafat mengkaji dan memikirkan tentang hakikat segala sesuatu secara menyeluruh, sistematis, terpadu, universal dan radikal yang hasilnya menjadi pedoman dan arah dari perkembangan ilmu-ilmu yang bersangkutan.
Oleh karenanya yang membantu filsafat pendidikan terlaksanan dengan baik, maka terdapat beberapa teori yang menjadi acuan dalam menopang terselenggaranya pendidikan yang maksimal.
Teori dimaksud menurut Prof.HM.Arifin, M.Ed, yaitu:
1. Etika atau teori tentang Nilai
2. Teori ilmu pengetahuan atau Epistimologi dan
3. Teori tentang realitas atau kenyataan dan yang ada dibalik kenyataan yang disebut Metafisika.
4. Permasalahan yaang diidentifikasikan dalam ketiga disiplin ilmu ini menjadi materi yang dibahas di dalam filsafat pendidikan.
Masyarakat zaman modern saat ini telah meyakini tentang eksistensi pendidikan dari yang sifatnya unum sampai kepada yang khusus. Keyakinan ini makin hari diperkuat dengan berkembangnya metode pengukuran dan cara analisa yang dapat dipecaya untuk menghasilkan data yang dipercaya pula. Dengan bahasa ilmiah lazim dikatakan “Apa yang ada itu dapat dihayati karena dapat diukur.
Menyikapi gambaran di atas menurut Prof. Imam Barnadib, M.A., Ph.D., dalam bukunya Filsafat Pendidikan Sistem dan Metode, mengutarakan bahwa dan mempertanyakan bahwa apakah yang seharusnya pendidik lakukan untuk memimpin anak didik itu untuk mewujudkan tujuan di atas.
Keterangan ini membutuhkan pemikiran yang mendalam untuk dapat ditetapkan arah yang seharusnya diupayakan penerapannya. Dari berbagai upaya yang diterapkan oleh segenap pakar pendidikan terhadap kemajuan pendidikan, namun kenyataannya selalu ber-evolusi., artinya selalu ada peningkatan pemahaman yang lebih kongkrit untuk dipahami bersama., dan makin maju peradaban manusia, maka selalu dibarengi dengan cara berfikir yang semakin kritis., dan pemikiran kritis inilah mengantar filsafat pendidikan mendapatkan jatidirinya sebagai disiplin ilmu yang mengantar segenap para ilmuan untuk memperoleh hasil maksimal., yang dalam hal ini argumen - argumen agama sebagai acuan untuk diuji kebenarannya melalui pemikiran mendalam yang pada gilirannya menghasilkan sesuatu yang sangat berguna bagi kesejahteraan manusia. Masalah pokok yang akan dibahas dalam tulisan ini, yaitu bagaimana Fungsi Filsafat Pendidikan terhadap Ilmu Pendidikan.
B. Filsafat menyikapi ilmu pendidikan
Pengetahuan yang merupakan produk kegiatan berpikir merupakan obor pencerahan peradaban dimana manusia menemukan dirinya dan menghayati hidup dengan lebih sempurna. Berbagai peralatan dikembangkan manusia untuk meningktkan kualitas hidupnya dengan menerapkan pengetahuan yang diperolehnya. Proses penemuan dan penerapan itulah yang menghasilan kapak
dan batu zaman dulu sampai komputer zaman ini. Argumen ini menunjukkan bahwa berpikir kritis pada dasarnya merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan.
Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan. Oleh karenanya untuk mendapatkan pengetahuan, ilmu membuat beberapa andaian (asumsi) mengenai obyek-obyek empiris. Asumsi ini perlu, sebab pernyataan asumtif inilah yang memberikan arah dan landasan bagi kegiatan penelahan kita.
Maka dengan itu sebuah pengetahuan baru dianggap benar selama kita bisa menerima asumsi yang dikemukakaknya. Filsafat merupakan acuan untuk meningkatkan mutu pendidikan., disadari atau tidak, nampaknya dapat mempengaruhi situasi dan kondisi yang memprihatinkan seperti saat ini, kita menumpukan seluruh harapan kepada pendidikan, karena sadar bahwa hanya melalui pendidikan kita dapat memperbaiki hidup. Memang seharusnya demikian, tetapi mengapa kehidupan bangsa ini tidak juga mengalami perbaikan setelah lebih dari 60 tahun merayakan kemerdekaannya. Mengapa pendidikan yang kita selenggarakan selama rentang waktu itu, dengan biaya yang tentu saja tidak sedikit, belum juga mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa., dengan keadaan ini menggabarkan ada masalah dengan pendidikan kita; itulah jawabannya. Sistem pendidikan kita terbukti belum berhasil mengeluarkan bangsa ini dari berbagai permasalahan hidup yang mengimpitnya.
Dari keterangan ini terlihat jelas dan lebih terfokus terhadap sistem pendidikan yang belum maksimal rumusannya, sehingga hampir setiap ada pergantian pucuk pimpinan negara, pemikiran rumusan kurikulum juga mengalami perobahan. Perobahan demi perobahan terus berlanjut yang arahnya belum tuntas konsep satu dalam penerapannya untuk diimplementasikan
maksimal, muncul lagi konsep baru yang terjadi lagi pergantian nama yang sampai saat ini dikenal kurikulum 2013. Artinya lain pimpinan lain pula konsepnya., dan disitulah peranan Filsafat untuk terus menerus melihat aspek - aspek yang kurang untuk disempurnakan.
Untuk mencapai suatu kesempurnaan dalam beraktivitas sesuatu yang sangat sulit kita lakukan, namun jika sekiranya para pemimpin ingin ikhlas dan menjabarkan segenap programnya untuk kemajuan pendidikan, dapat dipastikan bahwa bangsa ini akan maju selangkah dengan situasi pendidikan bangsa lain. Kemajuan suatu pendidikan merupakan langkah awal menuju kemajuan di bidang lainnya. Kemajuan-kemajuan bangsa bangsa yang terkemuka saat ini bukan ditunjang dengan keadaan alamnya yang melimpah, tetapi sangat ditunjang dengan kamajuan pendidikan manusianya. Baik itu Amerika, Jepang, Jerman maupun bangsa bangsa di Eropa Timur lainnya.
Memajukan suatu pendidikan dampaknya bukan hanya terasa bagi individu yang bersangkutan, namun dapat memberikan dampak yang positif terhadap segenap manusia yang mempergunakannya.
C. Fungsi Filsafat dalam ilmu pendidikan
Filsafat bukanlah hasil dari riset atau eksperimen. Benar atau salahnya tidak mungkin diuji dengan fakta. Filsafat adalah hasil pemikiran. Maka pemikiran pula yang akan menerima atau menolak keterangan ini mengisyaratkan bahwa filsafat adalah hasil pemikiran yang tentunya dalam proses peningkatan ilmu terdapat klasifikasi, yang pro dan kontra. Pendapat yang mengatakan bahwa filsafat itu adalah ilmu, sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa filsafat itu tidak terkait dengan ilmu. Menurut Alfred Whitehead sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof.Dr. HM. Rasjidi dalam bukunya Filsafat Agama “Banyak orang berkata, bahwa agama dan ilmu tidak akan bertabrakan (clash), sebab mereka mempunyai bidang yang berlainan.
Gambaran pernyataan di atas, menunjukkan bahwa baik agama maupun filsafat pada dasarnya mempunyai kesamaan, keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni mencapai kebenaran yang sejati. Agama yang dimaksud di sini adalah agama “samawi”, yaitu agama yang diwahyukan Tuhan kepada Nabi dan Rasul-Nya.
Walaupun antara kebenaran yang disajikan oleh agama mungkin serupa dengan kebenaran yang dicapai oleh filsafat, tetapi tetap ada agama tidak bisa disamakan dengan filsafat. Perbedaan ini disebabkan cara yang berbeda. Di satu pihak agama ber-alat-kan kepercayaan, di lain pihak filsafat berdasarkan penelitian yang menggunakan potensi manusiawi, dan meyakininya sebagai satu - satunya alat ukur kebenaran, yaitu akal manusia namun demikian tidak mutlak filsafat tidak bisa mengkaji agama untuk menemukan kebanaran-Nya.
Menyikapi masalah kebenaran dalam filsafat dan kebenaran Agama pada umumnya dimaknai di satu sisi agama ber-alat-kan kepercayaan, di lain pihak filsafat berdasarkan penelitian yang menggunakan potensi manusiawi, jika kebenaran yang dibicarakan dengan mempergunakan alat yang sama seperti akal manusia dan terdapat perbedaan yang gambarannya tidak bisa dipertemukan, pada dasarnya hal yang kita cari dapat dikatakan bukan kebenaran.
Karena namanya kebenaran walaupun bagaimana wujudnya tetap mengandung makna (kebenaran)., makna lain menurut Drs. H.M. Amir Said (almarhum), mengatakan bahwa kalau dia memang berlian walaupun di dalam lumpur tetap menampakkan cahaya aslinya. Artinya dalam membicarakan kebenaran pastilah wujudnya akan nampak perbedaan dengan bukan kebenaran.
Kebenaran yang diwujudkan ajaran Agama dan hubungannya dengan kebenaran Filsafat sukar untuk dipisahkan, jika hal kebenaran yang kita fikirkan betul-betul kebenaran, karena kebenaran wujudnya sama, tidak berobah dan bahkan sangat menyolok perbedaannya dengan yang namanya bukan kebenaran. Arti dari perbedaan antara kebenaran dan bukan kebenaran ibarat siang dan malam. Kecuali jika di-akali atau diserupakan, sehingga dia seakan menampakkan suatu kebenaran, hal ini bisa terjadi jika pelakunya tidak dibarengi dengan iman.
Peranan imanlah yang dapat mengantar suatu pesanuntuk dipikirkan lebih jauh dan menghasilkan suatu kebenaran yang bermanfaat dalam bidang filsafat pendidikan. Sejalan dengan keterangan di atas, semisal kebenaran kisah Nabi Musa dalam membelah lautan dengan tongkat., peristiwa besar ini sangat menarik jika dicermati dari aspek filsafat pendidikan, karena mengandung dua unsur yang kelihatannya bertentangan. di satu sisi kebenaran dalam filsafat dan kebanaran Agama di sisi yang lain, agama ber-alat-kan kepercayaan, di lain pihak filsafat berdasarkan penelitian yang menggunakan potensi manusiawi. Kisah dimaksud tercermin dalam Al-Qur’an Surah Al-A’Araf ayat 138
QS: Al-A’Araf (07:138)
________ ____________ ________ _ _______ __ ______
Artinya: Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu
Sebagaimana sejarah meriwayatkan bahwa waktu Nabi Musa dan pengikutnya di kejar oleh Firaun, mereka tersudut di pinggiran laut merah, ketika Firaun datang, Nabi Musa mendapat perintah-Nya untuk memukulkan tongkatnya ke dalam laut, maka seketika itupula laut terbelah., maka Nabi Musa dan pengikutnya mengarunginya sampai laut itu tertutup kembali. Selanjutnya
pada Surah yang sama yaitu: Di dalam QS Al-A’Araf (07:160)
__________ __!_"__#__ $_ %_&
Artinya: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu!16".
Pada ayat digambarkan bahwa Nabi Musa mempergunakan tongkat untuk membelah batu., dalam konteks ini terlihat ada tiga aspek menurut penjelasan sebagai mana yang termaktub di QS.Al-A’Araf ayat 160, yang menggambarkan bahwa ayat ini mengandung pengertian nilai nilai pendidikan jika difikirkan secara mendalam pada aspek-aspek yaitu:
1. Nabi Musa as.,
2. aspek yang lain adalah tongkat yang dapat membelah batu,
3.Menghasilkan atau mengeluarkan air.
Arti kongkrit jika dicermati dari segi semantik akan nampak yaitu, ada pelaku, ada alat dan ada hasil. Nabi Musa as dalam membelah lautan harus diposisikan sebagai manusia super pilihan yang kualitas ke-ilmuannya langsung dari Allah sebagaimana gambaran ayat di atas,. Sedangkan kita adalah manusia biasa yang serba kekurangan, sudah barang tentu tidak boleh memposisikan sama antara Nabi Musa dengan manusia biasa. Oleh karenanya jika dilihat dari aspek filsafat pendidikan, menunjukkan bahwa gambaran ini mengandung arti dimana Nabi Musa as merupakan salah seorang yang diberikan ke-ilmu-an untuk dipergunakan dalam mengantisipasi situasi daratan maupun lautan untuk dijadikan penghubung antara pesisir satu dengan pesisir lainnya.
Dapat dikatakan bahwa kisah Nabi Musa as., pada dasarnya hanya sebahagian kecil apa yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an (agama), sekedar petunjuk dan dipikirkan dalam pembelajaran umat manusia, apakah dapat ditangkap maknanya dari peristiwa itu atau tidak. Pertanyaan selanjutnya yang muncul, mengapa Nabi Musa dan pengikutnya menuju ke-arah laut merah ketika Firaun mengejar mereka. Secara logika pastilah menemui jalan buntu, karena berhadapan dengan laut.. Jika dikritisi lebih dalam dari aspek filsafat pendidikan keadaan ini, maka sangat jelas maksud-Nya, bahwa Allah ingin memperlihatkan kebesarannya yaitu:
1. Memperlihatkan Kekuasaan-Nya, bahwa Allah akan menunjukkan jalan keluar kepada hamba-hamba-Nya yang bekerja keras meski dihalangi oleh jalan yang tersulit sekalipun;
2. Allah akan memperlihatkan Rahmat-Nya kepada segenap manusia, bahwa Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang;
3. Allah memperlihatkan ilmu-Nya yang diberikan kepada Nabi Musa membelah lautan, agar dipergunakan untuk menolong manusia meski dia tidak sekeyakinan. Artinya, Allah memberi pembelajaran kepada manusia agar generasi selanjutnya dapat mengimplementasikan untuk kemaslahatan
ummat manusia.
Dalam konteks tongkat, dapat dimaknai bahwa tongkat adalah fasilitas (alat) yang dipergunakan manusia untuk menyeberangi lautan. Artinya gambaran yang diberikan Allah kepada Nabi Musa as, merupakan gambaran pembelajaran untuk diimplementasi bagi generasi selanjutnya agar dapat berbuat sesuatu yang bermanfaat, sekalipun itu tidak masuk akal untuk dilaksanakan.
Dari aspek kekinian dari sejarah Nabi Musa as., diterjemahkan oleh bangsa Barat khusunya Amerika Serikat yang notabenenya keturunan Yahudi, mengimplementasikan sejarah ini dengan wujud sebenarnya., di mana Bangsa Barat kalau ingin menuju ke Afrika harus melalui tanjung Harapan, dan berputar separuh Afrika untuk sampai ke Negara Teluk, dan memakan waktu berbulan bulan untuk mengarunginya. Hal ini dilakukan berulang ulang selama ratusan tahun.
Dari situasi yang melelahkan sebagai mana keterangan di atas, ada inisiatif para pakar di Amerika Serikat untuk menterjemahkan makna sejarah Nabi Musa untuk membelah gunung dan menghasilkan air, gambaran ini sangat nyata, bahwa untuk mengurangi biaya dan waktu menembus Afrika dengan cepat harus mempergunakan metode Nabi Musa untuk membelah gunung menjadikan terusan. Proyek yang tersusun rapi dengan sumber daya yang tersedia maka terwujudlah kisah Nabi Musa yang sebenarnya, yang kita ketahui bersama bahwa terusan Suez merupakan jalan pintas untuk mempertemukan Barat dengan Asia.
D. Kesimpulan
Pengetahuan yang merupakan produk kegiatan berpikir merupakan obor pencerahan peradaban dimana manusia menemukan dirinya dan menghayati hidup dengan lebih sempurna. Berbagai peralatan dikembangkan manusia untuk meningktkan kualitas hidupnya dengan menerapkan pengetahuan yang diperolehnya. Proses penemuan dan penerapan itulah yang menghasilan kapak dan batu zaman dulu sampai komputer zaman ini.Manusia tidak terlepas dari jangkauan pikirannya yang mencirikan hakekat manusia dan berpikirlan dia menjadi manusia, dan selanjutnya Ilmu pengetahuan berkembang dari rasa ingin tahu, yang merupakan ciri khas manusia.
Ilmu pengetahuan merupakan upaya khusus manusia untuk menyingkapkan realitas, supaya memungkinkan manusia berkomunikasi satu sama lain, membangun dialog dengan mengakui yang lain, dan meningkatkan harkat kemanusiaannya. Oleh karenanya harkat kemanusiaan dapat terangkat jika mengkaji aspek-aspek yang bersifat ke-Ilahi-an, artinya tidak menyepelekan fakta agama atau sejarah para Nabi, oleh karenanya dalam mengkaji fakta Nabi Musa as., dan diterjemahkan oleh bangsa Barat khusunya Amerika Serikat yang notabenenya keturunan Yahudi. Dalam mengimplementasikan sejarah ini dengan wujud sebenarnya, dan mempergunakan metode Nabi Musa dalam membelah gunung, maka wujud nyata dari peristiwa agama dapat memberikan manfaat bagi manusia untuk kemanusiaannya.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin H.M., Prof.M.Ed., 1996, Filsafat Pendidikan Islam, Cet. V; Jakarta:
Bumi Aksara
Bakker Anton, Dr., dkk, 1990, Metodologi Penelitian Filsafat, Cet: I,
Yogyakarta: Kanisius (anggota Ikapi)
Barnadib Imam, Prof. Ph.D.,M.A., 1987, Filsafat Pendidikan Sistem dan
Metode Cet. VII; Yogyakarta: Andi Offset
Praja, S. Uhaya, Dr.., 1997, Aliran Aliran Filsafat dan Etika, (suatu pengantar)
Cet. Bandung: Yayasan Piara
Rasjidi HM., Dr. Prof., 1978, Filsafat Agama, Cet. IV, Jakarta: Bulan Bintang
Said Amir HM., Drs. Ceramah Ilmiah dengan Civitas Akademika STAIN Sultan
Amai Gorontalo, Tahun 1996
Sidigazalba, 1992, Sistematika Filsafat “pengantar kepada dunia filsafat”, Cet.
Jakarta: Bulan Bintang
Suriasumantri S., Jujun., 2001, Ilmu dalam Perspektif, Cet.XV, Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia
Sutrisno , dkk., 2012, Pendidikan Islam ´berbasis problem social Jakarta: Ar-
Ruzz Media, cet.I
Langganan:
Postingan (Atom)