BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berdirinya Museum Geologi sangat erat kaitannya dengan sejarah penyelidikan geologi di Indonesia yang telah dimulai sejak tahun 1850-an, oleh “Dienst van het Mijnwezen”, yang berkedudukan di Bogor (1852-1866). Lembaga ini kemudian pindah ke Jakarta (1866-1924) dan akhirnya pindah ke Bandung, menempati Gedung Gouvernement Bedrijven (sekarang Gedung Sate).
Para ahli geologi dalam melakukan penyelidikan/penelitian geologi di lapangan selalu membawa contoh batuan, mineral dan fosil untuk diteliti di laboratorium. Mulai tahun 1922 penyelidikan geologi di Indonesia semakin meningkat sehingga contoh batuan, mineral dan fosil yang dikumpulkan dari berbagai daerah di wilayah Indonesia semakin melimpah. Berbagai contoh tersebut memerlukan tempat khusus untuk didokumentasikan, sehingga pada tahun 1928 dibangunlah gedung yang diperuntukkan bagi Laboratorium Geologi di Rembrandt Straat (sekarang Jl. Diponegoro). Gedung ini dirancang dengan gaya arsitektur “art deco” oleh arsitek Belanda Ir. H. Menalda van Schouwenburg. Kemudian timbul suatu gagasan untuk memperlihatkan koleksi tersebut kepada masyarakat luas, sehingga pada 16 Mei 1929 bertepatan dengan Konggres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke IV, diresmikanlah gedung tersebut sebagai Museum Geologi dengan nama Geologische Museum.
Berbagai koleksi Museum Geologi pada waktu itu disimpan dan ditata di dalam lemari-lemari kaca (vitrin). Setiap koleksi dilengkapi label yang menginformasikan nomor koleksi, nama koleksi, tempat ditemukan dan kolektornya. Sistem peragaan seperti itu relatif tidak berubah sampai tahun 1998, namun demikian pengunjung yang datang ke Museum Geologi setiap tahunnya terus meningkat, khususnya pelajar.
1.2 Pembatasan Masalah
Untuk dapat lebih mengarah dan menempuh tujuan dalam penelitian ini, maka diperlukan beberapa pembatasan masalah. Adapun pembatasan masalah makalah ini adalah:
1. Sejarah Museum Geologi
2. Sejarah Kehidupan
3. Geologi Indonesia
4. Geologi Untuk Kehidupan Manusia
1.3 Perumusan Masalah
Agar untuk memudahkan pembahasan penulis membagi permasalahan dan bentuk pertanyaan sebagai berikut:
1. Pada tanggal berapa Museum Geologi berdiri dan diresmikan?
2. Sebutkan macam-macam perkembangan muka bumi hingga sampai sekarang!
3. Jenis-jenis fosil apa sajakah yang terdapat di Museum Geologi Bandung?
4. Bentuk benda-benda apa yang digunakan oleh manusia pada masa lalu?
1.4 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penelitian dalam perumusan karya tulis ini adalah:
1. Sebagai salah satu tugas lintas mata mata pelajaran untuk sebagai nilai tambahan.
2. Untuk dapat lebih memahami dan mendalami tentang analisis dari Museum Geologi.
3. Untuk menambah wawasan tentang kaidah yang terdapat di Museum Geologi.
1.5 Metode Penelitian
Metode yang disetujui dengan teknik Studi Kepustakaan dan Literatur. Yaitu pengetahuan yang bersumber dari beberapa media tulis, baik berupa buku, diktat, dan media lainnya yang tentu ada kaitannya dengan masalah-masalah yang dibahas di dalam karya tulis ini.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Museum Geologi Bandung
Berdirinya Museum Geologi sangat erat kaitannya dengan sejarah penyelidikan geologi di Indonesia yang telah dimulai sejak tahun 1850-an, oleh “Dienst van het Mijnwezen”, yang berkedudukan di Bogor (1852-1866). Lembaga ini kemudian pindah ke Jakarta (1866-1924) dan akhirnya pindah ke Bandung, menempati Gedung Gouvernement Bedrijven (sekarang Gedung Sate).
Para ahli geologi dalam melakukan penyelidikan/penelitian geologi di lapangan selalu membawa contoh batuan, mineral dan fosil untuk diteliti di laboratorium. Mulai tahun 1922 penyelidikan geologi di Indonesia semakin meningkat sehingga contoh batuan, mineral dan fosil yang dikumpulkan dari berbagai daerah di wilayah Indonesia semakin melimpah. Berbagai contoh tersebut memerlukan tempat khusus untuk didokumentasikan, sehingga pada tahun 1928 dibangunlah gedung yang diperuntukkan bagi Laboratorium Geologi di Rembrandt Straat (sekarang Jl. Diponegoro).
Gedung ini dirancang dengan gaya arsitektur “art deco” oleh arsitek Belanda Ir. H. Menalda van Schouwenburg. Kemudian timbul suatu gagasan untuk memperlihatkan koleksi tersebut kepada masyarakat luas, sehingga pada 16 Mei 1929 bertepatan dengan Konggres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke IV, diresmikanlah gedung tersebut sebagai Museum Geologi dengan nama Geologische Museum.
Berbagai koleksi Museum Geologi pada waktu itu disimpan dan ditata di dalam lemari-lemari kaca (vitrin). Setiap koleksi dilengkapi label yang menginformasikan nomor koleksi, nama koleksi, tempat ditemukan dan kolektornya. Sistem peragaan seperti itu relatif tidak berubah sampai tahun 1998, namun demikian pengunjung yang datang ke Museum Geologi setiap tahunnya terus meningkat, khususnya pelajar.
Museum Geologi berupaya meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat, dengan rencana pengembangan yang dirintis sejak tahun 1993 atas kerja sama antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Jepang, meliputi: renovasi gedung, pengembangan sistem dokumentasi koleksi, pengembangan sistem peragaan, pengembangan sistem edukasi dan pengembangan program penelitian koleksi. Renovasi gedung dan pengembangan peragaan yang pekerjaan fisiknya dimulai pada 2 November 1998 dapat diselesaikan pada pertengahan Agustus 2000.
Pada 22 Agustus 2000, Museum Geologi diresmikan kembali pembukaannya oleh Ibu Megawati Soekarno Putri. Dengan adanya pengembangan ini luas bangunan menjadi 6000 m² dimana sepertiganya sekitar 2000 m² difungsikan sebagai ruang peragaan sehingga diharapkan Museum Geologi dapat memenuhi kebutuhan pengunjung dan pengguna jasa Museum Geologi lainnya.
2.2 Sejarah Kehidupan
A. PRAKAMBRIUM
• Arkeozoikum (Masa Kehidupan Purba):
4.600.000.000 – 2.500.000.000 Tahun Lalu
» Masa ini dapat dibedakan menjadi dua tahap, yaitu:
a. Masa Priscoan atau Hadean (4,6 – 4 milyar tahun lalu), merupakan masa persiapan bumi untuk dihuni oleh kehidupan dengan pembentukkan lapisan lithosfera, hidrosfera dan atmosfera.
b. Masa Arkeozoikum atau Arkean (4 – 2,5 milyar tahun lalu), merupakan masa pemunculan kehidupan paling primitif (purba) yang bermula di dalam samudera berupa mikro-organisme dari jenis bakteri dan ganging. Fosil tertua yang ditemukan adalah Stromatolites dan Cyanobacteria.
• Proterozoikum (Masa Kehidupan Awal):
2.500.000.000 – 540.000.000 Tahun lalu
Masa Proterozoikum atau disebut juga Masa Algonkian adalah masa perkembangan kehidupan dari organisme bersel tunggal menjadi bersel banyak (Eukaryotes dan Prokaryotes), seiring dengan perkembangan hidrosfer dan atmosfer. Menjelang akhir masa ini, organisme yang lebih kompleks sejenis invertebrata bertubuh lunak seperti ubur-ubur, cacing dan koral mulai muncul di laut-laut dangkal dan bukti-buktinya dijumpai sebagai fosil sejati pertama.
Fosil-fosil yang terkenal adalah stromatolit alga Jacutophyton, cacing beruas Spriggina, cacing beludru Hallucigenia, cacing gilig Dickinsonia dan ubur-ubur Mawsonites. Pada akhir Masa Pra-Kambrium, benua-benua yang semula berpencar mulai menyatu menjadi satu daratan yang dinamakan Rodinia dengan samuderanya “Panthalassa”.
B. PALEOZOIKUM (MASA KEHIDUPAN TUA):
540.000.000 – 245.000.000 Tahun Lalu
Masa ini merupakan masa perkembangan hewan invertebrata (tidak bertulang belakang) dan vertebrata, khususnya ikan dan amfibi serta sebagian reptilian, dan juga sebagai masa perkembangan ganggang laut serta tumbuhan berspora.
• Zaman Kambrium: 540.000.000 – 510.000.000 tahun lalu
Pada zaman ini mulai banyak muncul kelompok hewan invertebrata yang mempunyai kerangka luar dan bercangkang sebagai pelindung, sehingga kehadirannya sebagai fosil diakui sejak lama sebagai bukti adanya kehidupan yang nyata. Fosil yang umum dijumpai dengan penyebaran yng luas adalah Alga, Cacing, Sepon, Koral, Moluska, Ekinodermata, Brakiopoda dan Artropoda. Fosil penunjuk untuk zaman ini adalah Trilobita (kelompok Artropoda yang kini telah punah).
• Zaman Ordovisium: 510.000.000 – 439.000.000 tahun lalu
Zaman ini merupakan zaman perkembangan hewan invertebrata dan pemunculan invertebrata lain seperti Tetrakoral, Graptolit, Ekinoid (Landak laut), Asteroid ( Bintang laut), Krinoid (Lilia laut) dan Bryozoa. Koral dan Alga yang berkembang membentuk karang laut, Graptolit dan Trilobit melimpah sedangkan Ekinodermata dan Brakiopoda mulai menyebar. Pada zaman ini juga mulai muncul vertebrata dari jenis ikan tanpa rahang.
• Zaman Silur: 439.000.000 – 408.000.000 tahun lalu
Pada zaman ini mulai terjadi peralihan kehidupan dari air ke darat. Tumbuhan darat mulai muncul untuk pertama kalinya termasuk Pteridofita (tumbuhan paku), sedangkan di dalam laut hidup kalajengking raksasa (Eurypterid) dan ikan berahang, serta ikan yang berperisai tulang sebagai pelindung.
• Zaman Devon: 408.000.000 – 362.000.000 tahun lalu
Zaman devon merupakan zaman perkembangan secara besar-besaran jenis ikan dan tumbuhan darat. Ikan berahang dan hiu semakin aktif sebagai pemangsa di lautan. Migrasi ke daratan terus berlanjut, hewan amfibi mulai berkembang dan beranjak ke daratan. Tumbuhan darat semakin umum dan mulai muncul serangga untuk pertama kalinya.
• Zaman Karbon: 362.000.000 – 290.000.000 tahun lalu
Zaman ini merupakan zaman perkembangan amfibi dan tumbuhan hutan. Reptilia dan Serangga raksasa muncul pertama kali. Pohon pertama yang muncul adalah jamur klab, tumbuhan fern dan paku ekor kuda yang tumbuh di rawa-rawa. Saat itu benua-benua mulai menyatu membentuk satu masa daratan yang sangat luas disebut Pangea. Bumi mulai mengalami perubahan lingkungan serta berbagai bentuk kehidupannya. Iklim tropis menghasilkan secara besar-besaran rawa-rawa yang terisi pepohonan dan sekarang tersimpan sebagai batubara.
• Zaman Perm: 290.000.000 – 245.000.000 tahun lalu
Pada zaman ini perkembangan reptilia yang mirip mamalia mulai meningkat dan munculnya serangga modern, begitu juga tumbuhan Konifer dan Ginkgo primitif. Zaman ini diakhiri dengan kepunahan missal dalam skala besar, dimana trilobita, koral dan ikan menjadi punah.
C. MESOZOIKUM (MASA KEHIDUPAN TENGAH):
245.000.000 – 65.000.000 Tahun Lalu
Masa Mesozoikum adalah masa berkembangnya hewan reptilian, khususnya dinosaurus, serta berkembangnya amonit dan tumbuhan berbiji purba. Masa ini dibagi menjadi 3 (tiga) zaman:
• Zaman Trias: 245.000.000 – 208.000.000 tahun lalu
Di zaman ini, Dinosaurus dan reptilia laut berukuran besar mulai muncul pertama kali. Amonit semakin umum, sedangkan gastropoda dan bivalvia semakin meningkat. Cynodont, sejenis reptilia mirip mamalia pemakan daging mulai berkembang. Mamalia pertama kali muncul dan reptilian air semakin banyak seprti penyu dan kura-kura. Jenis tumbuhan cycad (mirip palem) dan konifer mulai menyebar. Pada zaman ini benua Pangea bergerak ke utara dan membentuk gurun. Lapisan es di bagian selatan mencair dan celah-celah mulai terbentuk di Pangea.
• Zaman Jura: 208.000.000 – 145.000.000 tahun lalu
Zaman Jura adalah zaman kejayaan Dinosaurus yang menguasai daratan, sedangkan lautan dikuasai reptilia laut seperti Ichthyosaurus dan Plesiosaurus, sedangkan di angkasa dikuasai reptilia terbang seperti Pterosaurus serta Pterodactyl. Burung sejati pertama (Archaeopteryx) mulai muncul. Berbagai jenis buaya mulai berkembang, sedangkan Amonit dan Belemnit menjadi sangat umum. Tumbuhan Ginkgo, Benetit dan Sequoia melimpah dan Konifer menjadi umum. Pada zaman ini Benua Pangea terpecah, dimana Amerika Utara terpisah dari Afrika, sementara Amerika Selatan melepaskan diri dari Antartika dan Australia. Di Indonesia pernah ditemukan fosil gigi Ichthyosaurus di Pulau Seram (yang dahulunya masih merupakan lautan), yaitu sejenis reptil laut yang hidup sezaman dengan Dinosaurus.
• Zaman Kapur: 145.000.000 – 65.000.000 tahun lalu
Zaman ini merupakan puncak kejayaan Dinosaurus raksasa dan reptilia terbang. Mamalia dan tumbuhan berbunga mulai berkembang baik ragam jenis maupun bentuknya. Mamalia berari-ari mulai muncul pertama kali. Saat itu iklim sedang mulai muncul. Pada zaman ini India terlepas jauh dari Afrika dan bergerak menuju asia.
D. DINOSAURUS
Dinosaurus adalah hewan reptilia yang pernah hidup dan menguasai daratan pada masa Mesozoikum, jauh sebelum manusia ada. Dinosaurus muncul pada zaman Trias, berkembang pesat pada zaman Jura, dan punah pada akhir zaman Kapur. Dinosaurus pemakan daging (karnivora) terbesar dan terbuas adalah Tyrannosaurus rex yang biasa disebut T-rex.
E. KENOZOIKUM (MASA KEHIDUPAN BARU):
65.000.000 Tahun Lalu – Sekarang
Masa Kenozoikum merupakan masa perkembangan mamalia dan tumbuhan – berbiji modern. Masa ini dibagi dua, yaitu Zaman Tersier dan Kuarter. Pada Zaman Tersier-Kuarter, pemunculan dan kepunahan hewan serta tumbuhan saling berganti seiring dengan perubahan iklim global.
• Zaman Tersier: 65.000.000 – 1.700.000 tahun lalu
Zaman ini merupakan zaman perkembangan mamalia di belahan dunia yang lain, akan tetapi tidak demikian halnya dengan Indonesia karena pada zaman ini sebagian besar Kepulauan Indonesia baru terbentuk. Oleh karena itu fosil-fosil yang dijumpai di Indonesia sebagian besar merupakan fosil hewan laut terutama moluska dan foraminifera.
• Zaman Kuarter: 1.700.000 tahun lalu – sekarang
Pada Zaman Kuarter di belahan dunia dikenal sebagai zaman perkembangan manusia, sedangkan di Indonesia disamping berkembangnya manusia berkembang juga mamalia.
F. VERTEBRATA INDONESIA
Sudut ini memperagakan berbagai koleksi fosil hewan bertulang belakang (vertebrata) yang semuanya berasal dari Indonesia. Koleksi fosil vertebrata yang menjadi kebanggaan Museum Geologi diantaranya adalah fosil gajah Stegodon trigonocephalus, Sinomastodon bumiayuensis, Badak Rhinoceros sondaicus, Kudanil Hippopotamus simplex, Kerbau Bubalus palaeokerabau dan Kura-kura raksasa Geochelone atlas. Sebagian besar ditemukan di situs sekitar aliran sungai Begawan Solo, Jawa Tengah – Jawa Timur.
Selain itu juga dipamerkan fosil-fosil dari luar Jawa, seperti babi rusa Celebochoerus heekereni, komodo Varanus komodoensis, gajah kerdil Stegodon sompoensis, Stegodon sondaari dan Elephas celebensis.
G. BANDUNG
Para ahli geologi meyakini bahwa Bandung dahulunya merupakan suatu danau yang luas. Pendapat ini didasarkan atas bukti kenampakkan morfologinya yang berbentuk cekungan, terisi oleh batuan dengan ciri khas endapan danau dan ditemukannya fosil ikan air tawar. Selain itu, keberadaan Danau Bandung diperkuat oleh adanya banyak temuan artefak peninggalan manusia purba yang diduga hidup di pinggiran danau.
Sejarah Danau Bandung ini dimulai sekitar 10.000 tahun lalu, dimana aliran Sungai Citarum terbendung oleh batuan hasil letusan Gunung Sunda sehingga meluap dan menggenangi daerah Bandung dan sekitarnya.
Identifikasi lain tentang keberadaan Danau Bandung yang menurut legenda, dinamakan Situ Hiang ini adalah banyaknya penamaan daerah dengan menggunakan istilah yang mencirikan kondisi adanya banyak air, seperti nama daerah dengan awalan “ci” yang artinya sungai, misalnya Cililin dan “ranca” yang artinya rawa, misalnya Rancaekek. Sedangkan daerah yang sejak dulu merupakan daratan menggunakan nama “ujung”, misalnya Ujungberung.
Di sudut ini juga dipamerkan fosil ular sanca Phyton reticulatus yang ditemukan di daerah Ciharuman dan fosil ikan Cyprinis carpio dari Cililin. Selain itu pada tahun 2004, telah ditemukan fosil rahang bawah gajah Elephas maximus di daerah Rancamalang, Cijerah, Bandung.
H. MANUSIA PURBA
Sudut ini merupakan ruang khusus yang memberikan penjelasan tentang manusia purba, khususnya yang ditemukan di Indonesia. Sebagian besar fosil manusia purba Indonesia ditemukan di Pulau Jawa, khususnya di sepanjang daerah aliran sungai Begawan Solo yang mengalir dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Beberapa lokasi situs manusia purba yang telah dikenal dunia dijelaskan disini beserta koleksi temuannya, seperti daerah Trinil, Ngandong, Sangiran, Sambungmacan, dll.
Di sudut ini juga dipaparkan tentang sejarah evolusi manusia yang dicetuskan oleh Charles Darwin, Ernst Haeckel dan Eugene Dubois. Selain itu juga tentang dua versi teori evolusi manusia yang dianut dunia, yaitu teori Multi Regional dan teori Out of Africa, serta beberapa penjelasan lain seputar manusia purba.
2.3 Geologi Indonesia
A. Asal Mula Bumi
Di sudut ini disajikan gambaran sistem Tata Surya kita (keluarga matahri) yang terbentuk sekitar 4,6 milyar tahun yang lalu. Menurut Teori Kabut Pilin (Nebular Hypothesis): Tata surya kita berasal dari suatu gumpalan kabut/gas raksasa yang sangat pekat, panas dan berpilin (berputar) pada porosnya. Bagian intinya yang sangat panas dan pijar kemudian memadat menjadi matahari sedangkan bagian luarnya yang terpisah-pisah, menggumpal akibat penurunan temperatur membentuk planet-planet: Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto. Planet-planet tersebut hingga saat ini masih terus berputar pada porosnya (berotasi), dan berjalan mengelilingi matahari pada orbitnya (berevolusi).
B. Tektonik Indonesia
Proses penurunan temperatur pada massa cair di dalam bumi berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya, sehingga terjadi perbedaan kekentalan. Massa yang lebih kental (lebih padat) karena mempunyai berat jenis lebih besar maka tertarik oleh gravitasi bumi sehingga tenggelam ke dalam perut bumi. Ruang yang ditinggalkan oleh massa yang tenggelam tersebut akan diisi oleh massa yang masih cair dari daerah sekitarnya. Pergerakkan massa ini menimbulkan arus yang dikenal sebagai arus konveksi yang berpengaruh terhadap kulit bumi untuk turut bergerak, ibarat sebuah rakit yang bergerak karena arus sungai. Oleh karena itu teori tektonik lempeng sering disebut sebagai “teori apungan benua”.
C. Sumatera
Sudut peragaan ini memperagakan kondisi geologi pulau ketiga terbesar di Indonesia. Informasi geologi yang menonjol di Pulau Sumatera ini adalah adanya patahan (sesar) aktif yang dikenal sebagai Sesar Besar Sumatera (dulu Sesar Semangko) yang membentang dari ujung utara dampai ke ujung selatan Pulau Sumatera. Aktivitas tektonik pada Sesar Besar Sumatera ini dicerminkan oleh terjadinya intensitas gempa bumi di sepanjang sesar, terbentuknya Danau Diatas dan Danau Dibawah, terbentuknya Ngarai Sianok dan Lembah Harau. Di Pulau Sumatera ini juga banyak dijumpai gunung api aktif. Danau Toba yang merupakan kaldera terbesar di dunia adalah sebuah kaldera sisa letusan gunung api di Sumatera bagian utara. Pada sudut peragaan ini dapat dijumpai pula berbagai contoh batuan dan mineral, serta fenomena geologi lainnya.
D. Kalimantan
Pulau kedua terbesar di Indonesia setelah Pulau Irian adalah Pulau Kalimantan yang relatif lebih stabil dibandingkan dengan pulau-pulau besar lainnya, karena relatif jauh dari sumber tumbukan antar lempeng, sehingga Pulau Kalimantan tidak memiliki gunung api aktif. Salah satu fenomena geologi yang sangat menarik di pulau ini adalah terdapatnya Delta Mahakam yang sangat luas, berada di muara Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Pada sudut peragaan ini dapat dilihat berbagai potensi geologi dan fenomena geologi lainnya, termasuk proses pembentukkan batubara dan keterdapatan intan.
E. Jawa dan Nusa Tenggara
Kondisi geologi Pulau Jawa sangat mirip dengan geologi Pulau Sumatera, tetapi keunikkan pulau ini adalah padat penduduknya dan banyaknya gunung api aktif yang menghasilkan berbagai potensi sumber daya mineral dan energi, serta potensi kebencanaanya. Pada sudut ini diperagakan berbagai potensi geologi Pulau Jawa, termasuk di dalamnya potensi sumber daya mineral, energi panas bumi dan morfologi karst sebagai atraksi geowisata.
F. Sulawesi
Pulau Sulawesi yang mirip dengan huruf “K” ini proses pembentukannya dipengaruhi oleh adanya pergerakkan 3 (tiga) lempeng, yakni Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik. Para ahli geologi berpendapat bahwa Pulau Sulawesi bagian barat berasal dari pulai Kalimantan yang dipisahkan oleh pergerakkan lempeng sekitar 50-20 juta tahun yang lalu, disusul oleh pembentukkan Sulawesi bagian timur kurang lebih 10 juta tahun yang lalu oleh pergerakkan lempeng ke arah barat dan membentur bagian selatan dan utara Pulau Sulawesi membentuk lengan utara (Sulawesi Utara) dan lengan tenggara (Sulawesi Tenggara).
G. Maluku
Kepulauan Maluku berada di kawasan Laut Banda yang dipengaruhi oleh pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni Lempeng Indo Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Pada sudut peragaan ini disajikan berbagai fenomena geologi yang berpengaruh terhadap keberadaan potensi sumber daya geologi (terumbu karang “Atol” dan potensi geologi lainnya) serta potensi gempa bumi tektonik dan tsunami.
H. Papua
Irian Jaya yang saat ini disebut sebagai Papua merupakan pulau terbesar, berada di ujung timur Indonesia. Keunikkan pulau ini adalah adanya “salju” pada puncak Pegunungan Jaya Wijaya. Ketinggian puncak pegunungan ini dibentuk oleh adanya tabrakan antara Lempeng Pasifik dan Lempeng Indo Australia. Kedua lempeng itu bertabrakan sejak 570 juta tahun yang lalu, membentuk Pegunungan Jaya Wijaya dengan ketinggian puncaknya ± 5.039 meter dari permukaan laut (dpl). Pembentukkan pegunungan ini juga membentuk jalur lipatan pada batuan sediment setebal 10.000 meter serta lembah yang memiliki beragam jenis batuan, yaitu “Lembah Baliem”.
I. Dunia Batuan dan Mineral
Mineral merupakan material pembentuk batuan yang didefinisikan sebagai benda padat berbentuk kristal, hasil bentukan alam, mempunyai komposisi kimia dan struktur ion tertentu. Mineral yang mempunyai komposisi kimia sama tetapi struktur ionnya berbeda diberi nama yang berbeda pula. Misalnya grafit dan intan yang keduanya disusun oleh karbon (C). Klasifikasi mineral didasarkan pada komposisi kimianya. Pertumbuhan dan pengkristalan mineral disajikan pada peragaan ini berdasarkan Seri Reaksi yang dikemukakan oleh Bowen (Bowen Series).
J. Survei Geologi
Untuk megetahui keadaan geologi suatu daerah diperlukan penelitian/penyelidikan (pengambilan data/informasi) daerah yang bersangkutan. Adapun tahapan penelitian/penyelidikan geologi tersebut meliputi:
• Studi Informasi Awal
Penyusunan rencana kegiatan survei, pengadaan peta topografi, foto udara, dan citra satelit, penafsiran foto udara dan citra satelit, kompilasi data sekunder dan pembuatan peta dasar untuk kegiatan survey.
• Studi Lapangan
Pengenalan daerah telitian/selidikan, pengamatan singkapan, pengukuran geofisika, geokimia, pemboran, pengambilan contoh batuan, mineral, fosil, air tanah dan plotting hasil kegiatan survei.
• Studi Laboratorium
Analisis petrologi, analisis geokimia dan analisis paleontologi.
• Studio
Penggambaran peta dan penyusunan laporan.
Pada sudut peragaan penyelidikan dan penelitian geologi ini disajikan berbagai contoh material yang berhubungan dengan kegiatan penyelidikan dan penelitian geologi seperti peta topografi, citra satelit serta berbagai peralatan lapangan.
K. Gunung Api Indonesia
Gunung api adalah bukit atau gunung yang mempunyai lubang kepundan sebagai tempat keluarnya magma dan atau gas ke permukaan bumi. Di seluruh wilayah Indonesia terdapat 129 gunung api aktif (+ 13% dari gunung api aktif dunia). Semua gunung api tersebut berada pada jalur tektonik yang memanjang mulai dari Sumatera bagian utara menerus ke arah selatan melalui Jawa, Nusatenggara, sampai Laut Banda (sesuai dengan penyusupan Lempeng Indo-Austalia ke bawah Lempeng Eurasia). Deretan ini dikenal sebagai jalur Mediteran. Kelompok gunung api lainnya terdapat di Sulawesi Utara dan Maluku (penyusupan Lempeng Pasifik ke bawah Lempeng Eurasia). Deretan ini disebut jalur Lingkar Pasifik (“Circum Pasific”).
2.4 Geologi untuk Kehidupan Manusia
A. Pertambangan Mineral dan Energi
Peragaan Geologi untuk kehidupan manusia dapat dijumpai di lantai II Museum Geologi, terdiri dari satu ruang utama (hall) dan 7 ruang peragaan di sayap timur. Di ruang utama diperagakan berbagai miniatur (model) penambangan, baik penambangan mineral maupun penambangan energi minyak dan gas bumi, serta berbagai contoh batuan yang mengandung mineral bijih dan batuan reservoar tempat terperangkapnya minyakl bumi. Untuk penambangan mineral diperagakan model penambangan tembaga/emas di Grasberg, Irian Jaya yang dikelola oleh PT. Freeport Indonesia. Untuk penambangan energi minyak dan gas bumi diperagakan model pemboran, pendistribusian dan pemanfaatan migas serta panas bumi yang dikelola oleh Pertamina. Peragaan lainnya meliputi model pemboran migas “Peciko Tahap l” di Selat Makasar yang dikelola Total Indonesia alat transportasi/kapal tanker pengangkut gas alam cair (LNG) dan lain sebagainya.
B. Pemanfaatan Batuan dan Mineral
Batuan dan mineral telh dimanfaatkan oleh manusia sejak zaman purba hingga zaman modern sekarang ini. Sebagai contoh digambarkan dalam ilustrasi bahwa manusia purba telah menggunakan batuan untuk membuat api, dipakai sebagai alat/senjata untuk melumpuhkan hewan buruan dan menggunakan mineral “oker” untuk melukis di dinding-dinding gua. Pada zaman kerajaan di Indonesia banyak dibangun dan dibuat berbagai candi, stupa dan patung dari batuan, sedangkan mahkota para raja dan ratu dibuat dari emas dengan hiasan permata yang berasal dari mineral.
Pemanfaatan batuan dan mineral terus meningkat hingga zaman modern sekarang ini seiring dengan kemajuan teknologi eksplorasi dan eksploitasi. Pemanfaatannya bagi kehidupan manusia meliputi berbagai aspek, mulai dari industri peralatan rumah tangga, perhiasan, pemukiman, infrastruktur, telekomunikasi, komputer, kedokteran, sains dan teknologi, pesawat terbang hingga satelit.
C. Eksplorasi dan Eksploitasi
Eksplorasi adalah kegiatan penyelidikan lapangan untuk mengumpulkan data/informasi selengkap mungkin tentang keberadaan sumber daya alam non hayati di suatu tempat. Kegiatan eksplorasi mineral tahap awal dilakukan dengan penyelidikan geologi yang didukung dengan metoda geofisika dan geokimia. Untuk mengidentifikasi potensi mineral dan energi baik di permukaan maupun di bawah permukaan perlu dilakukan uji pemboran yang dikenal dengan “pemboran eksplorasi”. Pemboran sering kali dilakukan hanya untuk memastikan keterdapatan endapan mineral atau minyak dan gas bumi yang bernilai ekonomis.
Eksploitasi adalah kegiatan penambangan/pengusahaan sumber daya alam yang telah dinyatakan prospek berdasarkan analisis potensi mineral, minyak dan gas bumi, analisis kandungan dan besarnya cadangan, analisis ekonomi, serta analisis mengenai dampak lingkungannya (AMDAL).
Metoda eksploitasi yang diterapkan sangat tergantung pada sifat cadangan yang ditambang dan keterdapatannya. Apabila bersifat cair atau gas biasanya dilakukan dengan cara pemboran. Apabila padat dan terdapat di bawah permukaan dilakukan dengan penambangan bawah tanah (under ground mining). Apabila padat dan terdapat di permukaan cukup dilakukan dengan penambangan terbuka (open pit mining).
D. Mineral dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam kehidupan sehari-hari, baik tradisional maupun modern, manusia sangat bergantung pada batuan dan mineral. Pada peragaan terlihat bahwa dalam kehidupan tradisional manusia telah menggunakan batuan untuk menumbuk dan menghaluskan bahan makanan; sabit untuk bercocok tanam; kapak untuk memotong kayu; setrika untuk merapihkan baju dan manik-manik untuk perhiasan. Sabit, kapak maupun setrika bahan dasarnya berasal dari mineral “besi”, sedangkan manik-manik berasal dari “batumulia”.
Dalam kehidupan modern, berbagai komponen peralatan bahan dasarnya sebagian besar juga berasal dari batuan/mineral seperti: komponen pesawat terbang, mobil, computer/laptop, telepon genggam, kamera, perhiasan, dan lain-lain. Sebagai contoh: badan pesawat terbang terbuat dari aluminium yang berasal dari mineral bauksit, lensa kamera berasal dari mineral kuarsa, dan lain sebagainya.
E. Bahan Galian Komoditas Nasional
Dari berbagai contoh yang dikemukakan di atas jelas sekali bahwa manusia dalam menjalani hidup dan kehidupannya sangat memerlukan batuan atau mineral. Dalam hal ini, ilmu geologi memegang peranan yang sangat penting. Sudah tentu untuk mengolah suatu mineral menjadi logam murni diperlukan tenaga ahli dari disiplin ilmu yang lain seperti ahli kimia, ahli metalurgi, bahkan untuk mendirikan pabrik pengolahan diperlukan juga ahli teknik sipil, arsitek, teknik industri, ahli ekonomi, ahli lingkungan dan lain sebagainya. Pada ruang 4 digambarkan beberapa contoh batuan yang mengandung mineral bijih seperti emas, nikel dan tembaga yang diolah menjadi logam murni kemudian diolah lagi menjadi barang siap pakai (barang jadi) seperti emas untuk perhiasan; nikel untuk sendok dan garpu; tembaga untuk kabel listrik; timah untuk solder dan lain sebagainya.
Seperti juga mineral, minyak dan gas bumi memerlukan pengolahan secara khusus. Contoh hasil proses destilasi (penyulingan) tersebut seperti bensin, minyak pelumas mesin, minyak tanah, paraffin, lilin putih dan lain sebagainya diperagakan di dalam lemari peragaan, berikut peta cekungan yang memungkinkan terdapatnya minyak dan gas bumi di Indonesia. Berbagai jenis batubara yang juga merupakan komoditi energi alternatif diperagakan berikut proses pengolahan dan keterdapatannya di Indonesia.
F. Gempa Bumi dan Gerakan Tanah
Proses geologi selain dapat menghasilkan berbagai bahan mineral dan energi, juga dapat menimbulkan bencana alam seperti gempa bumi, tanah longsor (gerakan tanah) dan letusan gunung api.
Gempa bumi adalah guncangan secara tiba-tiba yang terjadi akibat proses endogen pada kedalaman tertentu. Sebagian besar wilayah Indonesia merupakan daerah rawan gempa bumi. Berbagai potret akibat gempa bumi dan peta wilayah rawan gempa bumi diperagakan di ruang peragaan ini (ruang 5).
Sampai saat ini manusia belum mampu untuk mencegah terjadinya gempa bumi. Adapun penanggulangan dini apabila terjadi gempa bumi sebaiknya lari keluar rumah (bangunan) menuju tanah lapang (daerah yang lebih terbuka) sehingga kecil sekali kemungkinannya tertimpa jatuhan bangunan rumah. Apabila tidak sempat lari keluar, sebaiknya berlindung di bawah meja kayu. Sebagai tindakan prefentif sebaiknya mendirikan bangunan dengan infra struktur yang tahan gempa atau lenih baik lagi dihindari bermukim di daerah jalur gempa bumi.
Gerakan tanah ialah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, tanah, bahan timbunan atau material campuran yang bergerak ke arah bawah dan keluar lereng. Pada ruang peragaan ini digambarkan peta rawan gerakan tanah di Indonesia, proses terjadinya dan pencegahannya.
G. Bahaya dan Manfaat Gunung Api
Indonesia memiliki 129 gunung api aktif yang tersebar mulai dari Sumatera Bagian Utara menerus ke selatan melalui Jawa, Nusa Tenggara sampai ke Laut Banda. Jalur ini disebut Jalur Mediteranian.
Jalur gunung api lainnya adalah Jalur Sirkum Pasifik, yaitu jalur gunung api yang masuk ke wilayah Indonesia dari Filipina ke daerah Sulawesi Utara dan Halmahera. Gunung api ini dapat membahayakan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya karena letusannya yang dapat memuntahkan batuan dan terjadinya aliran lahar dan lava dari dalam perut bumi.
Letusan gunung api sering kali meninggalkan lubang yang sangat besar, disebut “Kaldera”. Batuan yang dimuntahkan karena letusan menjadi hancur berbentuk bongkahan besar sampai ukuran pasir bahkan berupa debu. Batuan yang terakumulasi di puncak gunung api dapat secara tiba-tiba meluncur ke daerah lereng karena pengaruh hujan dan gravitasi menjadi lahar.
Pada peragaan dapat terlihat berbagai material seperti jerigen plastik yang meleleh terkena awan panas, kamera yang hancur terkena lontaran batuan yang masih sangat panas serta pijar, dan lain sebagainya.
Selain dapat menimbulkan malapetaka, gunung api juga dapat menjadi sumber kehidupan bagi umat manusia, dimana hasil pelapukan batuan gunung api menjadi tanah yang subur untuk pertanian dan perkebunan, hutan lindung dan dapat menjadi panorama yang sangat indah. Panas bumi di daerah gunung api dapat dijadikan sumber daya energi yang sangat bermanfaat untuk tenaga listrik. Begitu pula mineral/batuan yang dihasilkannya merupakan bahan galian untuk pengembangan industri.
H. Air dan Lingkungan
Pada ruang terakhir diperagakan tentang sumber daya air untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia, yang meliputi daur hidrologi, pemanfaatan air tanah untuk air minum, rumah tangga, industri, pertanian dan lain sebagainya. Selain pemanfaatannya diperagakan pula cara eksploitasi air tanah dengan cara pemboran serta dampak yang dapat ditimbulkan apabila air tanah itu dieksploitasi secara berlebihan, yaitu adanya perubahan struktur bawah permukaan dan amblesan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Museum geologi merupakan tempat dari hasil peninggalan-peninggalan pada zaman dulu yang baik sebagai tempat ilmu pengetahuan terutama dalam bidang pendidikan yang dilakukan oleh kalangan pelajar. Permukaan bumi merupakan hasil ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang selalu mendapat perubahan dari zaman ke zaman.
3.2 Saran
Bagi pelajar khususnya dan bagi masyarakat umumnya dengan adanya Museum Geologi atau tempat sejenisnya agar dijaga kelestariaannya serta adanya perkembangan agar pada waktu kelak nanti para generasi penerus bisa mengetahuinya. Permukaan bumi perlu dijaga dan dilestarikan agar alam tidak marah.
DAFTAR PUSTAKA
1. Buku Panduan Museum Geologi
2. www.google.com
3. www.ask.com
4. www.altavista.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar