Kamis, 04 Februari 2016

Pandangan Buddha

Dalam  sebuah  catatan  sejarah  dapat  ditemukan,  dua  puluh  lima  abad  lampau  di Tamnan Lumbini, kerajaan Kapilawastu (masuk wilayah Nepal sekarang). Dari keluarga Gotama   raja   Suddhodana   dan   permaisyuri   Dewi   Maya,   seorang   putra   mahkota Pangeran Siddharta Gotama lahir, pada purnama bulan Wesak 623 S.M. Pertumbuhan dan perjalanan hidupnya, Siddharta mengembara dari waktu ke waktu
melintasi  dua  lorong  hidup  ekstrem. Pertama,  lorong  ekstrem  kemewahan  materi duniawi seorang putra mahkota, dan kedua, lorong ekstrem menyiksa diri hidup dalam pertapaan  di  hutan Uruvelasenanigama
selama  enam  tahun  hampir  saja  Ia  mati.  Di penghujung perjalanan pengembaraan spiritual emperis penuh tesis, sintesis, antitesis, hipotesis melintasi    dua    lorong    ekstrem.    Dalam    kesendiriannya    yang    mandiri, bermeditasi  total  secara  intologi  wadag  dan  rohani,  dinaungi  payung  alam  cakrawala sempurna,  dihias  bintang-bintang  beterbaran  di  langit  angkasa raya,  dihibur  suara burung-burung bersahut-sahutan merona mengharu kalbu, serta sayup-sayup terdengar desis  semilir  angin  berirama  seruling  sunyi.  Siddharta  duduk  bersila  kaki  bersilang posisi padmasana mudera di bawah rindang pohon Bodhi bersamadhi.Tepat  pada  purnama  sempurna  bulan  Wesak  588  SM.  Seberkas  cahaya  memancar
terang mencerahkan lelaku bertapa Siddharta sampai pada titik simpul penemuan yang sejak  jutaan  tahun  dicari  melalui  ribuan  kali sirkular kelahiranya penuh  tesis,  sintesis, antitesis, hipotesis.Saat itu Siddharta sukses menemukan multiplechoice jawaban yang mudah  bisa  demengerti,  bukan  saja  jawaban  sulit  dipahami,  berupa  jawaban  yang hanya  berdasarkan  pasrah  mentah - mentah  pada  kauasa  allah  guna  menyelesaikann sebuah  masalah.  Sangat  cerah  Siddharta  bisa  membaca  bahasa  bisik  alam,  mampu
membuka  kunci  rahasia  semesta,  dapat  memutar  roda  hukum  kehidupan,  menjadi seorang  Buddha  guru  para  dewa  dan  manusia,  pembimbing  semua  mahkuk  tiada taranya, patut dimuliyakan.

Pokok pikiran dari ajaran dan anjuran Buddha; ”Dengan daya usaha benar seseorang mampu menciptakan   kesenangan,   kebahagiaan,   ketenangan   lahir   batin   tanpa berdampak    penderitaan. Dengan    cara, ”Anti    kekerasan,    tidak setuju    dengan pembunuhan,   tidak   melakukan   kejahatan,   menambah   kebajikan,   membersihkan batin”. Cara  yang  lain,”Menempatkan  harga  hidup  di  atas  harga  diri.  Menempatkan harga  diri,  di  atas  harga  materi.Memberi  garis  batas  wilayah  hukum  dua  dunia; dunia  sekular  dan  dunia  spiritual,  meliputi  hukum  adat,  hukum  negara,  dan  hukum alam   semesta,   jelas.”
Hingga   harmoni   kehidupan   dapat   amat   terasa,   meresap, menenteramkan.  Mahkluk -mahkluk  sekecil  apa  pun  merasa  aman  tanpa  terancam kehilangan  hidupnya.  Isi  alam  semesta  gegap  gempita  berpesta  raya  turut  menyambut sukses pertapa Siddharta Gotama menjadi Buddha.Genap  usia  80  tahun  Buddha  Gotama  mangkat,  purnama  bulan  Wesak/Mei  543 S.M.   Empat   tempat   peninggalannya,   yaitu   tempat   kelahiran   (Lumbini);   mencapai pencerahah  (Bod  Gaya);  tempat  pertama  Memutar  roda  hukum  Dhamma  (Varanasi); dan  tempat  wafat  (Kusinara);  masih  dikunjungi  ribuaan  orang  dari  berbagai  belahan dunia hingga saat ini. Bumi, langit, samudera raya menjadi saksi. 


Buddha  mengajar  selama  45  tahun,  rata-rata  setiap hari  memberikan statemant 5-6 kali,  diberikan  di  berbagai  tempat  dalam  bermacam  kejadian.  Terdapat  84.000  judul kotbah  yang  disampaikan  meliputi  percakapan  panjang,  percakapan  sedang  dan  syair-syair  pendek.  Setelah  ajaran  dihimpun  dan  disusun  kembali sesuai  isi  dan  kejadian pesan  yang  disampaikan  dapat  dikelompokan  menjadi  tiga  kelompok; Vinayapitaka, Suttapitaka, Abhidhammapitaka.Kelompok   pertama Vinaya   Pitaka;ditujukan   untuk   pedoman   tata   kehidupan bhikkhu.  Yang  membedakan  hikkhu  dengan  kaum  awam tata  aturan  kehidupannya. Bhikkhu terikat dengan 227 tata aturan kemoralan, menganut azas ”3 AT”; taAT, kuat tirakAT,  selibAT.  TaAT  artinya, (patuh  tata  tertib  peraturan  yang  diberlalukan hidup kebhikkhuan 227 sila kemoralan), kuat tirakAT (dalam 24 jam hanya makan 1-2 kali dari jam 06-12 siang waktu setempat, selewatnya tidak makan lagi tinggal minum ringan tanpa susu), dan selibAT(tidak menikah). Kelompok kedua
Sutta  Pitaka; memuat  tentang  tata  hidup  masyarakat  awam,  para negarawan,  rohaniwan yang biarawan, dalam hubungannya secara vertikal, horisontal, dan internal (hubungan  pribadi  dengan  yang  maha  suci;  hubungan  pribadi  dengan sesama   pribadi   dan   lingkungan,   dan   mengenal   pribadi   diri   sendiri   berwatak, berkelakuan).  Kelompok  ketiga Abhidhamma  Pitaka, memuat  tentang  meta  fisika, mekanisme batin dan cara berkerja pikiran. Ketiga-tiganya  dihimpun  menjadi  satu  Kitab  Tipitaka  (Pali),  Tripitaka  (Sankerta). Untuk  selanjtnya  Tipitaka  menjadi  kitab  suci  keagamaan  Buddha.  Buddha  Gotama mengajar menggunakan tiga media bahasa. Pertama, bahasa lisan, kedua, bahasa tubuh atau  tindakan,  dan  ketiga,  bahasa  simbol  atau  tulisan.  Zaman  raja  Asoka  (244  S.M), kitab agama Buddha Tipitaka mulai tituliskan di atas media buku kering-kertas, kayu, batu,  logam,  yang  sebelumnya  selalu  diajarankan  dengan  media  buku  basah,  berupa tradisi lisan dan tindakan. Ajaran Buddha dipraktekan manusia tanpa pandang beda status sosial, tingkat strata dan  bangsa  hingga  saat  ini.  Menjalar  keluar  dari  tempat  penemuannya  India  dan menyebar   ke   bebagai   penjuru   dunia.   Pernah   pelajaran   tentang   hukum   rahasia kehidupan,   hukum   perundang-undangan   dilarang   potong   pohon   ajaran   Buddha Gotama  menjadi  pedoman  hidup  masyarakat  secara  turun  temurun  hingga  ribuan tahun  di  Bumi  Nusantara  (di  Jakarta  juga).  Setelah  ganti  agama,  ajaran  hukum  tata kehidupan,   hukum   perundang-undangan  dilarang   potong   pohon   ajaran   Buddha Gotama,  sengaja  atau  tanpa  sengaja  dihilangkan,  hutan-hutan  bisa  bebas  ditebang. Tetapi  tanpa  dikira,  akibatnya sangat  terasa.  Ekosystem  lingkungan hidup,  ekologi  tata hukum kehidupan harmoni menjadi rusak berat, amat parah dibuatnya. Karena potong pohon  tanpa  dilarang,  maka  muka  bumi  menjadi  gundul  dan  gersang.  Karena  bumi gundul  dan  gersang  akibantnya  “sumber-sumber  mata  air”  mengering,  menjadi  kering kerontang,  Karena  “sumber-sumber  mata  air”  mengering,  menjadi  kering  kerontang, dampaknya   panas   bumi   tak   terkendali.   Dari   hari   ke   hari   panas   bumi   semakin mendunia.   Menjadi   proyek   modern   problem   sosial,   pemanasan   global.

Dua ribu lima ratus (2500) tahun lampau kehadiran Buddha Gotama di muka bumi sungguh  mengejutkan  kaum  mapan  sebelumnya.  Pandangan  tentang  adanya  manusia dan bumi dari serba ”penciptaan”tunggal, segera ternyata terganti dengan paham baru, bukan   penciptaan   tetapi   karena   adanya ”mekanisme”
proses   bekerjanya   hukum universal alam   pandangan   penemuan   Siddharta.   Secara   utuh   seluruh   apa   yang disampaikan Siddharta Buddha Gotama berupa ”pernyataan” dan bukan ”perintah atau ”larangan” yang bersifat situasional. Secara   saintis   Buddha   menyatakan   ”hidup”   artinya   gerak,   ”kehidupan”   adalah berkembang.  Hidup  dan  kehidupan  berarti  ”bergerak  dan  berkembang”.  Kelahiran mahkluk   hidup   bukan   buah   penciptaan   yang   maha   pencipta   melainkan   proses
bekerjanya  mekanisme  hukum  sebab-akibat (hukum  karma) yang  melibatkan  banyak aspek  perpaduan  unsur,  dan  bukan  satu-satunya  unsur  sebagai  aspek  juru  penentu. Bentukan -bentukan  perpaduan  bermilyar  unsur  energi  dan  materi  tersebut,  dapat disebut  ”mahkluk”.  Suatu  mahkluk  dapat  dibagi  menjadi  dua,  yaitu  mahkluk  hidup—bergerak,   dan   makluk   mati—benda-benda   tidak   bergerak.   Mahkluk   hidup   dibagi menjadi  dua,  yaitu  mahkluk  hidup  (padat)  Manusia,  Hewan,  Tumbuh-tumbuhan,  dan yang  kedua,  mahkluk  hidup  (halus)  terdiri  dua  jenis,  yaitu;  mahkluk  halus  para  Dewa
energi tinggi, bertempat tinggal di 26 tingkat alam surga. Adapun mahkluk halus energi rendah  adalah  para  mahkluk Peta (setan/syaiton),  bertempat  tinggal  di  50  lapis  alam neraka Yang  menyebabkan  mahkluk  terlahir  di  alam  surga  buah  tindak  kebajikannya,  dan menyebabkab   terlahir   di   alam   neraka   akibat   tindak   kejahatannya.   Oleh   karena kebajikan  dan  kejahatan  dilakukan  seseorang  tidak  sama  bersanya,  maka  surga  harus banyak,  dan neraka  harus  lebih dari  satu.  Sebab,  apabila  surga  hanya satu  dan  berlaku untuk  orang-orang  yang  berbuat  baik  banyak  atau  pun  orang -orang  yang  berbuat  baik sedikit  surganya  sama,  maka  bagi  yang  berbuat  baik  banyak,  dirugikan.  Sebaliknya apabila  hukuman  neraka  diberlakukan  untuk  penjahat  besar  maupun  penjahat  kecil siksanya  sama,  dijatuhkan  di  alam  neraka  yang  sama  (karena  neraka  hanya  satu), perlakuan hukum seperti itu hukum hakim tidak adil. Itu  sebabnya,  kata  Buddha  dalam  Kitab Peta  Vattu,oleh  karena  kebajikan  dan kejahatan dilakukan seseorang tidak sama bersanya, maka surga 26 tingkat, dan neraka 50 lapis. Dalam    kitab Mahaparinibbanasutta Buddha    menerangkan proses    terjadinya kelahiran  mahkluk-mahkluk.  Terdapat  empat  system  mekanik  hukum  universal  alam bekerja, pertama,   kelahiran   melalui   kandungan; kedua,
melalui   bertelur; ketiga, melalui  kelembapan;  dan keempat, melalui  spontan.  Jenis  keempat  spontan  hanya berlaku  pada  kelahiran  para  mahkluk  halus dewa dan peta/syetan.Kelembapan, berlaku  bagi  pembiaakan  jentik,  jamur,  bakteri  serangga  teretentu,  dan  sejenisnya. Adapun binatang tidak berkaki, berkaki dua; berkaki banyak, menetas melalui bertelur. Sedangkan  hewan-hewan  berkaki  empat  dan berdaun  telinga  lahir  melalui  kandungan. Dan mahkluk manusia lahir melalui rahim Ibunya. Diterangkan pula, komposisi mahkluk hidup manusia terdiri dari dua bagian, bagian badan jasmani, dan bagian batin rohani. Batin merupakan perpaduan dari empat unsur daya,  yaitu;  daya  tangkap  aroma,  rupa-rupa  warna,  suara  melalui  pintu-pintu  indriya; kedua, daya  serap  rasa  melalui  indra  perasaan; ketiga,daya  cipta  melalui  imajinasi pikiran,  dan keempat, daya  ingat  melaui  kesadaran.  Bagian  badan  jasmani  merupakan perpaduan  empat  unsur,  yaitu;  unsur  tanah (patavi),unsur  api (tejo),unsur  angin (wayo),
dan unsur air (apo). Bijja   Niyama—adalah   hukum cosmos tertib   alam,tentang   biji-bijian   organik.
 
Mempunyai  system  proses  bekerja  universal.  Kelahiran  manusia  tunduk  pada  hukum Bijja  Niyama  bekerja.  Melalui media  alam  menjadi  sebab  terjadinya  suatu  kelahiran mahkluk  hidup  manusia,  hewan  dan  pembiakan  tumbuh-tumbuhan.  Apabila  melalui mediasi yang sesuai bertemu di suatu waktu dan bekerja dalam tempo 2 x 24 jam, akan terjadi   kelahiran   mahkluk   hidup   manusia   baru.Mediasi empat   unsur   penyebab terjadinya  kelahiran  mahkluk  hidup  manusia  yang  dimaksud,  adalah; Unsur  pria (spirma), Unsur  perempuan(ovum), Unsur  masa  subur (temperatur), Unsur  energi alam; terdiri dari unsur, Tanah (Patavi---(Pali), Pratawi—(Snkt.), Pertiwi---(Ind.),Api (tejo),Angin (wayo (Pali),  Bayu (Snkt),dan Air (apo). Badan  jasmani  kita  2/3 berisi air. Dalam  tata  hidup  dan  kehidupan  manusia  di  muka  bumi,  Buddha  Gotama  tidak memilah   dan   memilih-milih   manusia   berdasarkan   kesukuan,   kebangsaan.   Tidak memihak  pada  bangsa  terplih,  atau  bangsa  terkutuk  seperti  pahan Hitlerisme.Tidak memberlakukan  umat  pengikutnya  dengan  diskriminasi  yang  dianggap  kafir  minggir. Juga  tidak  membedakan  pelayanan  berdasarkan rasis, color kulit dan klaster-klaster. Melainkan menganjurkan  dan  mengajarkan  agar  menjadi manusia  yang Pinter,  Bener, Kober. (Pandai,  Taat  hukum,  dan  Berpeduli).Mengingat  pada  hakikatnya  manusia terbentuk  dari  bahan  baku  tunggal  sama,  dari  unsur  tanah,  angin,  api,  air,  yang  sama milik  alam  semesta.  Kita  semua  bersaudara,  artinya  kita  semua  berasal  dari  ”satu udara”  yang  sama.  Hingga  seseorang  bisa  dan  mau  saling tolong  menolong,bukan saling tolong menyolong?

Pandangan Kaweruh Kejawen dipertanyakan  mana  duluan,  paham  Buddhis  atau  Kejawen.  Keduanya  mirip  sama pandangan.  Dalam  sebuah  penuturan  kisah  sejarah  yang  amat  kuno  (aku  durung  ono
(Jw.),  ditemukan  bukti-bukti  sejarah,  bahwa  agama  Buddha  sebagai  sandaran  spritual agama  raja  dan  rakyat,  pernah  menjadi  sabuk  pengikat  masyarakat  selama  seribuan tahun  di  Tanah  Jawa,  Nusantara,  hingga  dinasti  Madjapahit  surut.  Setelah  seribu (1000)  tahun,  suku  Sakya  (Buddha)  dan  suku  Drawida  (Hindu)  beranak  pinak,  turun temurun  membangun  peradaban  dinasti  di  Nusantara.  Dinasti  Madjapahit  surut  abad 15.  Diberbagai  daerah  yang  pernah  menjadi  wilayah  Madjapahit  agama  Hindu,  agama Buddha  ikut  surut,  kemudian memasuki  babak  sejarah  baru.  Terdapat  beberapa  versi tentang  agama  kedua  yang  masuk,  yaitu  agama  Islam.  Dan  Islam  Abangan  terbentuk. Berikut disusul agama Katolik masuk, Kristen Jawi Wetan terbentuk. Pertama,penganut   sepenuhnya   fanatik   agama   baru, dengan   extrem   menolak   agama   lama   yang   lain. Kedua,sementara  dengan  alasan  tertentu  kompromi  mau  menerima agama   baru   hanya   saja   dengan   istilah   indah   baru   yang dibuatnya   sendiri. Ketiga,sedangkan kaum   militansinya secara  radikal  menyangkal  dan  menolak  agama  baru,  tetap kukuh,  bersiteguh  dengan  agamanya  yang  lama  meskipun harus  terusir  minggir  jauh  ke  daerah  pedalaman-pedalaman dan  terpaksa  mengasingkan  diri  asal  aman.  Setelah  tinggal jauh  di  pedalaman  dalam  kurun  waktu  yang  sangat  lama, akhirnya membentuk komunitas suku-suku tersendiri. Seperti yang   dikenal   sekarang,   di   Jawa   Barat   suku   Badui,   Jawa Tengah  suku  Samin,  Jawa  Timur  suku  Tengger,  Sulawesi Selatan   suku   Kajang,   Sulawesi   Tengah   Suku   Kaely, Sulawesi   Utara   suku   Sanger, Kalimantan  suku  Dayak  Kaharingan,  Sumatera  suku  Karo,  Bali  suku  Bali Age,  Lombok suku   Sasak   (yang   mungkin   saja,   ini   hanya   kemungkinan,   bahkan   tidak   hanya kemungkinan, tetapi bisa jadi, kata ”sasak” berasal dari kata ”terdesak”).Orang   Sasak   pedalaman   di   Lombok   rata-rata   menganut   Agama   ”Wetu   Telu”. Meskipun  ”Wetu  Telu”  di  Bayan,  lain  dengan  ”Wetu  Telu”  Senaru,  yang  menurutnya berasal dari kata ”Wet, Tiu, Telu/Talu”. Apabila ditafsirkan kedalam bahasa  Indonesia, kata Wet (hukum   (bhs.   Belanda), Tiu (tumbuh),   dan Talu (bertelur,   menganak, melahirkan).  
Isi  intinya  kepercayaan  ini,  adalah  wajib  merawat,  mejaga  kelestarian hidup tumbuh-tumbuhan, hidup binatang-binatang bertelur, dan hidup hewan bunting dan  melahirkan  anak,  maupun  hidup manusia  yang  melahirkan,  dan  dilahirkan  dari rahim.  Meskipun  Islam  Wektu  Lima  tidak  sepaham  dengan  Wetu  Telu,  tetapi  pada kehidupan  sehari-hari  bisa  berdampingan.  Selayaknya  di  Jawa  dikenal  sebuah  istilah Islam  Putih,  Islam  Abangan,  kaum  Kejawen,  Orang  Kebatinan. Semua  itu,  terjadi setelah  masa  peralihan  dari  jaman  Madjapahit,  agama  Hindu  dan  agama  Buddha  yang telah  menjadi  keyakinan  rakyat  dan  raja  selama  1000  tahun,  disesak  oleh  masuknya agama   Islam.   Muncul   kemudian   penganut   dari   agama   lama,   dengan   tiga   istilah keagamaan  baru,  agama  Wetu  Telu  (Sasak),  Dan  di  Jawa  muncul  istilah  indah  Islam Abangan, Kaweruh Kejawen, Ilmu Kebatinan. Agama  lama  yang  tidak  lagi  diajarkan  kepada  geneasri  secara  terbuka,  melainkan dihafal  secara  lisan  dan  dipraktekan  dalam  tindakan  sehari-hari.  Bagian-bagian  inti  isi penting sulit-rumit mendalam yang lain hanya dibatin-batin, setelah sekian lama tahun berlaku   dan   berlalu   dikenal   menjadi   ajaran   ”kebatinan”.  Artinya   ajaran   yang mencerahkan  batin,  diturunkan  kepada  perkumpulan  murid,  oleh  guru  yang  kwalitas batinnya hening, bening, suci, sunyi, bersih tanpa noda. Guru kebatinan pada jaman itu benar -benar,  bersih  dari  tiga  macam  catat;  tidak  cacat  sosial,  tidak  cacat  moral,  tidak cacat  spiritual.  Karena  itu  pantas  menjadi  panutan  hidup harmoni  dengan  diri  sendiri, dengan orang lain, dan harmoni dengan lingkungan. Selaku  guru  Ilmu  Kebatinan, Kaweruh  Kasepuhan,Kaweruh Sangkan  Paran  Ajal Kamulyan,   Sangkan   Paraning   Dumdi yang   mengajarkan   asal   usul   hidup   dan kehidupan,  berikut  terjadinya,  dan  perjalanan  mahkluk-mahkluk  setelah  kematian.  Di dalam  setiap  sarasehan  dibahas,  bahwa  manusia  itu  terdiri  dari  dua  bagian;  ”Badan jasmani dan Badan  halus  rohani”. atau Nama, Rupa (bhs.  Pali,  istilah  Buddhis),  dan Badan wadag, Badan Rohilapi (istilahKebatinan).

1.”Badan jasmani” berasal tunggal, dari bahan baku yang sama; o Bumi,  Geni,  Angin,  Banyu (Jw.), Tanah,  Api,  Angin,  Air(Ind.).  (Patavi,  Tejo, Wayo, dan Apo (Pali).o Dumadining  kalahiran  lumantar  lakuning  roda  penguripan,  ubenging  cokro manggilingan.  Kintir  Gumilir  Liwat  Bopo,  Biyung,  Kaki,  Nini.
(terjadinya kelahiran  lewat  jalannya  roda  hukum  kehidupan,  berputar  ulang,  mengulang lewat media, Ayah, Ibu, Kakek, Nenek). o Kagontho  Cipto  Roso  Cahyo  Ponco  Warno;  Abang,  Putih,  Ireng,  Kuning, Moyo-moyo. Abang ciptaning roso soko Biyung, Putih soko Bopo,Kuning soko Nini, Ireng soko Kaki. (terbentuk, cipta rasa  lima warna; Merah, Putih, Hitam, Kuning,  Jingga.  Merah  cipta  rasa dari  Ibu,  Putih  dari  Ayah,  Hitam  dari  Kakek, Kuning dari Nenek). oManunggaling  dhat  kiblat  papat  limo  pancer,  Wetan—kawiwitan,  kulon—kelakonan,    kidul---kabul    dinudul,    lor---lahir,    tengah----lungguhe    urip. (Bertemunya   daya   dari   empat   arah,   lima   di   tengah-tengah,   artinya---asal muasal  sinar  memancar  dari  timur,  barat  mulai  perjalanan,  selatan  proses pertumbuhan,    utara    terjadinya    kelahiran,    bertemu    menyatu    di    tengah terwujudnya mahluk hidup dan kehidupan). o Dumadining  maujud  manungso,  badan  sepoto,  sedulur papat,  limo  pancer enem  nyowo,  pitu  pengeran,  siji  kang  ngungkul-ungkuli,  jejering  ngaurip. (Terjadilah  wujud  badan  manusia,  empat,  lima  pintu  indriya,  ke  enam  gerak hidup, ke tujuh, daya kekuatan yang menjadi sumber kehidupan). 
 
2.”Badan  halus  rohani”  terdiri  dari, Sejatining  Roso,  Cipto,  Budi,  Karso, (Jw). Vedana,  Saññya,  
Sankhara,  Viññyana (Pali),  atau  Daya  tangkap,  Daya  serap  rasa, Daya cipta pikir, Daya ingat kesadaran (Ind.). Apabila semua pribadi dapat menembus hakikat pengertian hidup sejati, siapa pun akan sadar  arti  jati  dirinya  sendiri,  dan  akan  tahu  arti tepo  seliro. Tepo=  tepak,  ukuran. Seliro=  awak,  badan.  Dus,  tepo  seliro  artinya  akan  tahu  mengerti  inti  isi  posisi  diri sendiri,  dan  tahu  diri  orang  lain.  Tidak  perlu  lagi  membeda-bedakan  diri dengan membuat  wadah  mengkotak-kotak  petak,  satu  sama  lain,  kaya  atau  miskin.  Karena ternyata  para  manusia  semua  itu  sama-sama  titah  Allah  terbuat  dari  bahan  baku  yang sama dipinjam dari milik alamiah semesta. “Manungso iku dumadining tanpo bedo, satuhune
tunggal jiwo, tunggal roso. Mulo ajo gemendung adigang, adigung, adiguno. Sok kuwoso, rumongso biso, nanging ora biso   romongso”. (Manusia   itu   terjadinya   tidak   berbeda,   sebenarnya   tunggal   jiwa, tunggal  rasa.  Maka  jangan  mentang-mentang besar,  dan  pembesar.  Hanya  merasa berkuasa, tetapi tidak bisa merasa). Yang  membedakan  manusia  satu  dengan  yang  lain  tingkat  cara  berpikiran,  ucapan dan  perbuatannya  sebagai  pribadi  yang  baik atau  pribadi  yang  buruk.  Diukur  dari  azas manfaat, apakah bermanfaat buat diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Semakin besar  bermanfaat  positif  baik  diberikan,  semakin  berharga  arti  keberadaan  hidupnya manusia.
“IQ  jongkok (amat  bodoh),Kere  klemprakan (melarat, kesrakat) sekalipun” selama  sebagai  orang  baik  dan  dapat  bermanfat  hidupnya  masih  berharga.  Ibarat kemana pun ia pergi akan dihargai oleh sesama. Adapun  yang  membedakan  manusia  dengan  hewan  adalah  perilaku.  Maka  jika manusia jiwa dan perilakunya seperti hewan, serta merta oleh masyarakat seseorang di-predikati  atau  di-juluki“menungso  sikile  papat” (manusia  berkaki  empat).  Demikian pandangan,  wejangan  guru  ilmu  kebatinan,  kaweruh  kejawen.  Guru  yang  berkwalitas batin hening, bening, sunyi, suci, bersih tanpa cacat.

Pandangan Benar Budaya dan ManusiaKata ”Benar” sinonim dengan kata ”Betul”. Akan tetapi setelah diuji kelayakan menurut ukuran  dewan  makna,  kedua  kata  ”benar”  dan  ”betul”  sungguh  mempunyai  arti  yang amat  jauh  berbeda.  Sangat  tergantung  situasi  dan  kondisi.  Pada  situasi  tertentu  dalan sebuah    persoalan    berlaku    hukum    ”kebetulan”    bukan    ”kebenaran”.    Misalnya; ”kebetulan”  mampu  membayar  sejumlah  uang,  maka  ia,  di  meja  sidang  pengadilan menang. Normal  dan  sangat  wajar  bila  setiap  orang  mengatakan  pandangannyalah  yang benar,  bahkan  paling  benar.  Akan  tetapi  tidak  setiap  orang  mengukur  pandangannya dengan   benar.   Justru   karena   itu,   pandanganya   yang   semula   dinyatakan   sebagai kebenaran  positif,  sesaat  kemudian  menjadi  pandangan  salah  berdampak  sistemik beruntun  turun temurun  negatif.  Untuk  itu  sebuah  kebenaran  harus  diukur  dan  diuji dari empat sisi pandang secara benar, yaitu; benar untuk diri sendiri, benar untuk orang lain,  benar  untuk  diri  sendiri  dan  orang  lain,  dan  keempat,  benar  untuk  lingkungan. Setelah  lolos  uji  dan  benar-benar clear, semua  pihak  bisa  menerima  kebenaranya  dan tidak  ada  lagi  pihak-pihak  yang  masih  menolak.  Itulah  ”kebenaran”  yang  sebenarnya benar. Bukan ”kebetulan” yang sengaja ”dibetul-betulkan”. Status  seseorang   memang   tidak   mungkin   bisa   dibuat   sama   tingkat   sosial ekonomi,  pendidikan,  kecerdasan,  pangkat  kedudukannya.  Tetapi  ada  satu  hal  yang sangat  mungkin  bisa  dibikin  sama,  yaitu  cara  berpikir  pandangan  benar.  Pandangan yang  telah  lolos  uji  dari  empat  sisi  pandang,  terbukti  mampu  menembus  batas-batas nusa, manusia, bangsa, budaya, agama, yang berbeda-beda sekalipun, menjadi harmoni di banyak peradaban. Bersama        Budayawan    W.S.        Rendra,        Bhikkhu Dhammasubho suatu ketika berbicara tentang budaya dan me manusiakan    manusia    dalam    pandangan    benar. Manusia  (Ind),  Menungso  (Jw),  Manusa  (Pali).  Dalam kamus  bahasa  Pali  sebuah  kata  manusa  dirinci  menjadi dua  suku  kata  ”mano”  dan  ”usa”,  artinya; mano (pikiran) dan usa (tinggi).
Manusia salah   satu   jenis   mahkluk   yang   berdaya   pikir tinggi.  Karena  itu  bagi  pikiran  yang  diberi  kesempatan berkembang,  bisa  menjadi  manusia  berpikiran  indah-indah,  cerdik,  cerdas,  pandai
secara  positif  sungguh  baik  luar  biasa  mengagumkan,  dan  sebaliknya  bisa  menjadi berpikiran   buruk,   jahat,   licik,   secara   negatif   sungguh   bahaya   yang   berpotensi menghancurkan. Pikiran  seperti  air.  Secara  alamiah  air  lentur  hadir  mengalir  kesemua  sela,  sedikit menjadi  becek,  banyak  menjadi  banjir,  merusak  semua  yang  ada.  Air  mempunyai tiga sifat  dasar;  pertama  menolak,  kedua  menerima,  yang  ketiga  tidak  peduli.  Ketiga  sifat dasar  tersebut  bila  dibiarkan  air  akan  bergerak  liar  tidak  bermanfaat.  Akan  tetapi apabila air dituntun diatur dibendung dialirkan secara teratur, dibuatkan saluran
irigasi dapat  bermanfaat  buat  pertanian,  dibuatkan  teknologi  mesin  dapat  bermanfaat  untuk membangkit  tenaga  listrik.  Pendekkata,  singkatnya  ”Air”  sangat  memberi  manfaat sungguh luar biasa mengagumkam pada alam dan kehidupan sepanjang jaman.Air  sama  halnya  dengan  pikiran,  bila  pikiran  dibiarkan  berkembang  apa  adanya, tanpa usaha aturan positif sesuai dengan tuntunan moral beradab kemanusiaan. Pikiran akan   berkembang   bersifat   menolak   terlalu   keras   menjadi   kebencian,   mengharap menerima  terlalu  banyak  menjadi keserakahan,  dan  jika  dibiarkan  tanpa  peduli  sama
sekali   menjadi   kedunguan.   Sebaliknya   apabila   pikiran   dituntun   dengan   aturan kemoralan,  kemanusiaan,  gemar  memberi,  memiliki  moral  yang  baik,  mempunyai pengendalian  diri.  Sungguh  pikiran  menjadikan  manusia berdaya  guna  tinggi  dan berharga di mana berada.Manusia  yang  didominasi  tiga  sifat  berpikir  keserakahan,  kebencian  dan kedunguan akan  menjadi  berpandangan  sempit,  seolah  di  ruang  gelap  tertutup  ketidak  tahuan. Tidak tahu membedakan mana kebajikan yang mencerahkan dan mana kejahatan yang menghancurkan.   Sehingga   kalaupun   bertindak,   perbuatannya   sering   menimbulkan sebab-sebab   bencana   yang   merusak   sendi-sendi   keharmonisan   hidup   berbangsa,
bernegara dan beragama. Sebaliknya,  manusia  yang  dituntun  dengan  sifat-sifat  pikiran  cerdik,  cerdas,
pandai  secara  positif  penuh  kebajikan  dan  iman  sesuai  azas  kebijaksanaan (wisdom),hingga    menjadi    berpikiran    peduli    dan    mampu    membina    hubungan    sosial kemasyarakatan  secara  horisontal,  membangun  tata  hubung  spiritual  ke-esa-an secara vertikal   yang   harmoni.   Ia   akan   tumbuh   berkembang   sebagai   manusia   beradab, berkemanusiaan, bekebajikan dan beriman di manapun berada, berdharma bhakti pada nusa  bangsa,  negara,  dan  agama.  Tanda  manusia  berhati  hening,
”Air  Muka”di wajahnya  ”bening”bersinar  terang,  tidak  kusut  berkerut-kerut-keriput.  Menyatakan
dirinya terbaik, tidak dengan mengatakan yang lain jelek ! Sebagai  manusia  dengan  daya  budaya  berpikir  cerdas,  berwawasan  luas  dan memiliki  pengertian  mendalam  akan  menjadi  sadar  bahwa  pada
dasarnya  mahkluk hidup  manusia  yang  hanya  berukuran ”satu  depa”itu  terdiri  dari  dua  bagian,  yaitu;
bagian  jasmani  dan  rohani.  Terdiri  dari  perpaduan  bahan  baku  tunggal  sama.  Badan jasmani  terdiri  dari  perpaduan  empat  unsur,  yaitu;  unsur  tanah,  unsur,  air,  unsur  api, dan unsur angin (bumi, geni, angin, banyu). Rohani batin terdiri dari perpaduan empat daya,   yaitu;   daya   tangkap   melalui  pintu-pintu   indriya,   kedua   daya   serap   melalui perasaan, ketiga daya cipta melalui pikiran, dan keempat daya ingat melalui kesadaran. Seseorang semakin baik kesadarannya semakin tajam daya ingatnya. Kesadaran  yang  baik  mampu  menserap  dan  merenungkan  makna  sebuah  kata pepatah  ”giri  lusi---giri=gunung,  lusi=rumput”.  Artinya,  setinggi-tingginya  rumput  di atas  gunung,  di  atasnya  lagi  masih  ada  mendung.  Ingat  bahwa  di  dunia  ini yang  sudah pada  posisi  tinggi  pun,  masih  ada  lagi  yang  lebih  tinggi.  Puncak  kesadaran  agung  yang dicapai  melalui  sebuah  pencerahan,  sadar  bahwa  yang  paling  tinggi  hanya  satu,  yaitu ”hukum  abadi  yang  tidak  pernah  berubah,  berada  sangat  dekat,  mengundang  untuk
dibuktikan.” Apabila  dan  bilamana  demikian  pencerahannya  seseorang  menjadi  tidak  sombong.
Sadar  akan  keberadaan  dirinya  tidak  sendiri,  tetapi  ada  yang  lain.  Semata-mata  tidak tergantung  p
ada  satu  daya  kekuatan  secara individual,  melainkan  saling  bergantungan satu  sama  lain  secara
plural.Hingga  mau  bergandengan  tangan  membentuk muzaick kehidupan bercorak warna-warni indah. Banyu PurwitosariDiantara  organ  tubuh  paling  banyak  disebut  sesuai  jenis  dan  fungsi  adalah  AIR,  yang lain  tidak.  TANAH,  API,  hanya  disebut  satu  kali,  angin  dua  kali  saja;  ”ANGIN  atau UDARA”.  Atau  dalam  tradisi  kaum  yoga,  para  yogi  mempunyai  istilah  indah  berkait dengan angin, tersendiri ”makan ANGIN”. Oleh karena segerta ternyata dan sebenernya ”Angin  atau  Udara”  yang  bersih  tidak  polusi mempunyai  kandungan  energi  postif  baik sehat  dibutuhkan  bagi  tubuh.  Artinya  para  pertapa,  kaum  yogiwan,  orang  yang  sedang menjalani  puasa  ringan  Senin-Kamis  total  24  jam,  puasa  berat  total  72  jam (puasa ngebleng empat  puluhan tiga  hari  tiga  malam  tanpa  makan,  minum  selama  72  jam). Akan  tetapi,  dengan  hanya  dapat  menghirup  udara  bersih  tidak  polusi,  bisa  kuat
bertahan  menjalani  puasa  tanpa  minum  air,  tidak  makan  padat,  cukup  dengan  istilah indah, hanya ”makan angin”. Dibenarkan bahwa badan jasmani kita 2/3 berisi air. Tergantung konteks budaya dan
manusia  bersangkutan  AIR  diucapkan  secara  bahasa  konvensional  sesuai  fungsi.  Yang kita  kenal  saja  sesuai  fungsi  dan  warna  dalam  tubuh,  istilah  bahasa  ”kedokteran”  atau bahasa ”pedukunan” sehari
-hari AIR disebut; Water(Ing), Yeh(Bali), Tirta(Sknt), Apo(Pali), Banyu,  idhu,  iler,  umbel,  uyuh,  kopok,  blobok  /  eluh,  dan  getih, (Jw. ngokorakyat), atau darah merah, darah putih, getah bening, ingus, air pahit empedu, air liur, air  mata,  air  keringat,  air  kencing,  dan  ASI  (air  susu  ibu),  (Indonesia.).  Masih  dengan istilah  indah  tersendiri  dalam  dunia  industri,  sesuai  fungsi  ”cairan  air”  biasa  disebut ”minyak  /  oil”,  yaitu;  minyak  goreng,  minyak  tanah, bahan  bakar  minyak  (BBM), minyak  wangi,  minyak  kayu  putih,  minyak  tawon,  minyak  ikan  duyung.  Dan  kaum ningrat  priyayi  dengan  istilah  indah  khusus  tersendiri  dalam  bahasa kromo  inggil Jawanologi mengistilahkan, banyu purwitosari, tirto kamandanu
(padahal spirmalah masudnya, sebab diucapkan pejuh amat tabu dilarang sebut, dianggap tidak santun dan
kasar  bila  diucapkan). Sedangkan  sebagai  menurut  bahasa  ilmiah  kimiawi  kedokteran AIR disebut H2O. Fungsi  air  dalam  hidup  dan  kehidupan  adalah,  membasahi,  menyirami,  mencuci, melunak-lembutkan, dan menghidupi. Dalam dunia spiritual air berfungsi sebagi media saving  energi (menyimpan  kekuatan  tenaga  dalam)  saat  ucapara  pemberkahan.  Air yang  telah  di  upacarakan,  umat,  masyarakat  menyebutnya  ”air  berkah.”  Daya guna  airberkah, diyakini mengandung kekuatan tertentu dan tersendiri tidak tampak. Terdapat banyak  kisah  goib  ajaib,  penyembuhan  alternatif  berkaitan  dengan  kekuatana  air berkah.  Dua  puluh  lima  (25)  abad  lampau  dapat  dijumpai  sebuah  kisah  tentang  air berkah raja
Vaisali, India (560an S.M). Dikisahkan; ·”...Karena  dilanda  kekeringan  di  mana-mana  seluruh  wilayah  negeri.  Berakibat timbulnya   bencana   alam,   wabah   penyakit,   dan   musibah   kematian.   Banyak penduduk  meninggal  dunia  secara  masal,  dan  lahir  menjadi  mahkluk  halus kelaparan, roh gentayangan yang menimbulkan energi negatif, berpengaruh pada suasana   alam   kehidupan   nyata   tidak   nyaman.   Berdampak   menjadi   wabah penyakit phisik maupun mental yang mengganggu masyarakat. Raja mengundang Sang  Buddha  datang  ke  istana  guna  memberi  saran ruwatan apa  yang  musti dilakukan  demi  pemulihan  suasana  alam  aman,  gangguan  kejiwaan  masyarakat bisa pulih hidup tenteram. ·Buddha berkata, mantra-mantra paritta, yang dibacakan dengan baik dan benar membawa   manfaat   berkah   utama   tiga   macam,   yaitu;   bisa   menjadi   obat pensembuhan,  menciptakan  ketenangan  lahir  batin  dan  lingkungan,  dan  ketiga memperpanjang  umur  kehidupan.  (Bayangkan.....  semua  jenis  kehidupan  yang mengalami gangguan stress berat cepat sekali mati). Akan tetapi mantra-mantra paritta akan   hilang   daya   kekuatan   disebabkan   tiga   hal,   tidak   mempunyai keyakinan,  timbul  keragu-raguan,  dan  akibat  karma  buruk  masa  lampau  terlalu berat.  Karena  itu,  agar mantra-mantra paritta,  tetap  mempunyai  daya,  maka cara  membaca mantra-mantra  paritta,  harus  dengan  penuh  keyakinan, full energi  menunggal  cipta,  budi  karsa  dan  rasa,  dan  didukung  banyak  puja  dana amal  kebajikan.  (misalnya,  menyelamatkan  nyawa  mahkluk  hidup,  menolong penderita, melepas hewan yang tertangkap maut agar terlepas dari pembunuhan). ·Raja  dan  rakyat  melakukan  puja  bakti,  mempersembahkan  puja  dana  sesuai tradisi  sesaji,  budaya  puja  masyarakat  setempat  (semacam  upacara ruwatan, selamatan   bersih   desa).   Buddha   datang   mengajak   para   bhikkhu   melakukan blessing, pemberkahan. Dengan cara, menggunakan media air dibacakan mantra -mantra  paritta suci  spiritual  keagamaan.  Selanjutnya  air  yang  sudah  dibacakan mantra -mantra  paritta,  digunakan  sesuai  kebutuhan,  diminum,  dipancarkan  di
tempat-tempat  yang  terkena  gangguan.  Konon  tidak  lama  kemudian,  keadaan masyarakat  pulih  tenteram,  energi  alam  kembali  bersinar  cemerlang,  560  S.M.(Ratanasutta, Sutta Pitaka.)----------------------------------------------------------------------
oDi Indonseia, Kasus serupa wabah di kerajaan Vaisali, India, pernah terjadi. Kejadiannya, pasca  peristiwa  Sambas,  Kalimantan  Tengah.  Suasana  mencekam  setelah terjadi  pembantaian  massal  warga  Madura  sebagai  korban.  Lantaran  warga Madura asal pulau Madura, Jawa Timur, yang datang merantau dengan gaya pola  pikirnya  sendiri,  dan  tidak  tahu  diri  secara  manusiawi,  berkelakuan terhadap    suku    Dayak    di    Kalimantan    Tengah.    Akibatnya    berujung kemarahan  suku  Dayak  memuncak.  Puncuk  pimpinan  kepala  suku  dayak pedalaman  turun  gunung  dan  muncul  di  permukaan  dengan  pedang  sakti
berayun-ayun.  Pertempuran  tak  dapat  dihindari  beratus-ratus  leher  warga Madura  putus.  Suasana  sangat  mencekam,  siang  dan  malam  hari  keadaan kota  sepi,  sunyi,  senyap,  gelap  tanpa  cahaya,  warga  berhenti  beraktifitas, aparat  kehilangan  daya.  Baru,  setelah  pemerintah  berindak  tegas,  deklarasi perjanjian  damai  dikumandangkan.  Isi-inti  warga  Madura  harus  tau  diri, suku  Dayak  mau  mengampuni.  Berikut  diselenggarakan  pemberkahan  ”air suci”  menurut  upacara  adat  tradisi  Dayak.  Segera,  tidak  lama  kemudian suasana   aman   pulih   kembali   normal,   hati   rakayat   pulih   tenang   hidup tenteram, alam lingkungan, desa, kota, kembali bercahaya cemerlang terang benderang. (Sampit, 2000
-2001).-----------------------------------------------------------------
·Tradisi blessing menggunakan media air masih dikenal, bahkan semakin terkenal dilakukan  masyarakat  sesuai  tradisi  sesaji,  budaya  puja  agama-agama  hingga sekarang. (Kitab   Vacana   Pali,   Ratana   Sutta,   buku   paritta   suci   Sangha Theravada Indonesia (1980).Tradisi rakyat setempat soal ”ngalap air berkah” dalam kepercayaan agama non agama-agama  dapat  dijumpai  di  berbagai  wilayah  budaya  bangsa  manusia  di  Indonesia. Misalnya;·Belum  lama  lalu,  ribuan  masayarakat  dibuat  terperanjat  da
tang  dengan  nekat chidmat oleh AIR PONARI, di Jombang Jawa Timur (Januai 2009). Ponari, anak
berusia  kelas  SD  tiba-tiba  menjadi  kisah  yang  menambah  isi  lembaran  sejarah masyarakat  pengalab  air  berkah,  lepas  dari  kajian  secara  ilmiah.  Tetapi  terbukti setiaphari  hingga  berhari-hari  dapat  dibaca  di  halaman  berita  media  cetak,  dan dapat dilihat dari tayangan televisi. Ribuan masyarakat datang ke Jombang rata-rata untuk ”ngalab air berkah Ponari”. Yang diyakini bertuwah penyembuh murah ·Di  Sumber  Sendang  Sono (mata  air  di  bawah  pohon  Angsana),  di  perbukitan tandus  sepanjang  jaman  berlokasi  di  daerah  masuk  wilayah  kecamatan  Salam, Borobudur, Jawa Tengah. Acara ngalap air berkah mentradisi dan membudaya di kalangan masyarakat (bukan saja umat agama Katolik merayakan misa). ·Lebih   seru   lagi,   Sumber   air   berkah   di   lingkungan   Candi   Agung   Amuntai, Kabupaten   Hulu   Sungai   Utara,   Kalimantan   Selatan   juga   diyakini   bertuwah. Berbotol-botol    setiap    hari    dibawa    pulang    oleh    masyarakat    adat    Dayak Kaharingan.   Hingga   umat   Muslim   gedongan   yang  walaupun   sudah   pernah mendapat ”barokah air Zam-Zam” dari Mekah. Tetapi toh masih mau juga dengan air  berkah,  dari  sumber  mata  air  di  lingkungan  Candi  Agung  Amuntai  buat digunakan berbagai keperluan. ·Air  berkah ”Mbah  Pradah”,di  kecamatan  Lodoyo,  Blitar,  Jawa  Timur,  menjadi event
keramat  tanggal  12  Syuro  setiap  tahun.  Ribuan  rakyat,  pejabat  kaum birokrat,  hingga  bupati  datang  berduyun-duyun  dan  rukun.  Berjalan  berlutut nomer urut, antre guna mendapat AIR BERKAH MBAH PRADAH, air yang telah digunakan untuk memandikan pusaka berupa Gong Kyai Pradah (Mpu Baradah),
dan beberapa wayang kayu, peninggalan kerajaan Kediri kuno. ·Ngalab  air  berkah  kirab  kraton  Solo,  adalah  ”kirab  pusaka  keraton  yang  diiring dalam  satu  perjalanan  bersama  kerbau  albino  kyai  Slamet”  Solo.  Setiap  acara kirab tiba, bagi yang merasa dirinya titah allah dan bertumpah darah (terlahir) di
bumi  wilayah  Surakarto  Hadiningrat,  merantau  dimana  pun  berada,  mereka merasa perlu pulang. Perjalanan kirab pusaka (prosesi keliling kota), terjadi pada tanggal  1  Syuro.  Pelaksanaan  upacara  adat  kraton  dipimpin  oleh  dewan  adat pejabat  istana  di  bawah  Parentah  Sampeyan  Dalem  Hengkang  Sinuwun  Sri Susuhunan  Pangarso  Siti  Hinggil  Surokarto  Hadingrat  yang  berwenang,  jam  12
tengah  malam  dimulai.  Arak-arakan  terdiri  dari  para punggowoabdi  dalem  dan krabat kraton,
nayoko projo (pegawai istana), dengan khidmat mengikuti prosesi keramat  berjalan  tanpa  alas  kaki  mengusung  pusaka  jimat-jimat.  Dengan anglo pedupaan menyala  kemenyan  menebar  aroma  sakral  kepulan  asap  putih  tanpa henti.  Rombongan  berjalan  di  belakang  sekawanan  kerbau,  dan  kerbau  yang dianggap  keramat  adalah  seekor kerbau  albino  (belang  bule)  ”kyai  Slamet.” Sepanjang  lorong-ruas  jalan  yang  dilalui  rombongan  kirab,  di  tepi  kanan-kiri jalan ribuan masyarakat berdiri, yang lain duduk-duduk sambil mengantuk, sabar menunggu hingga prosesi lewat, mereka baru bubaran. Dan y
ang paling ditunggu -tunggu oleh ribuan masyarakat pengharap berkah adalah berkah si kerbau albino
kyai  Slamet,  manakala  dalam  perjalanannya  keliling  kota  ini  kerbau  albino  kyai Slamet   berkenan   membuang  kotoran (tlethong),atau   kencing.   Konon   kalau kotoran tlethong dan ”air  kencing”sang  kerbau  albino  kyai  Slamet  menjadi rebutan.  Jangan  dibantah,  tidak  boleh  dipersalah,  sebab  ini  serius,
”air  kencing” dan tlethong kebau albino kyai Slamet diyakini membawa berkah bertuwah. ***Akhir  kisah,  bahwa  segerta ternyata  tentang  AIR  BERKAH  sudah  dikenal  sejak  jaman sangat  dahulu.  Tradisi  blessing  menggunakan  media  AIR  sejak  ribuan  tahun  lalu dilakukan,    masih    dikenal,    bahkan    semakin    terkenal    dilakukan    di    lingkungan masyarakat  masa  kini,  sesuai  tradisi  sesaji,  budaya  puja  agama-agama  sekarang.  Tesis hopotesis secara saintis Doktor Marimotto tentang air, diakui sah masuk dalam wilayah kajian  ilmiah  abad  modern  paling  kini,  bahwa  air  berlaku  sebagai  media  saving  energi sesuai  pesan  negatif  atau  positif  diberikan,  disimpan.  Oleh  air  ditampilkan  berupa partikel-
partikel     disajikan     kembali     berdampak     negatif,     positif     kepada     para penggunanya. Inti  isinya,  pesan  Thematik  Seminar  Tentang  Air  Dan  Kehidupan  Dalam  Naskah Kuno  Nusantara,  Air  dan  Hidup  Manusia  Secara  Saintis  Dalam  Pandangan  Agama Buddha.  Hendaknya  dapat  kembali  dipahami,  bahwa  hidup  mahkluk  jenis  apa  pun, manusia,  hewan,  binatang,  pepohonan,  tumbuh-tumbuhan,  tanaman,  tanpa  air  pasti mati. Untuk itu, manusia secara etis, estetis, saintis, maupun tradisi budaya dogma do’a agama,  harusnya  sadar,  dan  musti  hati-hati,  tahu  mengerti  cara  menjaga,  merawat kelesatarian lingkungan tetap hidup agar sumber air tidak berhenti mengalir. 
-o0o-Oleh : Bhikkhu Dhammasubho Artikel disajikan pada Seminar Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Jakarta, 5-6 Oktober 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar