Selasa, 27 September 2016

Serdadu Hans dan Putri Raja



Serdadu Hans dan Putri Raja

Raja dari London mempunyai seorang anak perempuan yang sudah dewasa. Oleh karena itu sang Raja memerintahkan, menyerukan dan mengumumkan bahwa ia akan menikahkan anak perempuannya dengan seseorang yang bisa menerka, dimana Tuan Putri tidur, akan tetapi siapa yang gagal, ia akan dihukum gantung.

Kemudian berdatanganlah para kesatria yang luhur, yang berusaha, mencoba mendapatkan dimana tuan Putri tidur, tetapi tak seorangpun berhasil menerka hal itu. Apabila salah seseorang kesatria itu datang, tuan Putri mengantar orang tersebut ke dalam taman dan disana ia memberikan orang itu segelas Anggur, kemudian tertidurlah kesatria tersebut, dan sang Putri pergi ke kamarnya, dan karena itulah tidak seorang pun dapat mengetahui dimana tuan Putri tidur.

Lalu serdadu Hans berkata “Sekarang giliran aku yang akan mengatakan kepada Raja, dimana anak perempuannya tidur.” Semua orang mengatakan bahwa ia sudah gila, dan ia akan digantung seperti yang lainnya. Akan tetapi serdadu Hans tetap berangkat ke Istana dan berkatalah seseorang kepadanya:”Majulah! Maju terus! Tiang gantung memang sudah tersedia!”. Tetapi seseorang yang pintar seperti serdadu Hans, tidak menjawab perkataan itu.

Maka datanglah tuan Putri, ia mengantar serdadu Hans ke dalam taman dan memberinya segelas anggur, supaya ia meminumnya. Tetapi seseorang yang pintar seperti serdadu Hans, tidak meminumnya. Ia menuangkan semua anggurnya ke dalam bajunya, seolah-olah ia telah menghabiskannya. Lalu ia duduk di sebuah bangku dan berbuat seakan-akan dia sudah tertidur. Tanpa prasangka apapun, pergilah sang Putri ke kamarnya.  Serdadu Hans pun mengikutinya.

Sebelum tuan Putri sampai di kamarnya, ia menghampiri sebuah lubang dan berkatalah ia: ”Cemara, menunduklah!” Maka cemara itu menundukkan batangnya dan sang Putri melangkah di atas cemara itu untuk melewati lubang itu. Serdadu Hans yang membuntutinya, juga  menghampiri lubang itu dan berkata:” Cemara, menunduklah!” Dan cemara itu pun menundukkan dahannya sampai ke tanah kemudian ia pun menyeberangi lubang itu.

Lalu sampailah sang Putri di depan kamarnya, dan berseru:” Dewa dan Angin”, kemudian ia berubah menjadi angin dan berhembus masuk melalui lubang kunci tanpa membuka pintu terlebih dahulu. Serdadu Hans yang membuntutinya, melakukan hal yang sama dan masuk ke dalam kamar sang Putri. Saat sang Putri berada di dalam kamarnya, ia berseru,” Dewa dan Wanita” lalu ia kembali menjadi sang Putri dan pergi menuju kamar tidurnya untuk tidur. Kemudian serdadu Hans juga berseru: “Dewa dan Laki-laki”, maka kembalilah ia menjadi laki-laki. Ia melihat kamar tidur tuan Putri, pada saat sang Putri memasuki kamar tersebut. Dan tuan Putri menutup pintu kamarnya tanpa menyadari kehadiran serdadu Hans, serdadu Hans berdiri tegak dan memandang ke sekelilingnya, terlihat olehnya sebuah ruang makan yang indah berserta meja makan yang sudah ditata rapih, lalu ia menghampiri meja itu dan mengambil 3 buah garpu makan dan satu buah serbet, yang mana dirajut nama sang Raja. Di atas meja itu ia melihat 3 ekor ayam hutan yang sudah dimasak, kemudian ia memotong kepala ayam-ayam itu dan memasukannya bersama-sama dengan garpu dan serbet ke dalam tasnya. Lalu ia kembali ke dalam taman dan berbaring tidur karena hari sudah larut malam. 

Keesokkan harinya datanglah seseorang menjemput serdadu Hans untuk membawanya ke tiang gantung, sebagaimana yang lainnya yang juga telah digantung, karena sang Raja yakin, bahwa serdadu Hans pasti tidak berhasil mendapatkan apa pun. Orang itu juga membawa serdadu Hans menghadap Raja, dan berkatalah sang Raja kepada Hans, “Nah, serdadu Hans, tahukah kamu sekarang dimana tuan Putri tidur?” “Tentu saja, Yang mulia”, kata serdadu Hans. “ Saya telah berada di dalam kamarnya, dan melihat tuan Putri berjalan menuju ke kamar tidurnya, sekarang saya tahu, dimana tuan Putri tidur. Saya juga melihat ruang makan tuan Putri, juga 3 buah garpu diatas meja dan satu serbet dengan rajutan nama sang Raja. Dan di atas meja saya juga melihat 3 ekor ayam hutan, yang kepalanya sudah dipotong”. Untuk membuktikan perkataannya, serdadu Hans mengeluarkan semuanya dan menunjukkan kepada Raja, 3 buah garpu, serbet dengan nama Raja, dan 3 buah kepala ayam hutan itu.

“Tidak dapat diragukan lagi”, kata Raja. Ia telah menemukannya, laki-laki ini haruslah menikah dengan tuan Putri. Dan berkatalah sang Raja kepada serdadu Hans,”Akan tetapi untuk dapat menikahi anak perempuanku masih ada satu syarat lagi, dan syarat itu adalah kamu harus bisa membuat kelinci-kelinci berbaris seperti serdadu”. Lalu sang Raja pergi, mengambil 25 ekor kelinci dan memberikannya kepada serdadu hans, seraya berkata,”Dalam kurun waktu 3 hari kelinci-kelinci ini haruslah bisa berbaris”.

 Kemudian serdadu Hans mengulurkan tangannya mengambil kelinci-kelinci itu, dan ia menjadi sangat sedih karena ia tidak tahu bagaimana harus mengajar kelinci-kelinci itu berbaris. Ia pun pergi membawa keranjang yang penuh dengan kelinci. Di tengah perjalanannya bertemulah ia dengan seorang penyihir tua dan ia menceritakan padanya, apa yang terjadi pada dirinya. “Janganlah kamu bersedih hati karena hal itu,” kata penyihir tua itu kepadanya, “ Lihat ini, suling ini saya berikan kepadamu, supaya kamu dapat membawa semua kelinci itu berbaris seperti serdadu”. Dan penyihir tua itu pun memberikan suling itu kepadanya. Segera ia melepaskan kelinci-kelinci itu dan mulai memainkan suling tersebut, kemudian semua kelinci kecil itu pun mulai berbaris. Lalu berserulah ia dengan sulingnya “Hadap ke kanan grak! Hadap ke kiri grak! Perhatian! Maju jalan!” Dan kelinci-kelinci kecil itu pun berbaris seperti serdadu-serdadu kecil.

Keesokan harinya datanglah serdadu Hans ke depan istana dan kelinci-kelincinya berbaris di belakangnya, mengikutinya memasuki istana. Ketika Raja dan tuan Putri keluar dari istana dan melihat bagaimana kelinci-kelinci itu berbaris, berkatalah sang Raja,” Sekarang benar-benar tidak dapat diragukan lagi. Serdadu Hans telah mengalahkan kita lagi!” Kemudian berjalanlah serdadu Hans dengan kelinci-kelincinya itu dan berseru,”Perhatian! Hadap ke kanan grak! Hadap ke kiri grak!”. Ia juga tetap meniup serulingnya dan kelinci-kelinci itu berbaris dibelakangnya.

Kemudian sang raja memanggil tuan Putri  dan berkata,” Dengar, pergilah kamu kepada serdadu Hans dan belilah atau rampaslah seekor saja dari kelinci-kelinci itu” Keesokan harinya sang Putri pergi menemui serdadu Hans beserta kelinci-kelincinya dan dia pun berkata, ”Dengarlah serdadu Hans, juallah salah satu kelincimu kepadaku.” Kemudian serdadu Hans berkata bahwa ia tidak menjual kelinci-kelincinya demi apapun di dunia ini. Tetapi tuan Putri memohon dengan sangat kepadanya, hingga akhirnya serdadu Hans berkata, ”Baiklah, hamba akan mengatkan sesuatu kepada tuan Putri, hamba akan memberi tuan Putri seekor kelinci, apabila tuan Putri mengijinkan hamba tidur bersama tuan Putri malam ini”. “Baiklah”, kata sang Putri. Dan serdadu Hans pun memberikan kelinci itu kepada tuan Putri.

Malam harinya, pada saat serdadu Hans datang ke tempat tuan Putri, untuk tidur bersamanya, kelinci itu masih berada di kamar sang Putri. Pada keesokan paginya, ketika serdadu Hans meninggalkan kamar sang Putri, mulailah ia meniup serulingnya, dan kelinci yang berada di dalam kamar sang Putri mulai menggaruk-garuk, gelisah lalu meloncat turun dan melompat secepatnya menuju serdadu Hans. Kemudian berbarislah kelinci itu kembali menjadi 25 ekor kawanan kelinci. Lalu sang Putri pergi kepada ayahnya dan berkata bahwa kelinci itu telah kembali ke serdadu Hans.

Dan bersabdalah sang Raja, supaya serdadu Hans dipanggil datang kepadanya, karena ia ingin menikahkan serdadu Hans dengan putrinya. Sambil menari masuklah serdadu Hans dengan kawanan kelinci itu. Kata Raja kepadanya, ”Baiklah, engkau telah menguasai sang Putri. Akan tetapi masih ada satu lagi yang harus kau kerjakan, sebagai syarat yang terakhir yaitu engkau  harus membawa kepadaku satu karung penuh dengan kebohongan”. Kemudian berangkatlah serdadu Hans dengan kelinci-kelincinya.

Keesokan harinya serdadu Hans datang kembali ke istana dan ia meminta satu karung yang kosong dan seseorang memberikan karung itu kepadanya. Kemudian berserulah ia kepada sang Raja, ia meminta supaya ia dapat berbicara dengan sang Putri dihadapan semua warga Istana. Seseorang lalu memanggil sang Putri dan berkatalah serdadu Hans kepadanya, “Masih ingatkah tuan Putri, bahwa tuan Putri datang kepada hamba untuk membeli seekor kelinci dan hamba menolak untuk memberikannya tetapi pada akhirnya hamba mau juga memberikannya karena tuan Putri mau tidur bersama hamba untuk satu malam?”. Sang Putri menjawab,” Tidak, Tidak, Aku tidak tahu apa pun tentang itu.“ “Setengah karung sudah penuh dengan kebohongan” teriak serdadu Hans. Kemudian berkata lagi serdadu Hans kepada sang Putri,” Masih ingatkah tuan Putri, bahwa tuan Putri sepanjang malam itu telah tidur dengan saya dan bahwa keesokkan harinya saya berangkat lagi dengan kelinci yang telah saya berikan kepada tuan Putri?” dan sang Putri berkata, “ Tidak, Tidak, saya tidak tahu apa pun tentang itu”.

“Karung  ini sekarang telah penuh dengan kebohongan!” seru serdadu Hans. Setelah Raja mendengar, bahwa semua yang dikatakan oleh serdadu Hans adalah kebenaran, kemudian berserulah sang Raja, ”serdadu Hans telah mengalahkan kita, sekarang ia akan menikahi anak perempuanku.” Lalu menikahlah serdadu Hans dengan Putri sang Raja.     


Tamu Rahasia



Tamu Rahasia

Di sebuah desa hiduplah seorang gadis yatim piatu yang miskin bernama Genoveva. Untuk membiayai hidupnya, di musim panas ia bekerja di ladang dan pada musim dingin ia mengumpulkan kayu bakar. Pada malam hari ia memintal kapas menjadi benang yang halus untuk dijual di pasar, semakin banyak kapas yang ia pintal tentu semakin banyak pula benang yang dapat dijualnya dan demikian juga uang yang dapat ia tabung. Tentunya itu adalah keinginan Genoveva. Perlu kalian ketahui, Genoveva dan Johann, seorang penggembala domba, adalah sepasang kekasih, mereka sudah mengikat janji untuk menikah.

“Kapan kita mempunyai cukup uang untuk membeli sebuah rumah kecil?”, keluh Johann kepada Genoveva. “Seandainya aku mempunyai banyak kapas, tentu aku dapat membuat lebih banyak benang untuk dijual dan kita akan mempunyai banyak uang”, kata Genoveva sambil terus memintal.

Pada saat yang sama, terbukalah pintu rumah Genoveva dengan sendirinya dan seorang kerdil yang terkenal menyukai orang yang rajin berdiri di hadapan mereka. Genoveva memandang keheranan. “Cobalah alat pintal ini, Genoveva!”, kata si kerdil sambil meletakkan sebuah alat pintal dan kapas² di atas meja dan segera menghilang secara tiba-tiba tanpa peringatan seperti ketika ia datang. Dengan ragu-ragu Genoveva menyentuh alat pemintal itu dan mencobanya.

Sungguh ajaib! Sekarang ia dapat memintal kapas sebanyak yang ia inginkan dan kapas itu tidak berkurang sedikitpun. Kini mereka pun akan segera mempunyai cukup banyak uang untuk membiayai pernikahan mereka.

Ketika hari pernikahaan mereka sudah dekat, orang-orang di desa itu turut menyumbang bahan-bahan makanan untuk keperluan pesta mereka. Ada yang memberikan daging asap, daging kelinci, susu, mentega, telur, gula dan tepung untuk membuat kue pernikahan, serta satu tong minuman anggur dan masih banyak lagi yang lainnya.

Pasangan calon pengantin itu pun mengundang semua penduduk desa untuk menghadiri pesta pernikahaan mereka. Tetapi kemudian timbul masalah lain, yaitu bagaimana mereka harus mendapatkan panci dan belanga untuk memasak makanan yang begitu banyak, juga piring serta cangkir untuk menyajikan makanan itu dan menjamu tamu-tamu mereka nanti. Sedangkan mereka juga tidak mempunyai cukup uang untuk membeli semua peralatan itu. Genoveva pun terlalu enggan untuk meminjam barang-barang itu dari tetangga.

Tiba-tiba ia teringat pada orang-orang kerdil yang sudah sering memperbaiki panci dan cawan penduduk desa. Ketika hari telah gelap pergilah ia ke bukit orang kerdil dan di muka gua Genoveva meletakkan sebuah surat. Di dalam surat itu ia mengutarakan kesulitannya dan sekaligus juga mengundang mereka ke pesta perkawinannya.

Keesokan harinya dengan tergesa-gesa Genoveva kembali ke gua itu. Ternyata di sana telah tersedia peralatan makan, yang terbuat dari perak asli yang sangat berkilauan, orang pun dapat bercermin dengannya, tidak ketinggalan pula pisau, garpu dan sendok. Karena banyaknya barang-barang itu, Genoveva sampai harus berkali-kali bolak-balik untuk membawa barang-barang itu ke rumahnya.

Pada hari berikutnya lonceng Gereja berdentang, dan resmilah Genoveva menjadi istri Johann. Setelah upacara di Gereja usai, para tamu keluar beriringan menuju desa ke tempat di mana meja telah tertata rapih, kemudian para pemusik mulai memainkan alat musiknya. Semua tamu memandang dengan kagum pada peralatan makan dari perak yang begitu indah, tetapi tidak seorangpun mempertanyakan hal itu.

Ketika para tamu hedak makan, tiba-tiba makanan di atas piring mereka lenyap begitu saja. Lalu terdengar Walikota berkata, “Hei, apa yang terjadi? Satu menit yang lalu sepotong kelinci panggang masih ada di piringku, sekarang lenyap. Aku bersumpah belum memakannya.”. “Kemana Anggurku?”, teriak seorang Petani. “Dan kueku?”, keluh seorang gadis kecil. Genoveva tertawa dibalik kerudung pengantinnya “Pasti orang-orang kerdil itu sudah datang.”, pikirnya seraya gembira akan kedatangan mereka.

Akhirnya tiba waktunya bagi kedua pengantin untuk pulang. Para tamu memberi salam kepada kedua mempelai sambil mengucapkan terima kasih. Ketika semua tamu telah pergi, terdengarlah suara, “Letakkan topimu terbalik di atas kursi, Johann!”. Meskipun mereka tidak melihat siapa pun saat itu, mereka tetap melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka.  Genoveva dan Johann juga mendengar suara langkah-langkah kecil dari kaki-kaki yang kecil serta bunyi deringan. Kemudian suara yang tadi terdengar lagi, “Bawalah pulang topi mu dengan hati-hati dan jangan lihat ke dalamnya sebelum kau tiba di rumah dan menutup pintu rapat-rapat!”

Johann berkedip-kedip terkejut dan juga sedikit cemas, tetapi Genoveva memberi isyarat padanya supaya ia diam. Ketika mereka sudah membawa topi itu dengan aman dan sampai di rumah, mereka melihat ke dalam topi itu. Dan tahukan kalian, apa yang mereka temukan didalamnya? Ratusan keping emas sebagai hadiah pernikahan dari orang-orang kerdil itu. Semua tampaknya telah dibersihkan sampai mengkilap, sehingga kelihatan sangat bercahaya. Benar-benar merupakan suatu anugerah.

Keesokan harinya mereka mengembalikan peralatan makan yang mereka pinjam ke bukit orang kerdil itu, semua peralatan itu telah bersih digosok dan dipoles sampai mengkilap. Dan sebagai rasa terima kasih, Genoveva juga meletakkan sebuah karangan bunga di atas mangkok yang besar sekali untuk bangsa kerdil itu.

Ketika anak pertama mereka lahir, pagi harinya mereka menemukan sebuah mangkok perak di dalam ayunan bayi mereka. Dan kejadian serupa terjadi pada anak-anak mereka berikutnya. Salah satu cucu dari cucu Genoveva menceritakan kisah ini kepada nenek buyutku dahulu kala.
















Kisah Kue Ratu Pastel



Kisah Kue Ratu Pastel
Dongeng penghantar tidur dari Prancis

Pada jaman dahulu ketika ruangan dapur masih sebesar ruang dansa, terdapat seorang jurumasak wanita pembuat kue Pastel Istana Raja Perancis, bernama Pimpernelle. Dan kisah tentng Pimpernelle inilah yang sekarang akan saya ceritakan kepada kalian.

Pimpernelle adalah seorang jurumasak wanita pembuat kue Pastel yang terbaik sehingga namanya terkenal di seluruh Prancis. Orang bilang bahwa di sana setiap warga bersantap seperti seorang Raja, dan seni memasak dihargai sangat tinggi seperti seni melukis dan membuat puisi.

Kepala rumah tangga Istana hanya tinggal memberikan isyarat apabila ia membutuhkan Pimpernelle, “Hari ini akan datang Adipati dari Humberland Utara dan Adipati dari Humberland Selatan, mereka ingin menipu Raja kita.” Segera Pimpernelle mengambil kotak Lada dan menabur bubuk lada secara merata ke dalam isi kue Pastel, supaya kedua Adipati tersebut terpaksa terus menerus meminum air. Dan terjadilah seperti yang sudah direncanakan Pimpernelle, sehingga mereka melupakan rencana mereka untuk menipu Raja.

Pada suatu waktu Pimpernelle menghidangkan kue Pastel sarang burung untuk anak perempuan Kaisar Cina. Tiba-tiba di tengah perjamuan, Putri itu memeluk Raja dan mencium pipi sang Raja kanan dan kiri, kejadian ini tidak setiap saat dialami oleh Raja Perancis.

Di saat yang lain Pimpernelle menyisipkan buah arbei dengan takaran yang tidak sedikit ke dalam kue pastel yang seharusnya terbuat dari buah persik untuk seorang utusan dari kerajaan Spanyol. Setelah memakannya, utusan Spanyol tersebut hanya bisa pergi terbirit-birit disertai amarah yang besar ke segala penjuru istana, yang akhirnya sampai ke tempat sang Raja sedang jalan.

Bagaimana mungkin lagi sang utusan Spanyol tersebut dapat membujuk Raja Perancis untuk berperang? Karena bagaimana pun juga kedua kakinya hanya dapat gemetar saja.

“Ah” pikir Pimpernelle “saya memang hanya seorang pembuat kue Pastel untuk Raja, tetapi sebenarnya kedudukan saya itu sama pentingnya seperti Raja. Tapi hanya ia saja yang menerima kemashyuran, saya benar-benar tidak dapat menerima hal ini.”    

Dan mulailah Pimpernelle berperilaku seakan-akan semua orang membungkukkan badan mereka kepadanya, dan orang-orang lain pun berkata, ”Mungkin kue Pastel sudah tumbuh tinggi di dalam kepalanya.”, tetapi ejekan ini juga tidak berpengaruh sedikit pun terhadapnya.

Suatu ketika Kepala dapur Istana sedang tidak ditempat, Pimpernelle menyelinap keluar dari dapur dan naik ke ruangan atas istana. Supaya ia tidak dikenali orang lain, ia menutupi dirinya dengan Mantel yang mewah, yang tergantung di salah satu koridor di istana.

Lalu berjalan-jalanlah ia dari satu ruangan ke ruangan lain, dan karena sepatunya tidak dibersihkannya sebelumnya, tinggallah selalu jejak-jejak kaki dari tepung putih kue Pastel di lantai-lantai yang ia injak. Akhirnya sampailah Pimpernelle di ruang takhta Raja, dimana terdapat kursi takhta emas dengan kemegahannya. “Kenapa tidak saya coba saja duduk sekali di kursi takhta kerajaan?” pikir Pimpernelle. “Mungkin saya bisa kelihatan terhormat dan disegani seperti Raja.”

Pada saat yang sama ia segera naik ke tangga podium Raja dan duduk di kursi bantalan yang empuk itu.

Sementara itu sidang Dewan Istana telah selesai dan Raja ingin mengambil Mantelnya yang tergantung di Koridor, namun ia tidak menemukannya. Lalu Raja memanggil Menteri dan Menteri memanggil Pengurus Kerajaan, Pengurus Kerajaan memanggil asistennya, Dan asisten itu memanggil seorang pelayan. Tetapi semuanya tidak berhasil menemukan Mantel Raja. Namun mereka menemukan hal lain, yaitu jejak kaki berwarna putih, yang mengarah dari koridor ke arah ruang takhta Raja.

Yang terlihat pertama kali oleh Raja adalah sesuatu yang aneh duduk di tempat duduknya, Sang Raja sendiri tidak mempercayai matanya. “Saya adalah Raja Perancis” seru Raja, “Siapa yang berani memakai Mantel unggu saya, itu merupakan barang yang benar-benar berharga.”

Pada saat itu bergeraklah sosok yang duduk di kursi takhta Raja dan di balik Mantel tersebut terlihatlah celemek Koki berwarna putih yang besar dan lebar.

Kalian semua sudah pasti tahu ya, itu adalah Pimpernelle, si jurumasak pembuat kue Pastel, yang bersembunyi di dalam Mantel dan sekarang ia pasti lebih suka tenggelam di dalam bumi, tapi hal tersebut sudah terlambat. Sementara itu semua warga istana sudah berkumpul, termasuk Kepala dapur Istana yang sudah kembali. 

“Ya ampun.” seru Kepala dapur Istana, “Itu adalah jurumasak pembuat kue Pastel ? Pimpernelle, turunlah, kamu pasti telah berkeliaran dari dapur kue Pastel mu ke ruang takhta Raja, kamu seharusnya tidak melakukan hal ini.

Pada awalnya Raja memandang Kepala dapur Istana, kemudian berpaling ke Pimpernelle, yang wajahnya terlihat merah merona seperti kepiting rebus dari balik Mantel. Lalu sang Raja pun mulai tertawa terbahak-bahak sampai tawanya itu menggema di ruangan itu. Ia tertawa sampai air matanya mengalir di kedua pipinya dan pengikut-pengikut Raja pun mau tidak mau ikut tertawa. 

“Oh, Jadi kau, Pimpernelle, yang selalu membuatkan saya kue Pastel yang sangat enak itu.” Kata Raja kemudian, “karena itu kah, kamu percaya, kamu dapat juga memerintah Kerajaan saya?”

“Ampunilah saya Yang Mulia,” jawab Pimpernelle sambil menangis terisak-isak, “saya akan mempersiapkan kue Pastel yang terbaik, kue Pastel yang tidak pernah dimakan oleh Raja manapun.”

Sang Raja kembali tertawa dan berseru, “Saya adalah Raja Perancis, dan kau harus memegang perkataanmu itu, air liur sudah mengalir di mulut saya.”

Bergegas Pimpernelle kembali ke dapur dan membiarkan kuali serta sendok-sendoknya berdansa. Ia memanggang kue Pastel, yang mana sampai sekarang orang-orang di Perancis masih tetap membicarakannya.

Ketika Raja membiarkan kue itu sepotong demi sepotong mencair di lidahnya, berserulah Raja sambil tersenyum simpul, ”Pimpernelle ini adalah seorang Ratu kue Pastel dan karena itu kue Pastel ini akan dinamakan kue Ratu Pastel”. Dan sampai sekarang pun nama kue Pastel itu masih tetap kue Ratu Pastel.

Apa yang saya inginkan sekarang, adalah anda dan saya dapat segera terbang ke Perancis untuk mencicipi sepotong kue Pastel itu.  


















Emas dalam Tenggorokan



Emas dalam Tenggorokan

Ada sebuah kerjaaan yang letaknya sangat jauh dari sini, tepatnya di belakang bulan, dan kerajaan itu luasnya sangat tidak terkira. Di dalamnya berdiri sebuah istiana yang dindingnya terbuat dari porselen putih, sehingga istana itu terlihat seperti sebuah cangkir kopi yang terbalik. Tepat disebelahnya terdapat suatu menara yang dindingnya juga terbuat dari porselen putih, dan di dalam menara itu hiduplah seorang putri.

Setiap malam, tepatnya pukul tujuh, sang putri selalu muncul di muka jendela menara dan bernyanyi. Seluruh penduduk kerajaan itu, juga bahkan orang asing dari seluruh dunia berdesak-desakan pada pagar istana untuk mendengar nyanyian itu dengan hikmat. Pada saat sang putri menyelesaikan nyanyiannya, orang-orang itu melemparkan rangkaian bunga untuknya dan berseru: “Putri kita memang mempunyai emas dalam tenggorokannya, ia bernyanyi seperti burung bulbul.”

Karena semua orang menyanjung sang putri sedemikian rupa, ia pun lama-kelamaan menjadi tinggi hati. Pada saat ayahnya, sang raja, berkata: “Sudah tiba saatnya engkau untuk menikah.”, sang putri menjawab, “aku hanya mau menikah dengan laki-laki yang dapat menyanyi seperti aku.”

Sang raja pun membalas sang putri: “Kau bodoh anakku, karena nyanyian bukanlah segalanya.” Tetapi sang putri menghentakkan kakinya dan berteriak: “Hanya itu yang aku inginkan bukan yang lain”, dan tidak ada seorang pun yang dapat merubah keputusannya.

Keesokan malamnya datanglah seorang pangeran di depan gerbang istana. Pangeran itu mempunyai kulit yang hitam legam, ia datang menunggangi unta yang berpunuk dua sambil memukul gendang. Di belakangnya terdapat 10 pelayan, yang juga berkulit hitam, mereka juga datang menunggang unta, tetapi hanya unta yang berpunuk satu.

Pada saat sang putri menunjukkan mukanya yang angkuh di jendela, berkatalah pangeran itu: ”Akulah pangeran dari Afrika, dimana sungai Nil yang biru dan jernih mengalir. Istanaku terbuat dari buah kelapa, dan burung-burung kakak tuaku dapat berhitung dengan pintarnya. Tukang sihirku dapat melenyapkan bergumpal-gumpal emas dalam sekejap saja, bukankah itu sesuatu yang luar biasa! Tuan Putri, mari, turutlah bersamaku ke Afrika dan di sanalah tuan putri pasti bahagia.”
Namun sang putri hanya bertanya, “Dapatkah engkau bernyanyi?”. Kemudian bernyanyilah pangeran itu sebuah lagu dari di Afrika sambil memukul gendangnya. Mendengar nyanyian pangeran itu sang putri menutup telinganya: “Berhenti! Pergilah kembali ke Afrika dan cucilah dirimu menjadi putih di sungai Nil mu yang berwarna biru langit itu”. Kemudian ditutupkannya jendelanya. Perilaku buruk sang tuan putri benar-benar sangat tidak pantas untuk seorang putri!

Keesokan harinya tibalah seorang pemuda di depan gerbang beserta sepuluh pelayannya dan mereka semua menunggang beruang kutub. “Saya pangeran dari kutub utara” kata si penunggang beruang tadi “Negeri kami tertutup es sepanjang tahun. Istanaku terbuat dari es, dan dikelilingi oleh pagar yang terbuat dari potongan es. Di taman saya tumbuh bunga dan pohon-pohon dari es, dan pada dahan-dahannya bergantungan es krim. Setiap orang dapat memetik dan langsung memakannya. Tuan Putri, ikutlah denganku ke kutub utara, di sanalah tuan putri pasti akan bahagia.”

Sekali lagi sang putri hanya bertanya, “Dapatkah kamu bernyanyi?”. Dan pangeran itu pun menyanyikan sebuah lagu:
“Aku adalah seorang eskimo kecil
yang hidup di es dan salju.
Aku selalu merasa kedinginan sampai ujung hidung
bahkan sampai pada jari kelingking kakiku.”

Pada saat itu sang putri hampir saja tertawa, kemudian ia berseru: “Kamu pastilah tidak akan pernah bisa menyanyi sebaik aku. Pulanglah kembali ke kutub utara dan selimutilah dirimu dengan kantung-kantung es.”

Pada hari yang ketiga datanglah seorang pembantu tukang tepung sambil menunggang seekor keledai yang berwarna abu-abu sampai ke depan istana. Pada saat sang putri memulai bernyanyi, dia pun ikut menyanyi. Seketika itu juga tuan putri menghentikan nyanyiannya dan berseru: “Siapa yang berani bernyanyi bersama ku, yakni seorang putri?”.

Tetapi orang-orang di depan istana menjawab:”Tuan putri, orang itu dapat bernyanyi sebaik tuan putri. Tuan putri harus memilihnya!”. Si tukang tepung tadi turun dari keledainya dan membungkukkan badannya untuk memberi hormat kepada sang putri: “Tak ada lagi yang lebih indah, selain bernyanyi bersama tuan putri seumur hidup.”

Namun si tuan putri menjadi marah dan berseru: “Aku hanya akan menerima seorang pangeran menjadi suamiku, bukan tukang tepung yang miskin yang duduk di atas seekor keledai.”. Mendengar hal itu si tukang tepung pun membalikkan badannya. Kemudian ia pun kembali duduk di atas keledainya sambil membungkukkan badannya cerminan kekecewaannya dan keledai itu mendengus: “Iyah! Iyah!”.

Kini tidak ada lagi pelamar yang datang. Sang putri duduk sendirian di atas tepian sumur di taman, yang merupakan tempat kesukaannya. Ia suka menyanyi di tepian sumur itu sambil memasukkan kepalanya kemudian mendengarkan pantulan suaranya yang keluar dari dalam sumur itu. Pada suatu ketika ia membungkukkan badannya terlalu dalam, air sumur seperti membuat suara “plitsch platsch”, riak-riak air sumur pun meninggi, dan saat ia seharusnya melanjutkan nyanyiannya, tiba-tiba suaranya terdengar seperti suara burung gagak berkaok-kaok. Dengan penuh kekhawatiran larilah sang putri kepada ayahnya. Raja pun memanggil tabib istana, dan dengan lenteranya, tabib itu melihat ke dalam tenggorokkan sang putri, “Yang mulia”, kata sang tabib, “Hamba telah mengenal tuan putri sejak hamba masih bisa menggendongnya, sejak ia tidak lebih besar dari roti yang beratnya tidak lebih dari 3 pon. Hamba yakin sekali: dahulu itu ia mempunyai emas di dalam tenggorokannya, tetapi sekarang tenggorokannya hitam seperti cerobong asap.”

“Pasti emas itu jatuh ke dalam sumur” kata sang putri, “aku memang mendengar suara 'plitsch platsch' dari dalam sumur.” Bala bantuan kerajaan pun didatangkan khusus, untuk mengeringkan sumur itu dibutuhkan waktu lima hari dan lima malam. Kemudian lima hari dan lima malam lagi mereka mencari emas itu di dasar sumur, akan tetapi emas tersebut tidak dapat ditemukan.

Para penduduk segera menanyakan hal ini kepada istana: “Mengapa tuan putri tidak menyanyi lagi?” Kemudian yang lain menjawab: “Ia telah kehilangan emas di tenggorokannya, sekarang suaranya terdengar seperti suara burung gagak.”

Si pembantu tukang tepung juga mendengar hal itu ketika ia menikmati daging panggang dan kentang di sebuah rumah makan. Meskipun makanan itu merupakan kesukaannya ia membiarkan makanan itu tidak tersentuh. Ia segera mengambil keledainya dan segera menungganginya dengan terburu-buru untuk kembali menuju istana Ia ingin menghibur tuan putri.

Pada siang hari yang terik tibalah si tukang tepung itu ke depan istana. Karena keledainya sangat haus ia menimba air dari dasar sumur dengan ember. Air dari dalam ember belum habis diminum, tetapi kedua mata si keledai sudah berputar, mulutnya terbuka, dan mulailah ia bernyanyi. Telinga dan ekornya pun bergoyang menurut irama.

Kemudian datanglah sang putri dengan tergesa-gesa, diikuti oleh sang raja dibelakangnya. “Keledai itu mengambil suaraku”, seru sang putri, “Ia harus mengembalikannya kepadaku.” Si tukang tepung itu berkata sambil menggelengkan kepalanya: “Baru saja ia meringkik 'Iyah, iyah', ini benar-benar sesuatu yang mustahil.” Tetapi sambil terisak-isak si tuan putri hanya bisa menjawab, “Dia telah mengambil emas yang di dalam tenggorokkanku dan aku menginginkannya kembali.”

“Kau lihat bukan”, kata sang raja, “bahkan keledai pun kadang-kadang dapat juga bernyanyi. Kau seharusnya berpikir lebih dalam lagi sebelum kau menjadi sombong.”

Si tukang tepung itu pun merasa kasihan terhadap sang putri dan berkata, “Tuan Putri, hamba akan melakukan apapun supaya engkau mendapatkan kembali emasmu itu. Akan tetapi sebelumnya ada sesuatu yang hamba pinta: Jika hamba berhasil melakukannya, ijinkanlah hamba sekali lagi bernyanyi bersama tuan putri.” Kemudian sang tuan putri pun mengganggukkan kepalanya.

“Panggillah tabib istana itu”, kata si tukang tepung, tidak lama kemudian sang tabib membuka mulut keledai dan menggunakan lenteranya untuk meneranginya. Seketika itu juga sang tabib menutup matanya dengan tangannya. “Benar-benar menyilaukan. Emas itu memang di dalam tenggorokan keledai ini. Yang mulia, tuanku harus menarik telinga keledai ini dengan kuat sebanyak 3 kali, kemudian serukanlah kata 'Bricklebritt'. Emas itu pastilah akan keluar.”

Raja pun melakukan apa dikatakan sang tabib, kemudian “Plitsch Platsch” emas itu pun ke luar dan jatuh ke atas rumput. Sang putri membersihkan emas itu dua kali dengan air sumur, kemudian menelan emas itu kembali ke dalam tenggorokannya. Malam harinya, tepat pada pukul tujuh, muncullah kembali sang tuan putri di muka jendela menara istana dan bernyanyi. Tetapi kali ini ia tidak menyanyi sendirian, di sebelahnya berdiri si tukang tepung dan bernyanyi bersama dengan sang putri.

Sang putri pun sangat gembira, sampai ia meminta si tukang tepung untuk tetap tinggal di dalam istana. Ia pun di sana tinggal sampai pada hari pernikahan mereka.

Demikianlah akhir dari kisah emas di dalam tenggorokan.