Serdadu Hans dan Putri Raja
Raja dari
London mempunyai seorang anak perempuan yang sudah dewasa. Oleh karena itu sang
Raja memerintahkan, menyerukan dan mengumumkan bahwa ia akan menikahkan anak
perempuannya dengan seseorang yang bisa menerka, dimana Tuan Putri tidur, akan
tetapi siapa yang gagal, ia akan dihukum gantung.
Kemudian
berdatanganlah para kesatria yang luhur, yang berusaha, mencoba mendapatkan dimana
tuan Putri tidur, tetapi tak seorangpun berhasil menerka hal itu. Apabila salah
seseorang kesatria itu datang, tuan Putri mengantar orang tersebut ke dalam
taman dan disana ia memberikan orang itu segelas Anggur, kemudian tertidurlah
kesatria tersebut, dan sang Putri pergi ke kamarnya, dan karena itulah tidak
seorang pun dapat mengetahui dimana tuan Putri tidur.
Lalu serdadu
Hans berkata “Sekarang giliran aku yang akan mengatakan kepada Raja, dimana
anak perempuannya tidur.” Semua orang mengatakan bahwa ia sudah gila, dan ia
akan digantung seperti yang lainnya. Akan tetapi serdadu Hans tetap berangkat
ke Istana dan berkatalah seseorang kepadanya:”Majulah! Maju terus! Tiang
gantung memang sudah tersedia!”. Tetapi seseorang yang pintar seperti serdadu
Hans, tidak menjawab perkataan itu.
Maka
datanglah tuan Putri, ia mengantar serdadu Hans ke dalam taman dan memberinya
segelas anggur, supaya ia meminumnya. Tetapi seseorang yang pintar seperti
serdadu Hans, tidak meminumnya. Ia menuangkan semua anggurnya ke dalam bajunya,
seolah-olah ia telah menghabiskannya. Lalu ia duduk di sebuah bangku dan
berbuat seakan-akan dia sudah tertidur. Tanpa prasangka apapun, pergilah sang
Putri ke kamarnya. Serdadu Hans pun
mengikutinya.
Sebelum tuan
Putri sampai di kamarnya, ia menghampiri sebuah lubang dan berkatalah ia:
”Cemara, menunduklah!” Maka cemara itu menundukkan batangnya dan sang Putri
melangkah di atas cemara itu untuk melewati lubang itu. Serdadu Hans yang
membuntutinya, juga menghampiri lubang
itu dan berkata:” Cemara, menunduklah!” Dan cemara itu pun menundukkan dahannya
sampai ke tanah kemudian ia pun menyeberangi lubang itu.
Lalu
sampailah sang Putri di depan kamarnya, dan berseru:” Dewa dan Angin”, kemudian
ia berubah menjadi angin dan berhembus masuk melalui lubang kunci tanpa membuka
pintu terlebih dahulu. Serdadu Hans yang membuntutinya, melakukan hal yang sama
dan masuk ke dalam kamar sang Putri. Saat sang Putri berada di dalam kamarnya,
ia berseru,” Dewa dan Wanita” lalu ia kembali menjadi sang Putri dan pergi
menuju kamar tidurnya untuk tidur. Kemudian serdadu Hans juga berseru: “Dewa
dan Laki-laki”, maka kembalilah ia menjadi laki-laki. Ia melihat kamar tidur
tuan Putri, pada saat sang Putri memasuki kamar tersebut. Dan tuan Putri
menutup pintu kamarnya tanpa menyadari kehadiran serdadu Hans, serdadu Hans
berdiri tegak dan memandang ke sekelilingnya, terlihat olehnya sebuah ruang
makan yang indah berserta meja makan yang sudah ditata rapih, lalu ia
menghampiri meja itu dan mengambil 3 buah garpu makan dan satu buah serbet,
yang mana dirajut nama sang Raja. Di atas meja itu ia melihat 3 ekor ayam hutan
yang sudah dimasak, kemudian ia memotong kepala ayam-ayam itu dan memasukannya
bersama-sama dengan garpu dan serbet ke dalam tasnya. Lalu ia kembali ke dalam
taman dan berbaring tidur karena hari sudah larut malam.
Keesokkan
harinya datanglah seseorang menjemput serdadu Hans untuk membawanya ke tiang
gantung, sebagaimana yang lainnya yang juga telah digantung, karena sang Raja
yakin, bahwa serdadu Hans pasti tidak berhasil mendapatkan apa pun. Orang itu
juga membawa serdadu Hans menghadap Raja, dan berkatalah sang Raja kepada Hans,
“Nah, serdadu Hans, tahukah kamu sekarang dimana tuan Putri tidur?” “Tentu
saja, Yang mulia”, kata serdadu Hans. “ Saya telah berada di dalam kamarnya,
dan melihat tuan Putri berjalan menuju ke kamar tidurnya, sekarang saya tahu,
dimana tuan Putri tidur. Saya juga melihat ruang makan tuan Putri, juga 3 buah
garpu diatas meja dan satu serbet dengan rajutan nama sang Raja. Dan di atas
meja saya juga melihat 3 ekor ayam hutan, yang kepalanya sudah dipotong”. Untuk
membuktikan perkataannya, serdadu Hans mengeluarkan semuanya dan menunjukkan
kepada Raja, 3 buah garpu, serbet dengan nama Raja, dan 3 buah kepala ayam
hutan itu.
“Tidak dapat
diragukan lagi”, kata Raja. Ia telah menemukannya, laki-laki ini haruslah
menikah dengan tuan Putri. Dan berkatalah sang Raja kepada serdadu Hans,”Akan
tetapi untuk dapat menikahi anak perempuanku masih ada satu syarat lagi, dan
syarat itu adalah kamu harus bisa membuat kelinci-kelinci berbaris seperti
serdadu”. Lalu sang Raja pergi, mengambil 25 ekor kelinci dan memberikannya
kepada serdadu hans, seraya berkata,”Dalam kurun waktu 3 hari kelinci-kelinci
ini haruslah bisa berbaris”.
Kemudian serdadu Hans mengulurkan tangannya
mengambil kelinci-kelinci itu, dan ia menjadi sangat sedih karena ia tidak tahu
bagaimana harus mengajar kelinci-kelinci itu berbaris. Ia pun pergi membawa
keranjang yang penuh dengan kelinci. Di tengah perjalanannya bertemulah ia dengan
seorang penyihir tua dan ia menceritakan padanya, apa yang terjadi pada
dirinya. “Janganlah kamu bersedih hati karena hal itu,” kata penyihir tua itu
kepadanya, “ Lihat ini, suling ini saya berikan kepadamu, supaya kamu dapat
membawa semua kelinci itu berbaris seperti serdadu”. Dan penyihir tua itu pun
memberikan suling itu kepadanya. Segera ia melepaskan kelinci-kelinci itu dan
mulai memainkan suling tersebut, kemudian semua kelinci kecil itu pun mulai
berbaris. Lalu berserulah ia dengan sulingnya “Hadap ke kanan grak! Hadap ke
kiri grak! Perhatian! Maju jalan!” Dan kelinci-kelinci kecil itu pun berbaris
seperti serdadu-serdadu kecil.
Keesokan
harinya datanglah serdadu Hans ke depan istana dan kelinci-kelincinya berbaris
di belakangnya, mengikutinya memasuki istana. Ketika Raja dan tuan Putri keluar
dari istana dan melihat bagaimana kelinci-kelinci itu berbaris, berkatalah sang
Raja,” Sekarang benar-benar tidak dapat diragukan lagi. Serdadu Hans telah
mengalahkan kita lagi!” Kemudian berjalanlah serdadu Hans dengan
kelinci-kelincinya itu dan berseru,”Perhatian! Hadap ke kanan grak! Hadap ke
kiri grak!”. Ia juga tetap meniup serulingnya dan kelinci-kelinci itu berbaris
dibelakangnya.
Kemudian
sang raja memanggil tuan Putri dan
berkata,” Dengar, pergilah kamu kepada serdadu Hans dan belilah atau rampaslah
seekor saja dari kelinci-kelinci itu” Keesokan harinya sang Putri pergi menemui
serdadu Hans beserta kelinci-kelincinya dan dia pun berkata, ”Dengarlah serdadu
Hans, juallah salah satu kelincimu kepadaku.” Kemudian serdadu Hans berkata
bahwa ia tidak menjual kelinci-kelincinya demi apapun di dunia ini. Tetapi tuan
Putri memohon dengan sangat kepadanya, hingga akhirnya serdadu Hans berkata,
”Baiklah, hamba akan mengatkan sesuatu kepada tuan Putri, hamba akan memberi
tuan Putri seekor kelinci, apabila tuan Putri mengijinkan hamba tidur bersama
tuan Putri malam ini”. “Baiklah”, kata sang Putri. Dan serdadu Hans pun
memberikan kelinci itu kepada tuan Putri.
Malam
harinya, pada saat serdadu Hans datang ke tempat tuan Putri, untuk tidur
bersamanya, kelinci itu masih berada di kamar sang Putri. Pada keesokan
paginya, ketika serdadu Hans meninggalkan kamar sang Putri, mulailah ia meniup
serulingnya, dan kelinci yang berada di dalam kamar sang Putri mulai
menggaruk-garuk, gelisah lalu meloncat turun dan melompat secepatnya menuju
serdadu Hans. Kemudian berbarislah kelinci itu kembali menjadi 25 ekor kawanan
kelinci. Lalu sang Putri pergi kepada ayahnya dan berkata bahwa kelinci itu
telah kembali ke serdadu Hans.
Dan
bersabdalah sang Raja, supaya serdadu Hans dipanggil datang kepadanya, karena
ia ingin menikahkan serdadu Hans dengan putrinya. Sambil menari masuklah
serdadu Hans dengan kawanan kelinci itu. Kata Raja kepadanya, ”Baiklah, engkau
telah menguasai sang Putri. Akan tetapi masih ada satu lagi yang harus kau
kerjakan, sebagai syarat yang terakhir yaitu engkau harus membawa kepadaku satu karung penuh
dengan kebohongan”. Kemudian berangkatlah serdadu Hans dengan
kelinci-kelincinya.
Keesokan
harinya serdadu Hans datang kembali ke istana dan ia meminta satu karung yang
kosong dan seseorang memberikan karung itu kepadanya. Kemudian berserulah ia
kepada sang Raja, ia meminta supaya ia dapat berbicara dengan sang Putri
dihadapan semua warga Istana. Seseorang lalu memanggil sang Putri dan
berkatalah serdadu Hans kepadanya, “Masih ingatkah tuan Putri, bahwa tuan Putri
datang kepada hamba untuk membeli seekor kelinci dan hamba menolak untuk
memberikannya tetapi pada akhirnya hamba mau juga memberikannya karena tuan
Putri mau tidur bersama hamba untuk satu malam?”. Sang Putri menjawab,” Tidak,
Tidak, Aku tidak tahu apa pun tentang itu.“ “Setengah karung sudah penuh dengan
kebohongan” teriak serdadu Hans. Kemudian berkata lagi serdadu Hans kepada sang
Putri,” Masih ingatkah tuan Putri, bahwa tuan Putri sepanjang malam itu telah
tidur dengan saya dan bahwa keesokkan harinya saya berangkat lagi dengan
kelinci yang telah saya berikan kepada tuan Putri?” dan sang Putri berkata, “
Tidak, Tidak, saya tidak tahu apa pun tentang itu”.
“Karung ini sekarang telah penuh dengan kebohongan!”
seru serdadu Hans. Setelah Raja mendengar, bahwa semua yang dikatakan oleh
serdadu Hans adalah kebenaran, kemudian berserulah sang Raja, ”serdadu Hans
telah mengalahkan kita, sekarang ia akan menikahi anak perempuanku.” Lalu menikahlah serdadu Hans dengan Putri sang Raja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar