Selasa, 27 September 2016

Serdadu Hans dan Putri Raja



Serdadu Hans dan Putri Raja

Raja dari London mempunyai seorang anak perempuan yang sudah dewasa. Oleh karena itu sang Raja memerintahkan, menyerukan dan mengumumkan bahwa ia akan menikahkan anak perempuannya dengan seseorang yang bisa menerka, dimana Tuan Putri tidur, akan tetapi siapa yang gagal, ia akan dihukum gantung.

Kemudian berdatanganlah para kesatria yang luhur, yang berusaha, mencoba mendapatkan dimana tuan Putri tidur, tetapi tak seorangpun berhasil menerka hal itu. Apabila salah seseorang kesatria itu datang, tuan Putri mengantar orang tersebut ke dalam taman dan disana ia memberikan orang itu segelas Anggur, kemudian tertidurlah kesatria tersebut, dan sang Putri pergi ke kamarnya, dan karena itulah tidak seorang pun dapat mengetahui dimana tuan Putri tidur.

Lalu serdadu Hans berkata “Sekarang giliran aku yang akan mengatakan kepada Raja, dimana anak perempuannya tidur.” Semua orang mengatakan bahwa ia sudah gila, dan ia akan digantung seperti yang lainnya. Akan tetapi serdadu Hans tetap berangkat ke Istana dan berkatalah seseorang kepadanya:”Majulah! Maju terus! Tiang gantung memang sudah tersedia!”. Tetapi seseorang yang pintar seperti serdadu Hans, tidak menjawab perkataan itu.

Maka datanglah tuan Putri, ia mengantar serdadu Hans ke dalam taman dan memberinya segelas anggur, supaya ia meminumnya. Tetapi seseorang yang pintar seperti serdadu Hans, tidak meminumnya. Ia menuangkan semua anggurnya ke dalam bajunya, seolah-olah ia telah menghabiskannya. Lalu ia duduk di sebuah bangku dan berbuat seakan-akan dia sudah tertidur. Tanpa prasangka apapun, pergilah sang Putri ke kamarnya.  Serdadu Hans pun mengikutinya.

Sebelum tuan Putri sampai di kamarnya, ia menghampiri sebuah lubang dan berkatalah ia: ”Cemara, menunduklah!” Maka cemara itu menundukkan batangnya dan sang Putri melangkah di atas cemara itu untuk melewati lubang itu. Serdadu Hans yang membuntutinya, juga  menghampiri lubang itu dan berkata:” Cemara, menunduklah!” Dan cemara itu pun menundukkan dahannya sampai ke tanah kemudian ia pun menyeberangi lubang itu.

Lalu sampailah sang Putri di depan kamarnya, dan berseru:” Dewa dan Angin”, kemudian ia berubah menjadi angin dan berhembus masuk melalui lubang kunci tanpa membuka pintu terlebih dahulu. Serdadu Hans yang membuntutinya, melakukan hal yang sama dan masuk ke dalam kamar sang Putri. Saat sang Putri berada di dalam kamarnya, ia berseru,” Dewa dan Wanita” lalu ia kembali menjadi sang Putri dan pergi menuju kamar tidurnya untuk tidur. Kemudian serdadu Hans juga berseru: “Dewa dan Laki-laki”, maka kembalilah ia menjadi laki-laki. Ia melihat kamar tidur tuan Putri, pada saat sang Putri memasuki kamar tersebut. Dan tuan Putri menutup pintu kamarnya tanpa menyadari kehadiran serdadu Hans, serdadu Hans berdiri tegak dan memandang ke sekelilingnya, terlihat olehnya sebuah ruang makan yang indah berserta meja makan yang sudah ditata rapih, lalu ia menghampiri meja itu dan mengambil 3 buah garpu makan dan satu buah serbet, yang mana dirajut nama sang Raja. Di atas meja itu ia melihat 3 ekor ayam hutan yang sudah dimasak, kemudian ia memotong kepala ayam-ayam itu dan memasukannya bersama-sama dengan garpu dan serbet ke dalam tasnya. Lalu ia kembali ke dalam taman dan berbaring tidur karena hari sudah larut malam. 

Keesokkan harinya datanglah seseorang menjemput serdadu Hans untuk membawanya ke tiang gantung, sebagaimana yang lainnya yang juga telah digantung, karena sang Raja yakin, bahwa serdadu Hans pasti tidak berhasil mendapatkan apa pun. Orang itu juga membawa serdadu Hans menghadap Raja, dan berkatalah sang Raja kepada Hans, “Nah, serdadu Hans, tahukah kamu sekarang dimana tuan Putri tidur?” “Tentu saja, Yang mulia”, kata serdadu Hans. “ Saya telah berada di dalam kamarnya, dan melihat tuan Putri berjalan menuju ke kamar tidurnya, sekarang saya tahu, dimana tuan Putri tidur. Saya juga melihat ruang makan tuan Putri, juga 3 buah garpu diatas meja dan satu serbet dengan rajutan nama sang Raja. Dan di atas meja saya juga melihat 3 ekor ayam hutan, yang kepalanya sudah dipotong”. Untuk membuktikan perkataannya, serdadu Hans mengeluarkan semuanya dan menunjukkan kepada Raja, 3 buah garpu, serbet dengan nama Raja, dan 3 buah kepala ayam hutan itu.

“Tidak dapat diragukan lagi”, kata Raja. Ia telah menemukannya, laki-laki ini haruslah menikah dengan tuan Putri. Dan berkatalah sang Raja kepada serdadu Hans,”Akan tetapi untuk dapat menikahi anak perempuanku masih ada satu syarat lagi, dan syarat itu adalah kamu harus bisa membuat kelinci-kelinci berbaris seperti serdadu”. Lalu sang Raja pergi, mengambil 25 ekor kelinci dan memberikannya kepada serdadu hans, seraya berkata,”Dalam kurun waktu 3 hari kelinci-kelinci ini haruslah bisa berbaris”.

 Kemudian serdadu Hans mengulurkan tangannya mengambil kelinci-kelinci itu, dan ia menjadi sangat sedih karena ia tidak tahu bagaimana harus mengajar kelinci-kelinci itu berbaris. Ia pun pergi membawa keranjang yang penuh dengan kelinci. Di tengah perjalanannya bertemulah ia dengan seorang penyihir tua dan ia menceritakan padanya, apa yang terjadi pada dirinya. “Janganlah kamu bersedih hati karena hal itu,” kata penyihir tua itu kepadanya, “ Lihat ini, suling ini saya berikan kepadamu, supaya kamu dapat membawa semua kelinci itu berbaris seperti serdadu”. Dan penyihir tua itu pun memberikan suling itu kepadanya. Segera ia melepaskan kelinci-kelinci itu dan mulai memainkan suling tersebut, kemudian semua kelinci kecil itu pun mulai berbaris. Lalu berserulah ia dengan sulingnya “Hadap ke kanan grak! Hadap ke kiri grak! Perhatian! Maju jalan!” Dan kelinci-kelinci kecil itu pun berbaris seperti serdadu-serdadu kecil.

Keesokan harinya datanglah serdadu Hans ke depan istana dan kelinci-kelincinya berbaris di belakangnya, mengikutinya memasuki istana. Ketika Raja dan tuan Putri keluar dari istana dan melihat bagaimana kelinci-kelinci itu berbaris, berkatalah sang Raja,” Sekarang benar-benar tidak dapat diragukan lagi. Serdadu Hans telah mengalahkan kita lagi!” Kemudian berjalanlah serdadu Hans dengan kelinci-kelincinya itu dan berseru,”Perhatian! Hadap ke kanan grak! Hadap ke kiri grak!”. Ia juga tetap meniup serulingnya dan kelinci-kelinci itu berbaris dibelakangnya.

Kemudian sang raja memanggil tuan Putri  dan berkata,” Dengar, pergilah kamu kepada serdadu Hans dan belilah atau rampaslah seekor saja dari kelinci-kelinci itu” Keesokan harinya sang Putri pergi menemui serdadu Hans beserta kelinci-kelincinya dan dia pun berkata, ”Dengarlah serdadu Hans, juallah salah satu kelincimu kepadaku.” Kemudian serdadu Hans berkata bahwa ia tidak menjual kelinci-kelincinya demi apapun di dunia ini. Tetapi tuan Putri memohon dengan sangat kepadanya, hingga akhirnya serdadu Hans berkata, ”Baiklah, hamba akan mengatkan sesuatu kepada tuan Putri, hamba akan memberi tuan Putri seekor kelinci, apabila tuan Putri mengijinkan hamba tidur bersama tuan Putri malam ini”. “Baiklah”, kata sang Putri. Dan serdadu Hans pun memberikan kelinci itu kepada tuan Putri.

Malam harinya, pada saat serdadu Hans datang ke tempat tuan Putri, untuk tidur bersamanya, kelinci itu masih berada di kamar sang Putri. Pada keesokan paginya, ketika serdadu Hans meninggalkan kamar sang Putri, mulailah ia meniup serulingnya, dan kelinci yang berada di dalam kamar sang Putri mulai menggaruk-garuk, gelisah lalu meloncat turun dan melompat secepatnya menuju serdadu Hans. Kemudian berbarislah kelinci itu kembali menjadi 25 ekor kawanan kelinci. Lalu sang Putri pergi kepada ayahnya dan berkata bahwa kelinci itu telah kembali ke serdadu Hans.

Dan bersabdalah sang Raja, supaya serdadu Hans dipanggil datang kepadanya, karena ia ingin menikahkan serdadu Hans dengan putrinya. Sambil menari masuklah serdadu Hans dengan kawanan kelinci itu. Kata Raja kepadanya, ”Baiklah, engkau telah menguasai sang Putri. Akan tetapi masih ada satu lagi yang harus kau kerjakan, sebagai syarat yang terakhir yaitu engkau  harus membawa kepadaku satu karung penuh dengan kebohongan”. Kemudian berangkatlah serdadu Hans dengan kelinci-kelincinya.

Keesokan harinya serdadu Hans datang kembali ke istana dan ia meminta satu karung yang kosong dan seseorang memberikan karung itu kepadanya. Kemudian berserulah ia kepada sang Raja, ia meminta supaya ia dapat berbicara dengan sang Putri dihadapan semua warga Istana. Seseorang lalu memanggil sang Putri dan berkatalah serdadu Hans kepadanya, “Masih ingatkah tuan Putri, bahwa tuan Putri datang kepada hamba untuk membeli seekor kelinci dan hamba menolak untuk memberikannya tetapi pada akhirnya hamba mau juga memberikannya karena tuan Putri mau tidur bersama hamba untuk satu malam?”. Sang Putri menjawab,” Tidak, Tidak, Aku tidak tahu apa pun tentang itu.“ “Setengah karung sudah penuh dengan kebohongan” teriak serdadu Hans. Kemudian berkata lagi serdadu Hans kepada sang Putri,” Masih ingatkah tuan Putri, bahwa tuan Putri sepanjang malam itu telah tidur dengan saya dan bahwa keesokkan harinya saya berangkat lagi dengan kelinci yang telah saya berikan kepada tuan Putri?” dan sang Putri berkata, “ Tidak, Tidak, saya tidak tahu apa pun tentang itu”.

“Karung  ini sekarang telah penuh dengan kebohongan!” seru serdadu Hans. Setelah Raja mendengar, bahwa semua yang dikatakan oleh serdadu Hans adalah kebenaran, kemudian berserulah sang Raja, ”serdadu Hans telah mengalahkan kita, sekarang ia akan menikahi anak perempuanku.” Lalu menikahlah serdadu Hans dengan Putri sang Raja.     


Tidak ada komentar:

Posting Komentar