Tamu Rahasia
Di sebuah desa hiduplah seorang
gadis yatim piatu yang miskin bernama Genoveva. Untuk membiayai hidupnya, di
musim panas ia bekerja di ladang dan pada musim dingin ia mengumpulkan kayu
bakar. Pada malam hari ia memintal kapas menjadi benang yang halus untuk dijual
di pasar, semakin banyak kapas yang ia pintal tentu semakin banyak pula benang
yang dapat dijualnya dan demikian juga uang yang dapat ia tabung. Tentunya itu adalah keinginan Genoveva. Perlu kalian ketahui, Genoveva
dan Johann, seorang penggembala domba, adalah sepasang kekasih, mereka sudah
mengikat janji untuk menikah.
“Kapan kita
mempunyai cukup uang untuk membeli sebuah rumah kecil?”, keluh Johann kepada
Genoveva. “Seandainya aku mempunyai banyak kapas, tentu aku dapat membuat lebih
banyak benang untuk dijual dan kita akan mempunyai banyak uang”, kata Genoveva
sambil terus memintal.
Pada saat
yang sama, terbukalah pintu rumah Genoveva dengan sendirinya dan seorang kerdil
yang terkenal menyukai orang yang rajin berdiri di hadapan mereka. Genoveva
memandang keheranan. “Cobalah alat pintal ini, Genoveva!”, kata si kerdil
sambil meletakkan sebuah alat pintal dan kapas² di atas meja dan segera
menghilang secara tiba-tiba tanpa peringatan seperti ketika ia datang. Dengan
ragu-ragu Genoveva menyentuh alat pemintal itu dan mencobanya.
Sungguh
ajaib! Sekarang ia dapat memintal kapas sebanyak yang ia inginkan dan kapas itu
tidak berkurang sedikitpun. Kini mereka pun akan segera mempunyai cukup banyak uang
untuk membiayai pernikahan mereka.
Ketika hari
pernikahaan mereka sudah dekat, orang-orang di desa itu turut menyumbang
bahan-bahan makanan untuk keperluan pesta mereka. Ada yang memberikan daging
asap, daging kelinci, susu, mentega, telur, gula dan tepung untuk membuat kue
pernikahan, serta satu tong minuman anggur dan masih banyak lagi yang lainnya.
Pasangan
calon pengantin itu pun mengundang semua penduduk desa untuk menghadiri pesta
pernikahaan mereka. Tetapi kemudian timbul masalah lain, yaitu bagaimana mereka
harus mendapatkan panci dan belanga untuk memasak makanan yang begitu banyak,
juga piring serta cangkir untuk menyajikan makanan itu dan menjamu tamu-tamu
mereka nanti. Sedangkan mereka juga tidak mempunyai cukup uang untuk membeli
semua peralatan itu. Genoveva pun terlalu enggan untuk meminjam barang-barang itu
dari tetangga.
Tiba-tiba ia
teringat pada orang-orang kerdil yang sudah sering memperbaiki panci dan cawan
penduduk desa. Ketika hari telah gelap pergilah ia ke bukit orang kerdil dan di
muka gua Genoveva meletakkan sebuah surat. Di dalam surat itu ia mengutarakan
kesulitannya dan sekaligus juga mengundang mereka ke pesta perkawinannya.
Keesokan
harinya dengan tergesa-gesa Genoveva kembali ke gua itu. Ternyata di sana telah
tersedia peralatan makan, yang terbuat dari perak asli yang sangat berkilauan,
orang pun dapat bercermin dengannya, tidak ketinggalan pula pisau, garpu dan
sendok. Karena banyaknya barang-barang itu, Genoveva sampai harus berkali-kali
bolak-balik untuk membawa barang-barang itu ke rumahnya.
Pada hari
berikutnya lonceng Gereja berdentang, dan resmilah Genoveva menjadi istri
Johann. Setelah upacara di Gereja usai, para tamu keluar beriringan menuju desa
ke tempat di mana meja telah tertata rapih, kemudian para pemusik mulai
memainkan alat musiknya. Semua tamu memandang dengan kagum pada peralatan makan
dari perak yang begitu indah, tetapi tidak seorangpun mempertanyakan hal itu.
Ketika para
tamu hedak makan, tiba-tiba makanan di atas piring mereka lenyap begitu saja.
Lalu terdengar Walikota berkata, “Hei, apa yang terjadi? Satu menit yang lalu
sepotong kelinci panggang masih ada di piringku, sekarang lenyap. Aku bersumpah
belum memakannya.”. “Kemana Anggurku?”, teriak seorang Petani. “Dan kueku?”,
keluh seorang gadis kecil. Genoveva tertawa dibalik kerudung pengantinnya
“Pasti orang-orang kerdil itu sudah datang.”, pikirnya seraya gembira akan
kedatangan mereka.
Akhirnya
tiba waktunya bagi kedua pengantin untuk pulang. Para tamu memberi salam kepada
kedua mempelai sambil mengucapkan terima kasih. Ketika semua tamu telah pergi,
terdengarlah suara, “Letakkan topimu terbalik di atas kursi, Johann!”. Meskipun
mereka tidak melihat siapa pun saat itu, mereka tetap melakukan apa yang
diperintahkan kepada mereka. Genoveva
dan Johann juga mendengar suara langkah-langkah kecil dari kaki-kaki yang kecil
serta bunyi deringan. Kemudian suara yang tadi terdengar lagi, “Bawalah pulang
topi mu dengan hati-hati dan jangan lihat ke dalamnya sebelum kau tiba di rumah
dan menutup pintu rapat-rapat!”
Johann berkedip-kedip
terkejut dan juga sedikit cemas, tetapi Genoveva memberi isyarat padanya supaya
ia diam. Ketika mereka sudah membawa topi itu dengan aman dan sampai di rumah,
mereka melihat ke dalam topi itu. Dan tahukan kalian, apa yang mereka temukan
didalamnya? Ratusan keping emas sebagai hadiah pernikahan dari orang-orang
kerdil itu. Semua tampaknya telah dibersihkan sampai mengkilap, sehingga
kelihatan sangat bercahaya. Benar-benar merupakan suatu anugerah.
Keesokan harinya mereka
mengembalikan peralatan makan yang mereka pinjam ke bukit orang kerdil itu,
semua peralatan itu telah bersih digosok dan dipoles sampai mengkilap. Dan
sebagai rasa terima kasih, Genoveva juga meletakkan sebuah karangan bunga di
atas mangkok yang besar sekali untuk bangsa kerdil itu.
Ketika anak pertama mereka
lahir, pagi harinya mereka menemukan sebuah mangkok perak di dalam ayunan bayi
mereka. Dan kejadian serupa terjadi pada anak-anak mereka berikutnya. Salah
satu cucu dari cucu Genoveva menceritakan kisah ini kepada nenek buyutku dahulu
kala.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar