Selasa, 27 September 2016

Tamu Rahasia



Tamu Rahasia

Di sebuah desa hiduplah seorang gadis yatim piatu yang miskin bernama Genoveva. Untuk membiayai hidupnya, di musim panas ia bekerja di ladang dan pada musim dingin ia mengumpulkan kayu bakar. Pada malam hari ia memintal kapas menjadi benang yang halus untuk dijual di pasar, semakin banyak kapas yang ia pintal tentu semakin banyak pula benang yang dapat dijualnya dan demikian juga uang yang dapat ia tabung. Tentunya itu adalah keinginan Genoveva. Perlu kalian ketahui, Genoveva dan Johann, seorang penggembala domba, adalah sepasang kekasih, mereka sudah mengikat janji untuk menikah.

“Kapan kita mempunyai cukup uang untuk membeli sebuah rumah kecil?”, keluh Johann kepada Genoveva. “Seandainya aku mempunyai banyak kapas, tentu aku dapat membuat lebih banyak benang untuk dijual dan kita akan mempunyai banyak uang”, kata Genoveva sambil terus memintal.

Pada saat yang sama, terbukalah pintu rumah Genoveva dengan sendirinya dan seorang kerdil yang terkenal menyukai orang yang rajin berdiri di hadapan mereka. Genoveva memandang keheranan. “Cobalah alat pintal ini, Genoveva!”, kata si kerdil sambil meletakkan sebuah alat pintal dan kapas² di atas meja dan segera menghilang secara tiba-tiba tanpa peringatan seperti ketika ia datang. Dengan ragu-ragu Genoveva menyentuh alat pemintal itu dan mencobanya.

Sungguh ajaib! Sekarang ia dapat memintal kapas sebanyak yang ia inginkan dan kapas itu tidak berkurang sedikitpun. Kini mereka pun akan segera mempunyai cukup banyak uang untuk membiayai pernikahan mereka.

Ketika hari pernikahaan mereka sudah dekat, orang-orang di desa itu turut menyumbang bahan-bahan makanan untuk keperluan pesta mereka. Ada yang memberikan daging asap, daging kelinci, susu, mentega, telur, gula dan tepung untuk membuat kue pernikahan, serta satu tong minuman anggur dan masih banyak lagi yang lainnya.

Pasangan calon pengantin itu pun mengundang semua penduduk desa untuk menghadiri pesta pernikahaan mereka. Tetapi kemudian timbul masalah lain, yaitu bagaimana mereka harus mendapatkan panci dan belanga untuk memasak makanan yang begitu banyak, juga piring serta cangkir untuk menyajikan makanan itu dan menjamu tamu-tamu mereka nanti. Sedangkan mereka juga tidak mempunyai cukup uang untuk membeli semua peralatan itu. Genoveva pun terlalu enggan untuk meminjam barang-barang itu dari tetangga.

Tiba-tiba ia teringat pada orang-orang kerdil yang sudah sering memperbaiki panci dan cawan penduduk desa. Ketika hari telah gelap pergilah ia ke bukit orang kerdil dan di muka gua Genoveva meletakkan sebuah surat. Di dalam surat itu ia mengutarakan kesulitannya dan sekaligus juga mengundang mereka ke pesta perkawinannya.

Keesokan harinya dengan tergesa-gesa Genoveva kembali ke gua itu. Ternyata di sana telah tersedia peralatan makan, yang terbuat dari perak asli yang sangat berkilauan, orang pun dapat bercermin dengannya, tidak ketinggalan pula pisau, garpu dan sendok. Karena banyaknya barang-barang itu, Genoveva sampai harus berkali-kali bolak-balik untuk membawa barang-barang itu ke rumahnya.

Pada hari berikutnya lonceng Gereja berdentang, dan resmilah Genoveva menjadi istri Johann. Setelah upacara di Gereja usai, para tamu keluar beriringan menuju desa ke tempat di mana meja telah tertata rapih, kemudian para pemusik mulai memainkan alat musiknya. Semua tamu memandang dengan kagum pada peralatan makan dari perak yang begitu indah, tetapi tidak seorangpun mempertanyakan hal itu.

Ketika para tamu hedak makan, tiba-tiba makanan di atas piring mereka lenyap begitu saja. Lalu terdengar Walikota berkata, “Hei, apa yang terjadi? Satu menit yang lalu sepotong kelinci panggang masih ada di piringku, sekarang lenyap. Aku bersumpah belum memakannya.”. “Kemana Anggurku?”, teriak seorang Petani. “Dan kueku?”, keluh seorang gadis kecil. Genoveva tertawa dibalik kerudung pengantinnya “Pasti orang-orang kerdil itu sudah datang.”, pikirnya seraya gembira akan kedatangan mereka.

Akhirnya tiba waktunya bagi kedua pengantin untuk pulang. Para tamu memberi salam kepada kedua mempelai sambil mengucapkan terima kasih. Ketika semua tamu telah pergi, terdengarlah suara, “Letakkan topimu terbalik di atas kursi, Johann!”. Meskipun mereka tidak melihat siapa pun saat itu, mereka tetap melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka.  Genoveva dan Johann juga mendengar suara langkah-langkah kecil dari kaki-kaki yang kecil serta bunyi deringan. Kemudian suara yang tadi terdengar lagi, “Bawalah pulang topi mu dengan hati-hati dan jangan lihat ke dalamnya sebelum kau tiba di rumah dan menutup pintu rapat-rapat!”

Johann berkedip-kedip terkejut dan juga sedikit cemas, tetapi Genoveva memberi isyarat padanya supaya ia diam. Ketika mereka sudah membawa topi itu dengan aman dan sampai di rumah, mereka melihat ke dalam topi itu. Dan tahukan kalian, apa yang mereka temukan didalamnya? Ratusan keping emas sebagai hadiah pernikahan dari orang-orang kerdil itu. Semua tampaknya telah dibersihkan sampai mengkilap, sehingga kelihatan sangat bercahaya. Benar-benar merupakan suatu anugerah.

Keesokan harinya mereka mengembalikan peralatan makan yang mereka pinjam ke bukit orang kerdil itu, semua peralatan itu telah bersih digosok dan dipoles sampai mengkilap. Dan sebagai rasa terima kasih, Genoveva juga meletakkan sebuah karangan bunga di atas mangkok yang besar sekali untuk bangsa kerdil itu.

Ketika anak pertama mereka lahir, pagi harinya mereka menemukan sebuah mangkok perak di dalam ayunan bayi mereka. Dan kejadian serupa terjadi pada anak-anak mereka berikutnya. Salah satu cucu dari cucu Genoveva menceritakan kisah ini kepada nenek buyutku dahulu kala.
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar