Kisah Kue
Ratu Pastel
Dongeng penghantar tidur dari Prancis
Pada jaman
dahulu ketika ruangan dapur masih sebesar ruang dansa, terdapat seorang
jurumasak wanita pembuat kue Pastel Istana Raja Perancis, bernama Pimpernelle. Dan kisah tentng Pimpernelle inilah yang sekarang akan saya ceritakan
kepada kalian.
Pimpernelle
adalah seorang jurumasak wanita pembuat kue Pastel yang terbaik sehingga
namanya terkenal di seluruh Prancis. Orang bilang bahwa di sana setiap warga bersantap
seperti seorang Raja, dan seni memasak dihargai sangat tinggi seperti seni
melukis dan membuat puisi.
Kepala rumah
tangga Istana hanya tinggal memberikan isyarat apabila ia membutuhkan
Pimpernelle, “Hari ini akan datang Adipati dari Humberland Utara dan Adipati
dari Humberland Selatan, mereka ingin menipu Raja kita.” Segera Pimpernelle
mengambil kotak Lada dan menabur bubuk lada secara merata ke dalam isi kue
Pastel, supaya kedua Adipati tersebut terpaksa terus menerus meminum air. Dan
terjadilah seperti yang sudah direncanakan Pimpernelle, sehingga mereka
melupakan rencana mereka untuk menipu Raja.
Pada suatu
waktu Pimpernelle menghidangkan kue Pastel sarang burung untuk anak perempuan
Kaisar Cina. Tiba-tiba di tengah perjamuan, Putri itu memeluk Raja dan mencium
pipi sang Raja kanan dan kiri, kejadian ini tidak setiap saat dialami oleh Raja
Perancis.
Di saat yang
lain Pimpernelle menyisipkan buah arbei dengan takaran yang tidak sedikit ke
dalam kue pastel yang seharusnya terbuat dari buah persik untuk seorang utusan
dari kerajaan Spanyol. Setelah memakannya, utusan Spanyol tersebut hanya bisa
pergi terbirit-birit disertai amarah yang besar ke segala penjuru istana, yang
akhirnya sampai ke tempat sang Raja sedang jalan.
Bagaimana mungkin lagi sang
utusan Spanyol tersebut dapat membujuk Raja Perancis untuk berperang? Karena
bagaimana pun juga kedua kakinya hanya dapat gemetar saja.
“Ah” pikir Pimpernelle
“saya memang hanya seorang pembuat kue Pastel untuk Raja, tetapi sebenarnya
kedudukan saya itu sama pentingnya seperti Raja. Tapi hanya ia saja yang
menerima kemashyuran, saya benar-benar tidak dapat menerima hal ini.”
Dan mulailah Pimpernelle
berperilaku seakan-akan semua orang membungkukkan badan mereka kepadanya, dan
orang-orang lain pun berkata, ”Mungkin kue Pastel sudah tumbuh tinggi di dalam
kepalanya.”, tetapi ejekan ini juga tidak berpengaruh sedikit pun terhadapnya.
Suatu ketika Kepala dapur
Istana sedang tidak ditempat, Pimpernelle menyelinap keluar dari dapur dan naik
ke ruangan atas istana. Supaya ia tidak dikenali orang lain, ia menutupi
dirinya dengan Mantel yang mewah, yang tergantung di salah satu koridor di
istana.
Lalu berjalan-jalanlah ia
dari satu ruangan ke ruangan lain, dan karena sepatunya tidak dibersihkannya
sebelumnya, tinggallah selalu jejak-jejak kaki dari tepung putih kue Pastel di
lantai-lantai yang ia injak. Akhirnya sampailah Pimpernelle di ruang takhta
Raja, dimana terdapat kursi takhta emas dengan kemegahannya. “Kenapa tidak saya
coba saja duduk sekali di kursi takhta kerajaan?” pikir Pimpernelle. “Mungkin
saya bisa kelihatan terhormat dan disegani seperti Raja.”
Pada saat yang sama ia
segera naik ke tangga podium Raja dan duduk di kursi bantalan yang empuk itu.
Sementara itu sidang Dewan
Istana telah selesai dan Raja ingin mengambil Mantelnya yang tergantung di
Koridor, namun ia tidak menemukannya. Lalu Raja memanggil Menteri dan Menteri
memanggil Pengurus Kerajaan, Pengurus Kerajaan memanggil asistennya, Dan
asisten itu memanggil seorang pelayan. Tetapi semuanya tidak berhasil menemukan
Mantel Raja. Namun mereka menemukan hal lain, yaitu jejak kaki berwarna putih,
yang mengarah dari koridor ke arah ruang takhta Raja.
Yang terlihat pertama kali
oleh Raja adalah sesuatu yang aneh duduk di tempat duduknya, Sang Raja sendiri
tidak mempercayai matanya. “Saya adalah Raja Perancis” seru Raja, “Siapa yang
berani memakai Mantel unggu saya, itu merupakan barang yang benar-benar
berharga.”
Pada saat itu bergeraklah
sosok yang duduk di kursi takhta Raja dan di balik Mantel tersebut terlihatlah
celemek Koki berwarna putih yang besar dan lebar.
Kalian semua sudah pasti
tahu ya, itu adalah Pimpernelle, si jurumasak pembuat kue Pastel, yang
bersembunyi di dalam Mantel dan sekarang ia pasti lebih suka tenggelam di dalam
bumi, tapi hal tersebut sudah terlambat. Sementara itu semua warga istana sudah
berkumpul, termasuk Kepala dapur Istana yang sudah kembali.
“Ya ampun.” seru Kepala
dapur Istana, “Itu adalah jurumasak pembuat kue Pastel ? Pimpernelle, turunlah,
kamu pasti telah berkeliaran dari dapur kue Pastel mu ke ruang takhta Raja,
kamu seharusnya tidak melakukan hal ini.
Pada awalnya Raja memandang
Kepala dapur Istana, kemudian berpaling ke Pimpernelle, yang wajahnya terlihat
merah merona seperti kepiting rebus dari balik Mantel. Lalu sang Raja pun mulai
tertawa terbahak-bahak sampai tawanya itu menggema di ruangan itu. Ia tertawa
sampai air matanya mengalir di kedua pipinya dan pengikut-pengikut Raja pun mau
tidak mau ikut tertawa.
“Oh, Jadi kau, Pimpernelle,
yang selalu membuatkan saya kue Pastel yang sangat enak itu.” Kata Raja kemudian,
“karena itu kah, kamu percaya, kamu dapat juga memerintah Kerajaan saya?”
“Ampunilah saya Yang
Mulia,” jawab Pimpernelle sambil menangis terisak-isak, “saya akan
mempersiapkan kue Pastel yang terbaik, kue Pastel yang tidak pernah dimakan
oleh Raja manapun.”
Sang Raja kembali tertawa
dan berseru, “Saya adalah Raja Perancis, dan kau harus memegang perkataanmu
itu, air liur sudah mengalir di mulut saya.”
Bergegas
Pimpernelle kembali ke dapur dan membiarkan kuali serta sendok-sendoknya
berdansa. Ia memanggang kue Pastel, yang mana sampai sekarang orang-orang di
Perancis masih tetap membicarakannya.
Ketika Raja
membiarkan kue itu sepotong demi sepotong mencair di lidahnya, berserulah Raja
sambil tersenyum simpul, ”Pimpernelle ini adalah seorang Ratu kue Pastel dan
karena itu kue Pastel ini akan dinamakan kue Ratu Pastel”. Dan sampai sekarang
pun nama kue Pastel itu masih tetap kue Ratu Pastel.
Apa yang
saya inginkan sekarang, adalah anda dan saya dapat segera terbang ke Perancis
untuk mencicipi sepotong kue Pastel itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar