Selasa, 27 September 2016

Emas dalam Tenggorokan



Emas dalam Tenggorokan

Ada sebuah kerjaaan yang letaknya sangat jauh dari sini, tepatnya di belakang bulan, dan kerajaan itu luasnya sangat tidak terkira. Di dalamnya berdiri sebuah istiana yang dindingnya terbuat dari porselen putih, sehingga istana itu terlihat seperti sebuah cangkir kopi yang terbalik. Tepat disebelahnya terdapat suatu menara yang dindingnya juga terbuat dari porselen putih, dan di dalam menara itu hiduplah seorang putri.

Setiap malam, tepatnya pukul tujuh, sang putri selalu muncul di muka jendela menara dan bernyanyi. Seluruh penduduk kerajaan itu, juga bahkan orang asing dari seluruh dunia berdesak-desakan pada pagar istana untuk mendengar nyanyian itu dengan hikmat. Pada saat sang putri menyelesaikan nyanyiannya, orang-orang itu melemparkan rangkaian bunga untuknya dan berseru: “Putri kita memang mempunyai emas dalam tenggorokannya, ia bernyanyi seperti burung bulbul.”

Karena semua orang menyanjung sang putri sedemikian rupa, ia pun lama-kelamaan menjadi tinggi hati. Pada saat ayahnya, sang raja, berkata: “Sudah tiba saatnya engkau untuk menikah.”, sang putri menjawab, “aku hanya mau menikah dengan laki-laki yang dapat menyanyi seperti aku.”

Sang raja pun membalas sang putri: “Kau bodoh anakku, karena nyanyian bukanlah segalanya.” Tetapi sang putri menghentakkan kakinya dan berteriak: “Hanya itu yang aku inginkan bukan yang lain”, dan tidak ada seorang pun yang dapat merubah keputusannya.

Keesokan malamnya datanglah seorang pangeran di depan gerbang istana. Pangeran itu mempunyai kulit yang hitam legam, ia datang menunggangi unta yang berpunuk dua sambil memukul gendang. Di belakangnya terdapat 10 pelayan, yang juga berkulit hitam, mereka juga datang menunggang unta, tetapi hanya unta yang berpunuk satu.

Pada saat sang putri menunjukkan mukanya yang angkuh di jendela, berkatalah pangeran itu: ”Akulah pangeran dari Afrika, dimana sungai Nil yang biru dan jernih mengalir. Istanaku terbuat dari buah kelapa, dan burung-burung kakak tuaku dapat berhitung dengan pintarnya. Tukang sihirku dapat melenyapkan bergumpal-gumpal emas dalam sekejap saja, bukankah itu sesuatu yang luar biasa! Tuan Putri, mari, turutlah bersamaku ke Afrika dan di sanalah tuan putri pasti bahagia.”
Namun sang putri hanya bertanya, “Dapatkah engkau bernyanyi?”. Kemudian bernyanyilah pangeran itu sebuah lagu dari di Afrika sambil memukul gendangnya. Mendengar nyanyian pangeran itu sang putri menutup telinganya: “Berhenti! Pergilah kembali ke Afrika dan cucilah dirimu menjadi putih di sungai Nil mu yang berwarna biru langit itu”. Kemudian ditutupkannya jendelanya. Perilaku buruk sang tuan putri benar-benar sangat tidak pantas untuk seorang putri!

Keesokan harinya tibalah seorang pemuda di depan gerbang beserta sepuluh pelayannya dan mereka semua menunggang beruang kutub. “Saya pangeran dari kutub utara” kata si penunggang beruang tadi “Negeri kami tertutup es sepanjang tahun. Istanaku terbuat dari es, dan dikelilingi oleh pagar yang terbuat dari potongan es. Di taman saya tumbuh bunga dan pohon-pohon dari es, dan pada dahan-dahannya bergantungan es krim. Setiap orang dapat memetik dan langsung memakannya. Tuan Putri, ikutlah denganku ke kutub utara, di sanalah tuan putri pasti akan bahagia.”

Sekali lagi sang putri hanya bertanya, “Dapatkah kamu bernyanyi?”. Dan pangeran itu pun menyanyikan sebuah lagu:
“Aku adalah seorang eskimo kecil
yang hidup di es dan salju.
Aku selalu merasa kedinginan sampai ujung hidung
bahkan sampai pada jari kelingking kakiku.”

Pada saat itu sang putri hampir saja tertawa, kemudian ia berseru: “Kamu pastilah tidak akan pernah bisa menyanyi sebaik aku. Pulanglah kembali ke kutub utara dan selimutilah dirimu dengan kantung-kantung es.”

Pada hari yang ketiga datanglah seorang pembantu tukang tepung sambil menunggang seekor keledai yang berwarna abu-abu sampai ke depan istana. Pada saat sang putri memulai bernyanyi, dia pun ikut menyanyi. Seketika itu juga tuan putri menghentikan nyanyiannya dan berseru: “Siapa yang berani bernyanyi bersama ku, yakni seorang putri?”.

Tetapi orang-orang di depan istana menjawab:”Tuan putri, orang itu dapat bernyanyi sebaik tuan putri. Tuan putri harus memilihnya!”. Si tukang tepung tadi turun dari keledainya dan membungkukkan badannya untuk memberi hormat kepada sang putri: “Tak ada lagi yang lebih indah, selain bernyanyi bersama tuan putri seumur hidup.”

Namun si tuan putri menjadi marah dan berseru: “Aku hanya akan menerima seorang pangeran menjadi suamiku, bukan tukang tepung yang miskin yang duduk di atas seekor keledai.”. Mendengar hal itu si tukang tepung pun membalikkan badannya. Kemudian ia pun kembali duduk di atas keledainya sambil membungkukkan badannya cerminan kekecewaannya dan keledai itu mendengus: “Iyah! Iyah!”.

Kini tidak ada lagi pelamar yang datang. Sang putri duduk sendirian di atas tepian sumur di taman, yang merupakan tempat kesukaannya. Ia suka menyanyi di tepian sumur itu sambil memasukkan kepalanya kemudian mendengarkan pantulan suaranya yang keluar dari dalam sumur itu. Pada suatu ketika ia membungkukkan badannya terlalu dalam, air sumur seperti membuat suara “plitsch platsch”, riak-riak air sumur pun meninggi, dan saat ia seharusnya melanjutkan nyanyiannya, tiba-tiba suaranya terdengar seperti suara burung gagak berkaok-kaok. Dengan penuh kekhawatiran larilah sang putri kepada ayahnya. Raja pun memanggil tabib istana, dan dengan lenteranya, tabib itu melihat ke dalam tenggorokkan sang putri, “Yang mulia”, kata sang tabib, “Hamba telah mengenal tuan putri sejak hamba masih bisa menggendongnya, sejak ia tidak lebih besar dari roti yang beratnya tidak lebih dari 3 pon. Hamba yakin sekali: dahulu itu ia mempunyai emas di dalam tenggorokannya, tetapi sekarang tenggorokannya hitam seperti cerobong asap.”

“Pasti emas itu jatuh ke dalam sumur” kata sang putri, “aku memang mendengar suara 'plitsch platsch' dari dalam sumur.” Bala bantuan kerajaan pun didatangkan khusus, untuk mengeringkan sumur itu dibutuhkan waktu lima hari dan lima malam. Kemudian lima hari dan lima malam lagi mereka mencari emas itu di dasar sumur, akan tetapi emas tersebut tidak dapat ditemukan.

Para penduduk segera menanyakan hal ini kepada istana: “Mengapa tuan putri tidak menyanyi lagi?” Kemudian yang lain menjawab: “Ia telah kehilangan emas di tenggorokannya, sekarang suaranya terdengar seperti suara burung gagak.”

Si pembantu tukang tepung juga mendengar hal itu ketika ia menikmati daging panggang dan kentang di sebuah rumah makan. Meskipun makanan itu merupakan kesukaannya ia membiarkan makanan itu tidak tersentuh. Ia segera mengambil keledainya dan segera menungganginya dengan terburu-buru untuk kembali menuju istana Ia ingin menghibur tuan putri.

Pada siang hari yang terik tibalah si tukang tepung itu ke depan istana. Karena keledainya sangat haus ia menimba air dari dasar sumur dengan ember. Air dari dalam ember belum habis diminum, tetapi kedua mata si keledai sudah berputar, mulutnya terbuka, dan mulailah ia bernyanyi. Telinga dan ekornya pun bergoyang menurut irama.

Kemudian datanglah sang putri dengan tergesa-gesa, diikuti oleh sang raja dibelakangnya. “Keledai itu mengambil suaraku”, seru sang putri, “Ia harus mengembalikannya kepadaku.” Si tukang tepung itu berkata sambil menggelengkan kepalanya: “Baru saja ia meringkik 'Iyah, iyah', ini benar-benar sesuatu yang mustahil.” Tetapi sambil terisak-isak si tuan putri hanya bisa menjawab, “Dia telah mengambil emas yang di dalam tenggorokkanku dan aku menginginkannya kembali.”

“Kau lihat bukan”, kata sang raja, “bahkan keledai pun kadang-kadang dapat juga bernyanyi. Kau seharusnya berpikir lebih dalam lagi sebelum kau menjadi sombong.”

Si tukang tepung itu pun merasa kasihan terhadap sang putri dan berkata, “Tuan Putri, hamba akan melakukan apapun supaya engkau mendapatkan kembali emasmu itu. Akan tetapi sebelumnya ada sesuatu yang hamba pinta: Jika hamba berhasil melakukannya, ijinkanlah hamba sekali lagi bernyanyi bersama tuan putri.” Kemudian sang tuan putri pun mengganggukkan kepalanya.

“Panggillah tabib istana itu”, kata si tukang tepung, tidak lama kemudian sang tabib membuka mulut keledai dan menggunakan lenteranya untuk meneranginya. Seketika itu juga sang tabib menutup matanya dengan tangannya. “Benar-benar menyilaukan. Emas itu memang di dalam tenggorokan keledai ini. Yang mulia, tuanku harus menarik telinga keledai ini dengan kuat sebanyak 3 kali, kemudian serukanlah kata 'Bricklebritt'. Emas itu pastilah akan keluar.”

Raja pun melakukan apa dikatakan sang tabib, kemudian “Plitsch Platsch” emas itu pun ke luar dan jatuh ke atas rumput. Sang putri membersihkan emas itu dua kali dengan air sumur, kemudian menelan emas itu kembali ke dalam tenggorokannya. Malam harinya, tepat pada pukul tujuh, muncullah kembali sang tuan putri di muka jendela menara istana dan bernyanyi. Tetapi kali ini ia tidak menyanyi sendirian, di sebelahnya berdiri si tukang tepung dan bernyanyi bersama dengan sang putri.

Sang putri pun sangat gembira, sampai ia meminta si tukang tepung untuk tetap tinggal di dalam istana. Ia pun di sana tinggal sampai pada hari pernikahan mereka.

Demikianlah akhir dari kisah emas di dalam tenggorokan.





















Tidak ada komentar:

Posting Komentar