Emas dalam Tenggorokan
Ada sebuah kerjaaan yang letaknya
sangat jauh dari sini, tepatnya di belakang bulan, dan kerajaan itu luasnya
sangat tidak terkira. Di dalamnya berdiri sebuah istiana yang dindingnya
terbuat dari porselen putih, sehingga istana itu terlihat seperti sebuah
cangkir kopi yang terbalik. Tepat disebelahnya terdapat suatu menara yang
dindingnya juga terbuat dari porselen putih, dan di dalam menara itu hiduplah
seorang putri.
Setiap malam, tepatnya pukul
tujuh, sang putri selalu muncul di muka jendela menara dan bernyanyi. Seluruh
penduduk kerajaan itu, juga bahkan orang asing dari seluruh dunia
berdesak-desakan pada pagar istana untuk mendengar nyanyian itu dengan hikmat.
Pada saat sang putri menyelesaikan nyanyiannya, orang-orang itu melemparkan
rangkaian bunga untuknya dan berseru: “Putri kita memang mempunyai emas dalam
tenggorokannya, ia bernyanyi seperti burung bulbul.”
Karena semua orang menyanjung
sang putri sedemikian rupa, ia pun lama-kelamaan menjadi tinggi hati. Pada saat
ayahnya, sang raja, berkata: “Sudah tiba saatnya engkau untuk menikah.”, sang
putri menjawab, “aku hanya mau menikah dengan laki-laki yang dapat menyanyi
seperti aku.”
Sang raja pun membalas sang
putri: “Kau bodoh anakku, karena nyanyian bukanlah segalanya.” Tetapi sang
putri menghentakkan kakinya dan berteriak: “Hanya itu yang aku inginkan bukan
yang lain”, dan tidak ada seorang pun yang dapat merubah keputusannya.
Keesokan malamnya datanglah
seorang pangeran di depan gerbang istana. Pangeran itu mempunyai kulit yang
hitam legam, ia datang menunggangi unta yang berpunuk dua sambil memukul
gendang. Di belakangnya terdapat 10 pelayan, yang juga berkulit hitam, mereka
juga datang menunggang unta, tetapi hanya unta yang berpunuk satu.
Pada saat sang putri menunjukkan
mukanya yang angkuh di jendela, berkatalah pangeran itu: ”Akulah pangeran dari
Afrika, dimana sungai Nil yang biru dan jernih mengalir. Istanaku terbuat dari
buah kelapa, dan burung-burung kakak tuaku dapat berhitung dengan pintarnya.
Tukang sihirku dapat melenyapkan bergumpal-gumpal emas dalam sekejap saja,
bukankah itu sesuatu yang luar biasa! Tuan Putri, mari, turutlah bersamaku ke Afrika
dan di sanalah tuan putri pasti bahagia.”
Namun sang putri hanya bertanya,
“Dapatkah engkau bernyanyi?”. Kemudian bernyanyilah pangeran itu sebuah lagu
dari di Afrika sambil memukul gendangnya. Mendengar nyanyian pangeran itu sang
putri menutup telinganya: “Berhenti! Pergilah kembali ke Afrika dan cucilah
dirimu menjadi putih di sungai Nil mu yang berwarna biru langit itu”. Kemudian
ditutupkannya jendelanya. Perilaku buruk sang tuan putri benar-benar sangat
tidak pantas untuk seorang putri!
Keesokan harinya tibalah seorang
pemuda di depan gerbang beserta sepuluh pelayannya dan mereka semua menunggang
beruang kutub. “Saya pangeran dari kutub utara” kata si penunggang beruang tadi
“Negeri kami tertutup es sepanjang tahun. Istanaku terbuat dari es, dan dikelilingi
oleh pagar yang terbuat dari potongan es. Di taman saya tumbuh bunga dan
pohon-pohon dari es, dan pada dahan-dahannya bergantungan es krim. Setiap orang
dapat memetik dan langsung memakannya. Tuan Putri, ikutlah denganku ke kutub
utara, di sanalah tuan putri pasti akan bahagia.”
Sekali lagi sang putri hanya
bertanya, “Dapatkah kamu bernyanyi?”. Dan pangeran itu pun menyanyikan sebuah
lagu:
“Aku
adalah seorang eskimo kecil
yang
hidup di es dan salju.
Aku
selalu merasa kedinginan sampai ujung hidung
bahkan
sampai pada jari kelingking kakiku.”
Pada saat itu sang putri hampir
saja tertawa, kemudian ia berseru: “Kamu pastilah tidak akan pernah bisa
menyanyi sebaik aku. Pulanglah kembali ke kutub utara dan selimutilah dirimu
dengan kantung-kantung es.”
Pada hari yang ketiga datanglah
seorang pembantu tukang tepung sambil menunggang seekor keledai yang berwarna
abu-abu sampai ke depan istana. Pada saat sang putri memulai bernyanyi, dia pun
ikut menyanyi. Seketika itu juga tuan putri menghentikan nyanyiannya dan
berseru: “Siapa yang berani bernyanyi bersama ku, yakni seorang putri?”.
Tetapi orang-orang di depan
istana menjawab:”Tuan putri, orang itu dapat bernyanyi sebaik tuan putri. Tuan
putri harus memilihnya!”. Si tukang tepung tadi turun dari keledainya dan
membungkukkan badannya untuk memberi hormat kepada sang putri: “Tak ada lagi
yang lebih indah, selain bernyanyi bersama tuan putri seumur hidup.”
Namun si tuan putri menjadi marah
dan berseru: “Aku hanya akan menerima seorang pangeran menjadi suamiku, bukan
tukang tepung yang miskin yang duduk di atas seekor keledai.”. Mendengar hal
itu si tukang tepung pun membalikkan badannya. Kemudian ia pun kembali duduk di
atas keledainya sambil membungkukkan badannya cerminan kekecewaannya dan
keledai itu mendengus: “Iyah! Iyah!”.
Kini tidak ada lagi pelamar yang
datang. Sang putri duduk sendirian di atas tepian sumur di taman, yang
merupakan tempat kesukaannya. Ia suka menyanyi di tepian sumur itu sambil
memasukkan kepalanya kemudian mendengarkan pantulan suaranya yang keluar dari
dalam sumur itu. Pada suatu ketika ia membungkukkan badannya terlalu dalam, air
sumur seperti membuat suara “plitsch platsch”, riak-riak air sumur pun
meninggi, dan saat ia seharusnya melanjutkan nyanyiannya, tiba-tiba suaranya terdengar
seperti suara burung gagak berkaok-kaok. Dengan penuh kekhawatiran larilah sang
putri kepada ayahnya. Raja pun memanggil tabib istana, dan dengan lenteranya,
tabib itu melihat ke dalam tenggorokkan sang putri, “Yang mulia”, kata sang
tabib, “Hamba telah mengenal tuan putri sejak hamba masih bisa menggendongnya,
sejak ia tidak lebih besar dari roti yang beratnya tidak lebih dari 3 pon.
Hamba yakin sekali: dahulu itu ia mempunyai emas di dalam tenggorokannya,
tetapi sekarang tenggorokannya hitam seperti cerobong asap.”
“Pasti emas itu jatuh ke dalam
sumur” kata sang putri, “aku memang mendengar suara 'plitsch platsch' dari
dalam sumur.” Bala bantuan kerajaan pun didatangkan khusus, untuk mengeringkan
sumur itu dibutuhkan waktu lima hari dan lima malam. Kemudian lima hari dan
lima malam lagi mereka mencari emas itu di dasar sumur, akan tetapi emas
tersebut tidak dapat ditemukan.
Para penduduk segera menanyakan
hal ini kepada istana: “Mengapa tuan putri tidak menyanyi lagi?” Kemudian yang
lain menjawab: “Ia telah kehilangan emas di tenggorokannya, sekarang suaranya
terdengar seperti suara burung gagak.”
Si pembantu tukang tepung juga
mendengar hal itu ketika ia menikmati daging panggang dan kentang di sebuah
rumah makan. Meskipun makanan itu merupakan kesukaannya ia membiarkan makanan
itu tidak tersentuh. Ia segera mengambil keledainya dan segera menungganginya
dengan terburu-buru untuk kembali menuju istana Ia ingin menghibur tuan putri.
Pada siang hari yang terik
tibalah si tukang tepung itu ke depan istana. Karena keledainya sangat haus ia
menimba air dari dasar sumur dengan ember. Air dari dalam ember belum habis
diminum, tetapi kedua mata si keledai sudah berputar, mulutnya terbuka, dan
mulailah ia bernyanyi. Telinga dan ekornya pun bergoyang menurut irama.
Kemudian datanglah sang putri
dengan tergesa-gesa, diikuti oleh sang raja dibelakangnya. “Keledai itu
mengambil suaraku”, seru sang putri, “Ia harus mengembalikannya kepadaku.” Si
tukang tepung itu berkata sambil menggelengkan kepalanya: “Baru saja ia
meringkik 'Iyah, iyah', ini benar-benar sesuatu yang mustahil.” Tetapi sambil
terisak-isak si tuan putri hanya bisa menjawab, “Dia telah mengambil emas yang
di dalam tenggorokkanku dan aku menginginkannya kembali.”
“Kau lihat bukan”, kata sang
raja, “bahkan keledai pun kadang-kadang dapat juga bernyanyi. Kau seharusnya
berpikir lebih dalam lagi sebelum kau menjadi sombong.”
Si tukang tepung itu pun merasa
kasihan terhadap sang putri dan berkata, “Tuan Putri, hamba akan melakukan
apapun supaya engkau mendapatkan kembali emasmu itu. Akan tetapi sebelumnya ada
sesuatu yang hamba pinta: Jika hamba berhasil melakukannya, ijinkanlah hamba
sekali lagi bernyanyi bersama tuan putri.” Kemudian sang tuan putri pun
mengganggukkan kepalanya.
“Panggillah tabib istana itu”,
kata si tukang tepung, tidak lama kemudian sang tabib membuka mulut keledai dan
menggunakan lenteranya untuk meneranginya. Seketika itu juga sang tabib menutup
matanya dengan tangannya. “Benar-benar menyilaukan. Emas itu memang di dalam
tenggorokan keledai ini. Yang mulia, tuanku harus menarik telinga keledai ini
dengan kuat sebanyak 3 kali, kemudian serukanlah kata 'Bricklebritt'. Emas itu
pastilah akan keluar.”
Raja pun melakukan apa dikatakan
sang tabib, kemudian “Plitsch Platsch” emas itu pun ke luar dan jatuh ke atas
rumput. Sang putri membersihkan emas itu dua kali dengan air sumur, kemudian
menelan emas itu kembali ke dalam tenggorokannya. Malam harinya, tepat pada
pukul tujuh, muncullah kembali sang tuan putri di muka jendela menara istana
dan bernyanyi. Tetapi kali ini ia tidak menyanyi sendirian, di sebelahnya
berdiri si tukang tepung dan bernyanyi bersama dengan sang putri.
Sang putri pun sangat gembira,
sampai ia meminta si tukang tepung untuk tetap tinggal di dalam istana. Ia pun
di sana tinggal sampai pada hari pernikahan mereka.
Demikianlah akhir dari kisah emas
di dalam tenggorokan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar