KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT, yang
telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan judul “Pecahan, Perbandingan, dan
Persen”.
Makalah ini disusun dengan harapan dapat menambah
pengetahuan dan wawasan kita semua tentang macam-macam bilangan dan lain lain.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang
sifatnya membangun guna sempurnanya makalah ini . Kami berharap semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi pembaca umumnya dan bagi kami khususnya .
Jakarta, 9 April 2016
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI
ii
BAB
I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
2. Tujuan Penulisan
3. Ruang Lingkup
BABII
PEMBAHASAN
2. Pengertian
Pecahan, Perbandingan, dan Persen
2.1 Pembahasan Pecahan
2.2 Pembahasan Perbandingan................. ............................................................
2.3 Pembahasan Perbandingan
BAB
III PENUTUP
1. Kesimpulan
2. Saran
DAFTAR
PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Makalah
ini menyajikan pembahasan pecahan, perbandingan dan persen yang dibagi menjadi
tiga kegiatan belajar, yaitu: kegiatan belajar membahas pecahan perbandingan,
dan persen. Pecahan, perbandingan, dan persen diajarkan di sekolah dasar. Untuk
itu, agar anda (guru dan calon guru SD) dapat menyelenggarakan pembelajarannya
dengan baik, anda mutlak harus menguasai materi ini. Disamping itu, agar
pembelajaran lebih bermakna, usahakankaitkan materi ini dengan
kejadian-kejadian dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai acuan utama penulisan
bahan belajar madiri ini adalah: (1) kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk
sekolah dasar, dan (2) buku karangan Billstein, Liberskind, dan Lot (1993), A
Problem Solving Approach to Mathematics for Elemtary School Teachers.
Sedangkan sebagai rujukan tambahan penulisan bahan belajar mandiri ini adalah
buku-buku matematika SD yang beredar di pasaran, khususnya yang berkenaan
dengan pecahan, perbandingan, dan persen.
Pecahan
merupakan bagian matematika yang erat kaitannya dengan masalah yang ada
dalamkehidupan sehari-hari. Sama halnya dengan bilangan asli, cacah, dan bulat,
pecahan juga mulai diajarkan di Sekolah Dasar namun mulai diajarkannya di kelas
III semester 2 sesuai standar isi pada KTSP. Pecahan termasuk bagian dari
matematika yang diajarkan di jenjang sekolah dasar dan masih banyak yang
menjadi permasalahan dalam pembelajarannya. Melalui tulisan ini dicoba untuk
memberikan gambaran konsep tentang beberapa kaidah dalam pecahan. Konsep yang dimaksud
diantaranya mengapa pada penjumlahan dan pengurangan pecahan yang berbeda penyebut
untuk dapat melakukan operasinya harus disamakan dahulu penyebut-penyebutnya, mengapa
pada perkalian dua pecahan hasilnya sama dengan pecahan yang pembilangnya sama dengan
hasil kali pembilang pada pecahan-pecahan asal dan penyebutnya juga sama dengan
pecahan yang penyebutnya sama dengan hasil kali penyebut pada pecahan-pecahan
asal. Pembelajaran konsep-konsep pecahan didesaian sesuai dengan tahapan
pembelajaran Bruner yakni dengan tanpa memandang usia pembelajaran matematika
akan sukses diterima peserta didik jika dimulai dari tahapan kongkrit (enactive),
kemudian tahapan semi kongkrit (econic), dan terakhir tahapan abstrak (symbolic).
Menurut Bruner jika pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik dilakukan
melalui ketiga tahapan itu secara urut, maka mereka (peserta didik) akan mampu
mengembangkan pengetahuannya jauh melampaui apa yang pernah mereka terima dari
gurunya. Menurut Bruner (Jerome Bruner, 1915 – ) seorang psikolog berkebangsaan
Amerika dengan tanpa memandang usia/kelompok usia pembelajaran matematika akan
sukses diterima peserta didik jika dimulai dari tahapan kongkrit (enactive),
kemudian tahapan semi kongkrit (econic), dan terakhir tahapan abstrak (symbolic).
Menurut Bruner jika pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik dilakukan
melalui ketiga tahapan itu secara urut, maka mereka (peserta didik) akan mampu
mengembangkan pengetahuannya jauh melampaui apa yang pernah merekaterima dari
gurunya.
B. TUJUAN
Mengenalkan
kaidah/konsep-konsep pembahasan
pecahan, perbandingan dan persen terapannya agar para peserta lebih
mampu dan lebih kompeten dalam membelajarkan pecahan kepada para siswanya.
C. RUANG LINGKUP
Mengenal pecahan,
perbandingan dan persen dalam pembelajaran Matematika bagi siswa di sekolah.
BAB II
PEMBAHASAN
2. Pengertian
Pecahan, Perbandingan, dan Persen
Secara
singkat, bilangan pecahan dapat diartikan sebagai sebuah bilangan yang memiliki
pembilang dan juga penyebut. Pada bentuk bilangan ini, pembilang dibaca
terlebih dahulu baru disusul dengan penyebut. Ketika menyebutkan suatu bilangan
pecahan, diantara pembilang dan penyebut harus disisipkan kata "per".
Misalkan untuk bilangan 3/5 maka kita dapat menyebutnya dengan "tiga per
lima" begitu juga dengan bilangan 1/4 kalian bisa membacanya "satu
per empat" atau "seperempat". Apabila ada bilangan pecahan yang
memiliki nilai sama atau nilainya tetap ketika pembilang dan penyebutnya
dikalikan/dibagi dengan sebuah bilangan (bukan nol) maka bilangan pecahan
tersebut disebut dengan pecahan senilai. Konsep dari pecahan senilai adalah:

Perbandingan merupakan
suatu hal yang sangat penting dalam matematika, demikian juga dalam kehidupan
sehari-hari kita pun tidak lepas dari perbandingan. Sebagai ilustrasi perhatikan contoh
berikut :
a. Usia
Ayah 45 tahun dan usia ibu 40 tahun, sedangkan usia Ali 15 tahun serta usia Ani
10 tahun.
Perbandingan
usia ayah dan ibu = 45 tahun : 40 tahun = 45 : 40 = 9 : 8
Perbandingan Usia Ali dan Ani = 15 tahun : 10
tahun = 15 : 10 = 3 : 2
Perbandingan
usia Ayah dan Ali = 45 tahun : 15 tahun = 45 : 15 = 3 : 1
Dalam
matematika, persentase atau perseratus adalah sebuah angka perbandingan untuk
menyatakan pecahan dari seratus. Kata persen berasal dari bahasa latin per centum, yang artinya persetarus.
Persentase sering ditunjukkan dengan dengan symbol “ % “. Persentase juga
digunakan meskipun bukan unsur ratusan : N % = N/100
Jadi, n % dari suatu kuantitas
adalah n/100 dari kuantitas itu. Dengan demikian, 1% adalah 1/100 dari
keseluruhan dan 100% menunjukkan seluruh kuantitas.
Sebagai contoh, 4 orang dosen
sedang mengawas ujian di kampus, 3 dari mereka tak berkacamata dan 1 orang
berkacamata. Persentase dosen tak berkacamata adalah 3 dari 4 = 3/4 =75/100 =
75 %. Sementara dosen yang berkacamata adalah 1 dari 4 = 1/4= 25/ 100 = 25 %.
Jadi persentase dari dosen yang tak berkacamata adalah 75% dan yang berkacamata
adalah 25%.
2.1.PEMBAHASAN
PECAHAN
A.
Pengertian Bilangan Pecahan
Bilangan
pecahan adalah bilangan yang dapat dinyatakan dalam bentuk
dengan a dan b adalah anggota bilangan bulat ( a dan b
B
dan b
). a disebut pembilang dan b
disebut penyebut.
Contoh: Dua buah mangga dibagikan seorang ibu kepada 3 orang
anaknya. Berapa bagian yang didapatkan oleh setiap anaknya ?
Jawab: Masing-masing anaknya memperoleh
bagian.

B.
Pecahan Senilai (eqivalen)
Pecahan
senilai adalah pecahan – pecahan yang memiliki nilai yang sama. Suatu pecahan
mempunyai nilai tetap/sama/senilai jika pembilang dan penyebutnya dikali atau dibagi
bilangan yang sama ( bukan nol ), sehingga 
Contoh:
Berikut ini adalah contoh
pecahan – pecahan senilai atau pecahan yang memiliki nilai yang sama.

C.
Mengurutkan pecahan

Bilangan pecahan dapat
diurutkan dengan mudah apabila penyebutnya sama. Apabila penyebutnya sudah
sama, maka tinggal melihat pembilangnya dan mengurutkkan dari yang terkecil
atau terbesar.
Contoh:
Urutkan
bilangan pecahan
dari yang terbesar dan
dari yang terkecil !
Jawab:
Urutan
dari yang terbesar adalah 
Urutan dari yang terkecil adalah 
D.
Menyederhanakan Pecahan
Pecahan
dapat disederhanakan
menjadi bentuk yang paling sederhana dengan membagi pembilang dan penyebut
dengan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dari a dan b.
Contoh:
Sederhanakanlah pecahan
!
Jawab:
Pertama, tentukanlah FPB dari 45 dan
54!
Jadi FPB dari 45 dan 54 adalah 3×3=9
Setelah mendapatkan FPB dari 45 dan
54, kemudian sederhanakan pecahan tersebut dengan membagi pembilang dan
penyebutdengan 9, sehingga 
Jadi bentuk yang paling sederhana
dari pecahan
adalah 
D.
Membandingkan Dua Pecahan
Dalam membandingkan atau menentukan
hubungan antara kedua pecahan di gunakan tanda ‘<’ atau ‘kurang dari’,
‘>’ atau ‘lebih dari’.
Untuk membandingkan dua pecahan atau
lebih dapat dilakukan dengan cara membandingkan pembilangnya, dengan syarat
penyebut kedua pecahan tersebut harus sama.
Contoh:
Contoh diatas merupakan perbandingan
pecahan dengan penyebut yang sama. Tetapi apabila penyebutnya tidak sama, maka
langkah yang yang harus dilakukan adalah menyamakan penyebutnya terlebih
dahulu.
Contoh:
Bandingkanlah pecahan
!
Untuk membandingkan kedua pecahan
tersebut, maka penyebutnya disamakan dengan 6.
Maka,
sehingga 
E.
Pecahan Desimal
Pecahan desimal adalah pecahan yang mempunyai
penyebut khusus yaitu sepuluh, seratus, seribu dan seterusnya.


E.
Bentuk – Bentuk Bilangan Pecahan
a. Berdasarkan nilai/ besarnya
·
Pecahan murni, yaitu pecahan yang
besar pembilangnya kurang dari atau lebih kecil dari penyebutnya (
Contoh:

·
Pecahan tidak murni, yaitu pecahan
yang besar pembilangnya sama atau lebih besar dari penyebutnya
Contoh:

b. Berdasarkan cara penulisannya
·
Pecahan biasa, merupakan bentuk umum
dari pecahan yang di nyatakan dengan 
·
Pecahan campuran, yaitu pecahan yang
dapat ditulis dalam bentuk
.
Contoh:

·
Pecahan desimal, yaitu pecahan yang
yang penyebutnya merupakkan perpangkatan dari bilangan 10.
Contoh:

·
Pecahan persen merupakan pecahan
perseratus atau pecahan yang penyebutnya 100. Persen dilambangkan dengan %.
Contoh:

·
Pecahan permil merupakan pecahan
yang penyebutnya 1000. Permil dilambangkan dengan ‰.
Contoh:

F.
Mengubah Bentuk Pecahan ke Bentuk Lain
1.
Mengubah pecahan tidak murni menjadi
pecahan campuran dan sebaliknya
Pecahan
tidak murni dapat diubah menjadi pecahan campuran dengan membagi bilangan
penyebut dengan pembilang dan mempunyai sisa.
Contoh:
Sedangkan
untuk mengubah pecahan campuran menjadi pecahan tidak murni, bilangan bulat
dikalikan dengan penyebut dan ditambah dengan pembilangnya. Hasilnya dibagi
dengan penyebut.
Contoh:

2.
Mengubah pecahan biasa menjadi
pecahan desimal dan sebaliknya
Ada
2 cara untuk mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal yaitu membagi
pecahan biasa tersebut dengan pembagian bersusun dan juga bisa dengan
mengalikan pembilang dan penyebut dengan bilangan tertentu sehingga penyebutnya
menjadi 10,100,1.000,...
Contoh:

Cara I. 
Cara II. 
Jadi bentuk desimal dari
adalah 0,4
Mengubah pecahan desimal menjadi pecahan biasa
Contoh: 
3.
Mengubah pecahan biasa menjadi
persen dan sebaliknya
Untuk
mengubah pecahan biasa menjadi persen, maka penyebutnya diubah menjadi 100.
Contoh:

Mengubah
pecahan persen menjadi pecahan biasa
Contoh:

4.
Mengubah pecahan biasa menjadi
pecahan permil dan sebaliknya
Untuk
mengubah pecahan biasa menjadi pecahan permil yaittu dengan mengubah
penyebutnya menjadi 1.000.
Contoh:

Sedangkan
untuk mengubah permil menjadi pecahan biasa dengan menulis bentuk
kemudian
disederhanakan.
Contoh:

G.
Menentukan pecahan yang terletak diantara dua pecahan
Untuk mementukan pecahan yang terletak diantara dua
pecahan terlebih dahulu harus disamakan penyebutnya.
Contoh:
Tentukan pecahan yang nilainya terletak antara 
Jawab :
Penyebutnya disamakan dengan 15 karena KPK dari 3 dan 5 adalah 15.
Jadi, pecahan yang terletak diantara
adalah 
H. Menuliskan bilangan pecahan pada garis bilangan
Urutan
menempatkan bilangan pecahan pada garis bilangan pada dasarnya sama dengan
menempatkan bilangan bulat pada garis bilangan, yaitu semakin ke kanan
bilanagan – bilangan tersebut makin besar nilainya, sebaliknya makin ke kiri
makin kecil nilainya.
Contoh:
Letakkan
pecahan
pada garis bilangan !
Jawab:
terletak diantara bilangan bulat 0 dan 1
Penyebutnya=3 jadi pada jarak 0
sampai 1 dibagi menjadi 3 bagian
J. Operasi hitung pada bilangan pecahan
1. Penjumlahan dan Pengurangan bilangan
pecahan
Jika penyebutnya sama, dapat langsung dijumlah atau
dikurangkan pembilang – pembilangnya sedemikian sehingga 
Jika penyebutnya tidak sama, harus disamakan dulu menjadi
KPK dari penyebut- penyebutnya atau dengan rumus 
Contoh: Hitunglah !
a. 
b. 
c.
d.

Jawab:
a. 
b. 
c. 
3,15
3,323
d. 19,18 – 2,3 = 16,88
19,18
16,88
2.
Perkalian
dan pembagian bilangan pecahan
Perkalian antara bilangan bulat a dan pecahan
dinyatakan dengan 
dan perkalian atara dua pecahan
dengan b,d
≠ 0 dinyatakan dengan
Perkalian antara dua pecahan desimal dengan m dan n angka dibelakang koma menghasilkan bilangan desimal dengan ( m + n ) angka dibelakang koma.
Contoh:
o

o

o

Pembagian merupakan kebalikan dari perkalian. Membagi suatu
bilangan bulat atau pecahan dengan pecahan
sama artinya dengan mengalikan bilangan
tersebut dengan kebalikan dari
, yaitu 


Sedangkan untuk pembagian bilangan desimal, pembagi harus
dijadikan bilangan bulat, kemudian dilakukan pembagian bersusun biasa.
Contoh:
o

o

1,1
25 27,5
25
25
25
0
K.
Pembulatan dan bentuk baku pada pecahan
1.
Pembulatan pada pecahan desimal
dilakukan dengan aturan – aturan
o
Angka 5 keatas dibulatkan ke atas
o
Angka ke empat ke bawah dibulatkan ke
bawah
Contoh:
a.
Bulatkan sampai dua tempat desimal!
§ 2,379=2,38 (
9 dibulatkan ke atas, sehingga 7 menjadi 8)
§ 0,1342=0,13 ( 4 dibulatkan ke bawah, sehingga
3 tetap 3)
§ 12,8281=12,83 ( 8 dibulatkan ke atas, sehingga 2
menjadi 3)
b.
Bulatkan sampai satu tempat desimal!
§ 3,756=3,8
§ 253,146=253,1
§ 0,26703=0,3
2.
Untuk menuliskan bilangan – bilangan
yang sangat besar atau sangat kecil dengan lebih mudah, maka digunakan cara
penulisan yang disebut bentuk baku.Bentuk baku untuk bilangan besar dinyatakan
dengan
dan bentuk baku untuk bilangan kecil
dinyatakan dengan 
Contoh:
a.

b.

c.

d.

2.2.
PEMBAHASAN
Perbandingan
|
1.
|
a : b = c : d ; seharga dengan a x
d = b x c
|
|||
|
2.
|
a : b = c : d ; dapat diubah
menjadi 4 perbandingan lain
yaitu:
|
|||
|
d : b = c : a
|
||||
|
a : c = b : d
|
||||
|
c : d = a : b
|
||||
|
b : a = d : c
|
||||
|
3.
|
Pada setiap perbandingan
suku-sukunya boleh dikalikan atau
dibagi dengan bilangan yang sama
|
||||||||||||||||
|
a : b = c : d ; dapat diubah
menjadi:
|
|||||||||||||||||
|
a.
|
ma
|
:
|
mb
|
=
|
mc
|
:
|
md
|
atau:
|
a
|
:
|
b
|
=
|
c
|
:
|
d
|
||
|
m
|
m
|
m
|
m
|
||||||||||||||
|
b.
|
ma
|
:
|
mb
|
=
|
c
|
:
|
d
|
atau:
|
a
|
:
|
b
|
=
|
c
|
:
|
d
|
||
|
m
|
m
|
||||||||||||||||
|
c.
|
a
|
:
|
b
|
=
|
mc
|
:
|
md
|
atau:
|
a
|
:
|
b
|
=
|
c
|
:
|
d
|
||
|
m
|
m
|
||||||||||||||||
|
d.
|
ma
|
:
|
b
|
=
|
mc
|
:
|
d
|
atau:
|
a
|
:
|
b
|
=
|
c
|
:
|
d
|
||
|
m
|
m
|
||||||||||||||||
|
e.
|
a
|
:
|
mb
|
=
|
c
|
:
|
md
|
atau:
|
a
|
:
|
b
|
=
|
c
|
:
|
d
|
||
|
m
|
m
|
||||||||||||||||
|
f.
|
am
|
:
|
b
|
=
|
c
|
:
|
d
|
atau:
|
a
|
:
|
mb
|
=
|
c
|
:
|
d
|
||
|
m
|
m
|
||||||||||||||||
Contoh soal mengenai perbandingan dan cara
menyelesaikannya.
Tinggi badan Adi 150 cm, sedangkan tinggi badan ani 120cm, berapakah perbandingan tinggi antara adi dan ani?
jawab:
tinggi badan adi : tinggi badan ani
150 : 120
-> sederhanakan perbandingan tersebut dengan membagi keduanya dengan fpb dari keduanya. karena fpb dari keduanya adalah 30, maka :


jadi perbandingannya adalah 5:4
Untuk mencari perbandingan suatu obyek, ada beberapa hal yang perlu
dilakukan, yaitu:Tinggi badan Adi 150 cm, sedangkan tinggi badan ani 120cm, berapakah perbandingan tinggi antara adi dan ani?
jawab:
tinggi badan adi : tinggi badan ani
150 : 120
-> sederhanakan perbandingan tersebut dengan membagi keduanya dengan fpb dari keduanya. karena fpb dari keduanya adalah 30, maka :
jadi perbandingannya adalah 5:4
– Bandingkanlah besaran yang satu dengan yang lain.
– Bila satuan dari keduanya berbeda, samakan terlebih dahulu satuannya.
– Jika perbandingan masih terlalu besar, sederhanakan bentuk perbandingannya dengan menggunakan fpb dari keduanya.
Ada dua jenis perbandingan.
1. Perbandingan senilai
adalah perbandingan yang memiliki sifat besaran dimana apabila salah satu nilai bertambah, maka yang lainnya pun akan bertambah.
Misalkan
terdapat dua besaran A={a1, a2, a3,...,an}
B={b1,b2, b3,...,bn} yang
berkorespondensi satu-satu, maka A dan B disebut berbanding senilai. Jika untuk
ukuran A semakin besar maka ukuran B semakin besar pula.Menyelesaikan
perbandingan senilai:
|
A
|
B
|
|
a1
|
b1
|
|
a2
|
b2
|
|
a3
|
b3
|
|
...
|
...
|
|
an
|
bn
|
|
|
|

2. Perbandingan berbalik nilai
adalah sebuah perbandingan yang memiliki sifat besaran dimana jika salah satu bertambah maka yang lainnya akan berkurang.
Contoh
Soal :
Misal
terdapat dua besaran A={a1, a2, a3,..., an}
dan B={b1, b2, b3,...,bn} yang
berkorespondensi satu-satu maka A dan B disebut berbalik nilai jika untuk
ukuran A semakin besar tetapi B semakin kecil.Menyelesaikan perbandingan
berbalik nilai
![]() |
2.3
PERSEN
Mirip
dengan pecahan, akan tetapi persentase dibuat keseluruhan pecahan (bilangan
yang ada di bawah) adalah angka 100. Misal 3/4 itu adalah pecahan. Ketika
penyebut kita jadikan 100 maka sobat akan dapat angka 75/100. Nah /100 ini
kemudian diganti dengan istilah persen (per seratus) yang dilambangkan dengan
%. Jadi 3/4 kalau dijadikan persen = 75%.
Rumus Mencari Persentase :
Nilai
Persen = Nilai / Nilai Pecahan x 100 dan contoh soal matematika persentase ada
dibawah ini.
Perhitungan persen (%) seing digunakan
sehari-hari. Misalnya dalam perhitungan
:
- Untung, rugi, dan potongan harga pada jual beli.
- Bunga tabungan atau simpan pinjam di bank atau koperasi.
- Berat bruto dan netto dari suatu barang.
Perhitungan
Untung Rugi
Seorang penjual memperoleh keuntungan jika menjual
barang dengan harga lebih tinggi dari pembeliannya.
Untung : harga penjualan >
harga pembelian
Seorang penjual mengalami kerugian jika menjual
barang dengan harga lebih rendah dari pembeliannya.
Rugi : harga penjualan < harga pembelian
RUMUS
|
Contoh
Seorang pedagang memperoleh keuntungan 5 %. Jika harga pembelian Rp. 120.000,- berapa keuntungannya ?
Jawab
Persentase untung = 5 %
Harga pembelian = Rp. 120.000,-
Untung = 5 %
x 120.000
= Rp.
6.000,-
Pak Hasan menjual telur. Karena ada telur yang pecah Pak Hasan
menderita kerugian 5% atau Rp. 30.000,-.
Berapa rupiah hasil penjualan telur Pak Hasan ?
Jawab
Persentase rugi = 5 %
Rugi = Rp. 30.000,-
Harga pembelian = 30.000 :
5 %
= 30.000 X
100
5
= Rp. 6.00.000,-
Harga penjualan = 600.000
- 30.000
= 570.000,-
BAB
III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Pecahan, Perbandingan, dan Persen banyak di jumpai dalam
pembelajaran Matematika kita sebagai calon pendidik yang mengajar siswa di
kelas harus menguasai materi yang akan diajarkan, namun saat pengajaran
terkadang siswa menemui kendala dalam
pelajaran ini. Guru sebagai pengajar harus mampu menyajikan materi ini dan
lebih mudah dipahami siswa dengan cara yang konkret dalam kehidupan
sehari-hari.
2.
Saran
Mengingat pentingnya pelajaran Matematika karena Matematika
termasuk pelajaran yang di ujikan dalam Ujian Nasional untuk itu
penulis menyarankan bagi mereka yang mendapat nilai di bawah KKM untuk:
a. Siswa harus rajin berlatih berhitung
agar mendapat nilai yang maksimal.
b. Berlatih mengerjakan soal-soal.
c. Selalu aktif dalam pembelajaran
Matematika.
d. Mengerjakan tugas yang di berikan dan
rajin belajar.
Karena kita tidak ada ruginya dalam belajar Matematika dan
juga untuk mendapatkan nilai yang kita inginkan dan juga jika kita mau
berlatih dan berusaha semua kata sulit itu bisa di atasi, tingkatan
prestasi dan belajar andadalam pelajaran matematika.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar