Jumat, 17 Juni 2016

makalah model pembelajaran konstruktivisme



BAB I
PENDAHULUAN
A.                Latar Belakang Masalah
Banyak guru menggunakan instruksi yang terpusat pada guru. Mereka membuat presentasi yang  terprediksi, terkontrol, atau menyuruh siswa yang melakukannya. Pembelajaran sebagian besar bersifat pasif dan terkontrol. Guru melibatkan para siswa di kelas dalam metode menghapal dengan pengulangan dan mengutamakan pengingatan perserta didik yang pusatnya guru sebagai pusatnya. Penghafalan sering kali digunakan untuk memeriksa pemahaman siswa.
Namun guru – guru lain lebih memilih pengajaran yang  terpusat pada  siswa. Mereka melibatkan siswa dalam pendekatan belajar melalui pengalaman langsung seperti konstruktivisme yang mendukung  aktivitas, otentitas, refleksi. Menjalankan pengajaran yang berpusat pada siswa kurang dapat diprediksikan dan tampak lebih tidak teratur. Sebagai tambahan agar menjadi berpengetahuan, guru harus memiliki kemampuan yang  baik dalam membantu anak – anak membangun pengetahuan sebagai lawan memberikannya pengetahuan kepada mereka.
Hal ini tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem PendidikanNasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 430), dan Undang-undangNomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional. Salah satu prinsip profesionalitas guru adalah memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya. Kompetensi yang harus dimiliki seorang guru meliputi empataspek, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.
Konstruktivisme adalah cara pengajaran dan pembelajaran yang dimaksudkan untuk memaksimalkan pemahaman siswa. Ide konstruktivisme datang dari banyak dari ahli, termasuk Dewey, Piaget, Montessori, Vygotsky. Para ahli yang menciptakan ide tersebut dimaksudkan saat pengajaran para guru mendidik di dalam kelas yang mana kegiatannya terpusat pada siswa.
B.                 POKOK MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang dipaparkan diatas, maka rumusan masalahnya yaitu:
1. Apa pengertian teori model pembelajaran konstruktivisme ?
2. Mengapa model pembelajaran konstruktivisme sebagai basis filsafat ?
3. Pengaruh model pembelajaran konstruktivisme dalam proses pembelajaran ?
4. Makna model pembelajaran konstruktivisme ?
5. Prinsip-prinsip utama model pembelajaran konstruktivisme ?
6. Teori pembelajaran konstruktivisme ?
7. Ciri khas model pembelajaran konstruktivisme ?

C.    Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisannnya yaitu:
1. Untuk mengetahui pengertian teori model  pembelajaran konstruktivisme.
2. Untuk mengetahui model pembelajaran konstruktivisme sebagai basis filsafat.
3. Untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran konstruktivisme dalam proses pembelajaran.
4. Untuk mengetahui makna model pembelajaran konstruktivisme.
5. Untuk mengetahui prinsip-prinsip utama model pembelajaran konstruktivisme.
6. Untuk mengetahui teori pembelajaran konstruktivisme.
7. Untuk mengetahui ciri khas model pembelajaran konstruktivisme.

D.    Manfaaat Penulisan
Penulisan makalah ini diharapkan berguna sebagai pemenuhan tugas mata kuliah di Fakultas Ilmu pendidikan PGSD dalam mata kuliah Belajar dan Pembelajaran yang sebagai mana tugas yang diminta oleh Dosen Ibu Puri Pramudiani dan juga suatu pembelajaran yang berarti bagi semua pihak khususnya bagi pendidik, peserta didik, dan calon pendidik. Adapun penjelasannya dalah sebagai berikut:
1. Bagi pendidik, di harapkan mampu menerapkan pendekatan model pembelajaran konstruktivisme dalam proses pembelajaran semaksimal mungkin agar tercipta pembelajaran yang efektif dan efisien di kelas.
2. Bagi peserta didik, diharapkan mampu memahami pendekatan konstruktivisme yang di terapkan oleh peserta didik.
3. Bagi calon pendidik, diharapkan memberikan pembelajaran pada calon pendidik agar mereka mampu menerapkan pendekatan konstruktivisme dalam proses mengajar setelah menjadi pendidik.







BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Teori Model  Pembelajaran Konstruktivisme
Konstruktivisme berasal dari kata konstruktiv dan isme. Konstruktiv berarti bersifat membina, memperbaiki, dan membangun. Sedangkan Isme dalam kamus Bahasa Inonesia berarti paham atau aliran. Konstruktivisme merupakan aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita sendiri (von Glaserfeld dalam Pannen dkk, 2001:3). Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.

B.   Konstruktivisme  sebagai basis  Filsafat
Konstruktivisme sebenarnya gagasan utama yang di mulai oleh Giambatista Vico, seorang  epistomologi dari Italia, meskipun menurut von  Glasersfeld ( 1988 ) pengertian konstruktif kognitif  muncul pada abad ini  ( XX )  dalam tulisan  Mark Baldwin secara luas diperdalam dan disebarkan oleh Jean Piaget. Konstruktivisme menunjukkan interaksi antara subjek dan objek, antara realitas eksternal dan internal. Konstruktivisme  berbeda dengan idealisme. Konstruktivisme menantang dominasi pandangan objektivisme yang beranggapan bahwa realitas itu ada terlepas dari pengamat dan dapat diketahui atau ditemukan melalui langkah-langkah sistematis menuju kenyataan dunia ini. Bagi konstruktivisme, pengetahuan adalah konstruksi pikiran manusia. Pengetahuan adalah kerangka untuk mengerti bagaimana seseorang mengorganisasikan pengalaman dan apa yang mereka percayai sebagai realitas.
Von Glasersfeld membedakan adanya tiga taraf konstruktivisme yaitu : konstruktivisme radikal, realisme  hipotetis, dan konstruktivisme yang biasa. Konstruktivisme adalah pembelajaran yang dilandasi dengan merelefksikan pengalaman, membangun, mengkonstruksi pengetahuan pemahaman terhadap pengalaman-pengalaman baru. Konstruktivisme  radikal berpegang kita hanya dapat mengetahui apa yang dibentuk atau dikonstruksikan pikiran. Realisme hipotetis bahwa pengetahuan kita dipandang sebagai suatu struktur kenyataan dan berkembang menuju suatu pengetahuan yang sejati , yang dekat dengan realitas. Konstruktivisme yang biasa bahwa pembelajar mengkonstruksikan sendiri realitasnya atau paling tidak menterjemahkan berdasarkan pengalaman sebelumnya, juga struktur mentalnya, yang digunakannya untuk menterjemahkan objek-objek serta kejadian-kejadian baru.

C.    Pengaruh Konstruktivisme dalam Proses Belajar Mengajar
 Kegiatan belajar adalah kegiatan aktif, dimana pelajar membangun sendiri pengetahuannya. Siswa mencari sendiri dari apa yang mereka pelajari. Selain itu, belajar itu merupakan suatu perkembangan pemikiran dengan membuat kerangka pemikiran yang  berbeda. Seperti diterangkan Von Glassersfeld, dalam kelompok belajar siswa harus mengungkapkan bagaimana melihat persoalan dan apa yang akan diperbuatnya dengan persoalan tersebut. Bagi kaum konstruktivisme, mengajar  bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan guru ke murid, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti berpartisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan, membuka makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi. Maka dalam hal ini guru harus berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar siswa berjalan dengan baik.
Menurut  Von Glassersfeld, guru konstruktivis  tidak menekankan kebenaran, tetapi berhasilnya suatu operasi ( viable ) . Guru harus menunjukkan kepada siswa bahwa yang mereka pikirkan itu tidak cocok atau tidak sesuai untuk persoalan yang dihadapi. Terakhir, guru bukanlah sosok yang maha tahu dan siswa bukanlah yang belum tahu dan karena itu mereka harus diberi tahu.
Di pihak lain Suyono dan Hariyanto mengungkap dampak konstruktivisme dalam pembelajaran dapat  diklasifikasikan menjadi lima aspek , yaitu :
1.      Aspek tujuan pendidikan  yaitu : tujuan pendidikan diarahkan untuk menghasilkan individu atau anak memiliki kemampuan berpikir untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi.
2.      Aspek kurikulum yaitu : tidak memerlukan kurikulum yang  distandarisasikan.
3.      Aspek pengajaran yaitu : pendidik berfokus trerhadap  bagaimana menuyusun hubungan antar fakta-fakta serta memperkuat perolehan pengetahuan bagi siswa.
4.      Aspek pembelajaran yaitu : menekankan agar siswa selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya sendiri.
5.      Aspek penilaian yaitu :  penilaian merupakan untuk mempertimbangkan kemajuan  hasil belajar  siswa.
D.             Makna Pembelajaran Konstruktivisme
Konstruktivisme merupakan suatu aliran yang berupaya membangun tata  susunan hidup kebudayaan yang bercorak moderen. Konstruktivisme  menciptakan pemahaman baru yang menuntut aktivitas kreatif produktif dalam kontes nyata yang mendorong siswa untuk berpikir ulang lalu mendemonstrasikan. Model ini guru harus  berperan sebagai fasilitator dan mediator.

E.              Prinsip-prinsip Utama Pembelajaran Konstruktivisme
Suyono dan Riyanto menyatakan bahwa empat  prinsip sebagai pemandu, yaitu :
1.Belajar merupakan pencarian makna.
2.Pemaknaan memerlukan pemahaman bahwa keseluruhan  itu sama pentingnya dengan bagian-bagiannya.
3.Guru harus memahami model-model mental yang dipergunakan siswa terkait cara pandang model mental tersebut, agar dapat mengajar  dengan baik.
4.Tujuan pembelajaran adalah untuk mengkonstruksikan makna.
Selanjutnya dalam pandangan Suparno, ada enam prinsip menjadi pegangan proses  pembelajaran yaitu sebagai berikut:
1.               Siswa harus  ikut aktif mengembangkan pengetahuannya, yakni kreativitas dan keefektifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif  mereka.
2.      Pengajaran membantu perkembangan taraf berpikir siswa, bukan upaya indokrinasi.
3.      Ketersediaan waktu pembelajaran yang cukup dan fleksibel serta penangan yang berbeda tiap siswa.
4.       Sistem belajar  “lama” tetap digunakan sejauh itu membantu siswa lebih aktif mengembangkan pengetahuan mereka.
5.      Pengajar  harus berpikiran luas dan mendalam serta sabar dan peka terhadap gagasan-gagasan yang berbeda dari siswa.
6.      Guru  diberi kebebasan dalam mengembangkan kelasnya sesuai situasi perkembangan berpikir siswa.
Maka John Dewey, sebagai salah satu tokoh penting konstruktivistik, menyebutkan bahwa sekolah adalah laboratorium  bagi siswa untuk  penyeledikan dan pengatasan masalah kehidupan sehari-hari dalam dunia nyata, serta menegaskan siswa harus aktif dan tidak hanya menerima  pengetahuan yang  diberikan oleh guru.
Maka prinsip-prinsip konstruktivisme yang diambil dalam pendidikan, yaitu :
1.      Pengetahuan dibangun oleh siswa.
2.      Pengetahuan bernalar  berpikir.
3.      Siswa aktif mengkonstruksi  terus-menerus.
4.      Guru menyediakan sarana dan sistuasi agar  proses konstruksi siswa berjalan mulus.
F.     Teori Pembelajaran Konstruktivisme
Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya. Belajar merupakan proses aktif untuk mengembangkan skemata sehingga pengetahuan terkait bagaikan jaring laba-laba dan bukan sekedar tersusun secara hirarkis (Hudoyo, 1998: 5).
Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada diri pembelajar dengan faktor ekstern atau lingkungan, sehingga melahirkan perubahan tingkah laku.
Berikut adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau biasa jugaa disebut tahap perkembagan mental. Ruseffendi (1988: 133) mengemukakan:
Perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. Maksudnya, setiap manusia akan mengalami urutan-urutan tersebut dan dengan urutan yang sama, tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan, pengekalan, pengelompokan, pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual, dan gerak melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration), proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi).
Berbeda dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget, konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang (Poedjiadi, 1999: 62). Dalam penjelasan lain Tanjung (1998: 7) mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar.
Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi, 1999: 63) adalah sebagai berikut:
1.      Tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi.
2.      Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. Selain itu, latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari, dan
3.      Peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor, dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.
























BAB III
PENUTUP

1.                  Kesimpulan
Teori kontruktivisme adalah sebagai model pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget yang merupakan bagian dari teori kognitif juga. Piaget menegaskan bahwa penekanan teori kontruktivisme pada proses untuk menemukan teori atau pengetahuan yang dibangun dari realitas lapangan. Peran guru dalam pembelajaran menurut teori kontruktivisme adalah sebagai fasilitator atau moderator. Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya.
Berbeda dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget, konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. bahwa pembelajaran yang mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru.
Teori konstruktivisme pada dasarnya menekankan pembinaan konsep yang asas sebelum konsep itu dibangunkan dan kemudiannya diaplikasikan apabila diperlukan .
2.                  Saran
Bahwa metode  pembelajaran ini guru  menjembatani siswa  dalam memiliki pengetahuannya yang  mana  guru sebagai penyedia fasilitas, cara, dan metode dalam pelaksanaannya bahwa siswa memerlukan pengetahuan sebagai pengalaman dari tindakannya yang  ikut serta dalam pembelajarannya. Untuk  mencapai kesuksesan dalam pembelajaran guru dan siswa harus menjalin hubungan dengan baik yang  mana, guru  memandang  siswa sebagai siswa yang membutuhkan model pembelajaran yang dibutuhkannya berbeda-beda dan siswa turut  serta  dalam pembelajarannya.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar