BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Banyak guru
menggunakan instruksi yang terpusat pada guru. Mereka membuat presentasi
yang terprediksi, terkontrol, atau
menyuruh siswa yang melakukannya. Pembelajaran sebagian besar bersifat pasif
dan terkontrol. Guru melibatkan para siswa di kelas dalam metode menghapal
dengan pengulangan dan mengutamakan pengingatan perserta didik yang pusatnya
guru sebagai pusatnya. Penghafalan sering kali digunakan untuk memeriksa
pemahaman siswa.
Namun guru –
guru lain lebih memilih pengajaran yang
terpusat pada siswa. Mereka
melibatkan siswa dalam pendekatan belajar melalui pengalaman langsung seperti
konstruktivisme yang mendukung
aktivitas, otentitas, refleksi. Menjalankan pengajaran yang berpusat
pada siswa kurang dapat diprediksikan dan tampak lebih tidak teratur. Sebagai
tambahan agar menjadi berpengetahuan, guru harus memiliki kemampuan yang baik dalam membantu anak – anak membangun
pengetahuan sebagai lawan memberikannya pengetahuan kepada mereka.
Hal ini tertuang
dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem PendidikanNasional
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78,Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 430), dan Undang-undangNomor 14 Tahun 2005
tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga
profesional. Salah satu prinsip profesionalitas guru adalah memiliki kompetensi
yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya. Kompetensi yang harus dimiliki seorang
guru meliputi empataspek, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.
Konstruktivisme
adalah cara pengajaran dan pembelajaran yang dimaksudkan untuk memaksimalkan
pemahaman siswa. Ide konstruktivisme datang dari banyak dari ahli, termasuk
Dewey, Piaget, Montessori, Vygotsky. Para ahli yang menciptakan ide tersebut
dimaksudkan saat pengajaran para guru mendidik di dalam kelas yang mana
kegiatannya terpusat pada siswa.
B.
POKOK MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang dipaparkan diatas,
maka rumusan masalahnya yaitu:
1. Apa pengertian teori model pembelajaran konstruktivisme ?
2. Mengapa model pembelajaran konstruktivisme sebagai basis
filsafat ?
3. Pengaruh model pembelajaran konstruktivisme dalam proses
pembelajaran ?
4. Makna model pembelajaran konstruktivisme ?
5. Prinsip-prinsip utama model pembelajaran konstruktivisme ?
6. Teori pembelajaran konstruktivisme ?
7. Ciri khas model pembelajaran konstruktivisme ?
C. Tujuan
Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas,
maka tujuan penulisannnya yaitu:
1. Untuk mengetahui pengertian teori
model pembelajaran konstruktivisme.
2. Untuk mengetahui model
pembelajaran konstruktivisme sebagai basis filsafat.
3. Untuk mengetahui pengaruh model
pembelajaran konstruktivisme dalam proses pembelajaran.
4. Untuk mengetahui makna model pembelajaran
konstruktivisme.
5. Untuk mengetahui prinsip-prinsip
utama model pembelajaran konstruktivisme.
6. Untuk mengetahui teori
pembelajaran konstruktivisme.
7. Untuk mengetahui ciri khas model
pembelajaran konstruktivisme.
D.
Manfaaat Penulisan
Penulisan makalah ini diharapkan
berguna sebagai pemenuhan tugas mata kuliah di Fakultas Ilmu pendidikan PGSD
dalam mata kuliah Belajar dan Pembelajaran yang sebagai mana tugas yang diminta
oleh Dosen Ibu Puri Pramudiani dan juga suatu pembelajaran yang berarti
bagi semua pihak khususnya bagi pendidik, peserta didik, dan calon pendidik.
Adapun penjelasannya dalah sebagai berikut:
1. Bagi pendidik, di harapkan mampu menerapkan pendekatan model
pembelajaran konstruktivisme dalam proses pembelajaran semaksimal mungkin agar
tercipta pembelajaran yang efektif dan efisien di kelas.
2. Bagi peserta didik, diharapkan mampu memahami pendekatan
konstruktivisme yang di terapkan oleh peserta didik.
3. Bagi calon pendidik, diharapkan memberikan pembelajaran
pada calon pendidik agar mereka mampu menerapkan pendekatan konstruktivisme
dalam proses mengajar setelah menjadi pendidik.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Teori
Model Pembelajaran Konstruktivisme
Konstruktivisme berasal dari kata konstruktiv
dan isme. Konstruktiv berarti bersifat membina, memperbaiki, dan
membangun. Sedangkan Isme dalam kamus Bahasa Inonesia berarti paham atau
aliran. Konstruktivisme merupakan aliran filsafat pengetahuan yang menekankan
bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita sendiri (von Glaserfeld
dalam Pannen dkk, 2001:3). Teori
Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif,
yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme
sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan
kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman.
Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.
B. Konstruktivisme sebagai basis
Filsafat
Konstruktivisme
sebenarnya gagasan utama yang di mulai oleh Giambatista Vico, seorang epistomologi dari Italia, meskipun menurut
von Glasersfeld ( 1988 ) pengertian
konstruktif kognitif muncul pada abad
ini ( XX ) dalam tulisan
Mark Baldwin secara luas diperdalam dan disebarkan oleh Jean Piaget.
Konstruktivisme menunjukkan interaksi antara subjek dan objek, antara realitas
eksternal dan internal. Konstruktivisme
berbeda dengan idealisme. Konstruktivisme menantang dominasi pandangan
objektivisme yang beranggapan bahwa realitas itu ada terlepas dari pengamat dan
dapat diketahui atau ditemukan melalui langkah-langkah sistematis menuju
kenyataan dunia ini. Bagi konstruktivisme, pengetahuan adalah konstruksi
pikiran manusia. Pengetahuan adalah kerangka untuk mengerti bagaimana seseorang
mengorganisasikan pengalaman dan apa yang mereka percayai sebagai realitas.
Von
Glasersfeld membedakan adanya tiga taraf konstruktivisme yaitu :
konstruktivisme radikal, realisme
hipotetis, dan konstruktivisme yang biasa. Konstruktivisme adalah pembelajaran
yang dilandasi dengan merelefksikan pengalaman, membangun, mengkonstruksi
pengetahuan pemahaman terhadap pengalaman-pengalaman baru. Konstruktivisme radikal berpegang kita hanya dapat mengetahui
apa yang dibentuk atau dikonstruksikan pikiran. Realisme hipotetis bahwa
pengetahuan kita dipandang sebagai suatu struktur kenyataan dan berkembang
menuju suatu pengetahuan yang sejati , yang dekat dengan realitas.
Konstruktivisme yang biasa bahwa pembelajar mengkonstruksikan sendiri
realitasnya atau paling tidak menterjemahkan berdasarkan pengalaman sebelumnya,
juga struktur mentalnya, yang digunakannya untuk menterjemahkan objek-objek
serta kejadian-kejadian baru.
C.
Pengaruh
Konstruktivisme dalam Proses Belajar Mengajar
Kegiatan belajar adalah kegiatan aktif, dimana
pelajar membangun sendiri pengetahuannya. Siswa mencari sendiri dari apa yang
mereka pelajari. Selain itu, belajar itu merupakan suatu perkembangan pemikiran
dengan membuat kerangka pemikiran yang
berbeda. Seperti diterangkan Von Glassersfeld, dalam kelompok belajar
siswa harus mengungkapkan bagaimana melihat persoalan dan apa yang akan
diperbuatnya dengan persoalan tersebut. Bagi kaum konstruktivisme,
mengajar bukanlah kegiatan memindahkan
pengetahuan guru ke murid, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa
membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti berpartisipasi dengan siswa
dalam membentuk pengetahuan, membuka makna, mencari kejelasan, bersikap kritis,
dan mengadakan justifikasi. Maka dalam hal ini guru harus berperan sebagai mediator
dan fasilitator yang membantu agar proses belajar siswa berjalan dengan baik.
Menurut Von Glassersfeld, guru konstruktivis tidak menekankan kebenaran, tetapi
berhasilnya suatu operasi ( viable )
. Guru harus menunjukkan kepada siswa bahwa yang mereka pikirkan itu tidak
cocok atau tidak sesuai untuk persoalan yang dihadapi. Terakhir, guru bukanlah
sosok yang maha tahu dan siswa bukanlah yang belum tahu dan karena itu mereka
harus diberi tahu.
Di
pihak lain Suyono dan Hariyanto mengungkap dampak konstruktivisme dalam
pembelajaran dapat diklasifikasikan
menjadi lima aspek , yaitu :
1. Aspek
tujuan pendidikan yaitu : tujuan
pendidikan diarahkan untuk menghasilkan individu atau anak memiliki kemampuan
berpikir untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi.
2. Aspek
kurikulum yaitu : tidak memerlukan kurikulum yang distandarisasikan.
3. Aspek
pengajaran yaitu : pendidik berfokus trerhadap
bagaimana menuyusun hubungan antar fakta-fakta serta memperkuat
perolehan pengetahuan bagi siswa.
4. Aspek
pembelajaran yaitu : menekankan agar siswa selalu aktif dan dapat menemukan
cara belajar yang sesuai bagi dirinya sendiri.
5. Aspek
penilaian yaitu : penilaian merupakan
untuk mempertimbangkan kemajuan hasil
belajar siswa.
D.
Makna
Pembelajaran Konstruktivisme
Konstruktivisme
merupakan suatu aliran yang berupaya membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak
moderen. Konstruktivisme menciptakan
pemahaman baru yang menuntut aktivitas kreatif produktif dalam kontes nyata
yang mendorong siswa untuk berpikir ulang lalu mendemonstrasikan. Model ini
guru harus berperan sebagai fasilitator
dan mediator.
E.
Prinsip-prinsip
Utama Pembelajaran Konstruktivisme
Suyono
dan Riyanto menyatakan bahwa empat
prinsip sebagai pemandu, yaitu :
1.Belajar
merupakan pencarian makna.
2.Pemaknaan
memerlukan pemahaman bahwa keseluruhan
itu sama pentingnya dengan bagian-bagiannya.
3.Guru
harus memahami model-model mental yang dipergunakan siswa terkait cara pandang
model mental tersebut, agar dapat mengajar
dengan baik.
4.Tujuan
pembelajaran adalah untuk mengkonstruksikan makna.
Selanjutnya
dalam pandangan Suparno, ada enam prinsip menjadi pegangan proses pembelajaran yaitu sebagai berikut:
1.
Siswa harus ikut aktif mengembangkan pengetahuannya,
yakni kreativitas dan keefektifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri
sendiri dalam kehidupan kognitif mereka.
2.
Pengajaran membantu perkembangan taraf
berpikir siswa, bukan upaya indokrinasi.
3.
Ketersediaan waktu pembelajaran yang
cukup dan fleksibel serta penangan yang berbeda tiap siswa.
4.
Sistem belajar
“lama” tetap digunakan sejauh itu membantu siswa lebih aktif
mengembangkan pengetahuan mereka.
5.
Pengajar
harus berpikiran luas dan mendalam serta sabar dan peka terhadap
gagasan-gagasan yang berbeda dari siswa.
6.
Guru
diberi kebebasan dalam mengembangkan kelasnya sesuai situasi
perkembangan berpikir siswa.
Maka
John Dewey, sebagai salah satu tokoh penting konstruktivistik, menyebutkan
bahwa sekolah adalah laboratorium bagi
siswa untuk penyeledikan dan pengatasan
masalah kehidupan sehari-hari dalam dunia nyata, serta menegaskan siswa harus
aktif dan tidak hanya menerima
pengetahuan yang diberikan oleh
guru.
Maka
prinsip-prinsip konstruktivisme yang diambil dalam pendidikan, yaitu :
1.
Pengetahuan dibangun oleh siswa.
2.
Pengetahuan bernalar berpikir.
3.
Siswa aktif mengkonstruksi terus-menerus.
4.
Guru menyediakan sarana dan sistuasi
agar proses konstruksi siswa berjalan
mulus.
F. Teori Pembelajaran Konstruktivisme
Piaget
menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan
kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya.
Belajar merupakan proses aktif untuk mengembangkan skemata sehingga pengetahuan
terkait bagaikan jaring laba-laba dan bukan sekedar tersusun secara hirarkis
(Hudoyo, 1998: 5).
Dari
pengertian di atas, dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang
berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada diri pembelajar dengan
faktor ekstern atau lingkungan, sehingga melahirkan perubahan tingkah laku.
Berikut
adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan
intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau biasa jugaa disebut tahap
perkembagan mental. Ruseffendi (1988: 133) mengemukakan:
Perkembangan
intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan
yang sama. Maksudnya, setiap manusia akan mengalami urutan-urutan tersebut dan
dengan urutan yang sama, tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu
cluster dari operasi mental (pengurutan, pengekalan, pengelompokan, pembuatan
hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku
intelektual, dan gerak melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh
keseimbangan (equilibration), proses pengembangan yang menguraikan tentang
interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul
(akomodasi).
Berbeda
dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget, konstruktivisme sosial yang
dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam
interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. Penemuan atau discovery dalam
belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang (Poedjiadi,
1999: 62). Dalam penjelasan lain Tanjung (1998: 7) mengatakan bahwa inti
konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang
penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar.
Adapun
implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi,
1999: 63) adalah sebagai berikut:
1.
Tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan
individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap
persoalan yang dihadapi.
2.
Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan
pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. Selain itu,
latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan
menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari, dan
3.
Peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang
sesuai bagi dirinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor, dan
teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi
pengetahuan pada diri peserta didik.
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Teori
kontruktivisme adalah sebagai model pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu
tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Salah satu teori atau
pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme
adalah teori perkembangan mental Piaget yang merupakan bagian dari teori kognitif
juga. Piaget menegaskan bahwa penekanan teori kontruktivisme pada proses untuk
menemukan teori atau pengetahuan yang dibangun dari realitas lapangan. Peran
guru dalam pembelajaran menurut teori kontruktivisme adalah sebagai fasilitator
atau moderator. Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang
lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan
bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan
asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya.
Berbeda
dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget, konstruktivisme sosial yang
dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam
interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. bahwa pembelajaran yang mengacu
kepada teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan siswa
dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi
atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru.
Teori
konstruktivisme pada dasarnya menekankan pembinaan konsep yang asas sebelum
konsep itu dibangunkan dan kemudiannya diaplikasikan apabila diperlukan .
2.
Saran
Bahwa
metode pembelajaran ini guru menjembatani siswa dalam memiliki pengetahuannya yang mana
guru sebagai penyedia fasilitas, cara, dan metode dalam pelaksanaannya
bahwa siswa memerlukan pengetahuan sebagai pengalaman dari tindakannya
yang ikut serta dalam pembelajarannya.
Untuk mencapai kesuksesan dalam
pembelajaran guru dan siswa harus menjalin hubungan dengan baik yang mana, guru
memandang siswa sebagai siswa
yang membutuhkan model pembelajaran yang dibutuhkannya berbeda-beda dan siswa
turut serta dalam pembelajarannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar