Selasa, 27 September 2016

Kisah si gadis salju



Kisah si gadis salju
                                                           
Jolantha, seorang petani tua dari italia, menceritakan kepada saya kisah seorang anak perempuan dari salju, dan sekarang saya akan menceritakannya kepada kalian semua. Kisah ini sangat indah dan bagus, dan sekarang kalian akan mendengarkannya.

Ada seorang laki-laki yang tinggal bersama istrinya di pondok paling ujung di sebuah desa. Pasangan suami istri ini adalah orang yang sangat baik dan sangat rajin. Mereka mengurus dua ladang mereka, menggembalakan dua lembu mereka, dan di musim gugur mereka memetik buah-buahan dari dua pohon mereka yang sudah tua, kedua pohon itu berdiri tepat di depan taman rumah mereka bagaikan dua penjaga raksasa.

“Selalu dua”, kata istrinya, “selalu dua. Saya ingin sekali, dari dua menjadi tiga.” Suaminya tahu, istrinya itu kembali sedih karena mereka sampai saat itu masih belum mempunyai anak.

Pada malam itu salju pertama mulai turun pun, gumpalan-gumpalan salju yang besar pun mulai berjatuhan dari langit. Salju-salju turun dengan lebatnya, sampai kelihatannya pondok mereka yang kecil itu tidak dapat menahan bongkahan salju tersebut. Suami istri itu berdiri di depan jendela sambil memandang turunnya salju. Tiba-tiba berkatalah istrinya dengan mata bersinar, “Ayo, mari kita keluar dan membuat seorang anak perempuan dari salju.” Dengan segera ia menarik tangan suaminya dan membuka pintu.

Ketika melangkah di luar, salju membenamkan kaki mereka, tetapi mereka tidak memperdulikannya. Dengan gembira mereka mengambil salju yang bercahaya itu dan  mulai membentuk anak salju dengan tangan mereka sendiri. Pertama-tama mereka membentuk tubuhnya yang kecil dengan tangan dan kaki, kemudian kepalanya, dan meletakkan kepala tersebut bertengger pas di atas leher yang telah mereka buat. Setelah ini selesai istrinya berlari dengan cepat ke pondok mereka dan kembali membawa potongan arang kecil sebagai mata anak salju itu, juga segulung benang wol hitam yang kemudian dikepangnya menjadi 2 kuncir rambut. Kemudian mereka memakaikan anak salju itu sebuah baju yang berwarna merah, baju yang sudah lama dirajut dan disembunyikan di laci pakaian. Sekarang anak salju itu sudah tampak seperti seorang anak sungguhan. Tak lama kemudian sang istri seperti mendengar suara anak kecil keluar dari mulut anak salju itu. Anak salju itu berkata, “Mama, mama, gendong”. Awalnya sang istri seperti tidak mempercayai pendengarannya. Kemudian dengan gembiranya suami istri itu membawa anak salju tersebut ke dalam pondok mereka. Pada saat istrinya ingin menyalakan penghangat ruangan, si anak salju memohon, “Tolong jangan nyalakan api, aku tidak tahan!” Kemudian suami istri itu menganggukkan kepala mereka dan berkata “Apapun akan kami lakukan untuk membuatmu tetap tinggal di sini dan menjadikan rumah ini juga rumahmu.” Oleh karena  anak salju itu sekarang berada di dalam rumah mereka, hati suami istri itu menjadi hangat, mereka bahkan tidak menyadari bahwa penghangat ruangan tidak menyala.

Gadis kecil dari salju itu merupakan anak yang ceria, ia selalu tertawa dan bernyanyi sepanjang hari, dan orang-orang dari jauh pun datang hanya untuk melihat si gadis salju itu. “Oh, alangkah baik dan cantiknya gadis ini.”, kata mereka. Semua anak yang datang sangat menginginkan untuk dapat bermain bersama nya. Mereka bermain lempar salju bersama-sama, mereka juga bermain seluncuran di atas kereta salju dengan cepatnya, dan meluncur di atas sepatu salju dari desa yang satu ke desa yang lain.

Hal ini terjadi sepanjang musim dingin, suami istri itu hampir tidak mempercayai kebahagiaan yang mereka dapatkan. Mereka tidak hanya mendapatkan seorang anak, melainkan seorang anak istimewa, yang berbeda dari anak yang lain, yang juga membawa kebahagiaan dari pagi hingga malam hari.

Pada saat angin musim semi mulai berhembus, lambat laun salju mulai meleleh. Salju pun semakin meleleh lagi, pada saat matahari musim semi semakin memancarkan cahayanya yang hangat. Gadis salju kecil itu menjadi sangat sedih, ia melarikan diri dari musim semi dan berlari ke arah hutan cemara sambil menyembunyikan tubuhnya yang bergetar hebat. Ibunya akhirnya menemukannya di sana dan mencoba menghiburnya, walaupun ia sendiri juga sebenarnya tidak kalah sedihnya. Teman-teman bermain si gadis kecil itu juga  kembali bernyanyi dan bermain bersama, supaya si gadis itu dapat kembali tertawa lagi. Karena itu mereka menyalakan api unggun yang besar hanya untuknya dan mulai menari mengelilingi api unggun itu. “Yuk, menari yuk!” teriak teman-temannya. Pada saat ia ragu-ragu, teman-temannya menariknya mendekati lingkaran api unggun tersebut. Sekarang sebenarnya saat yang sangat tepat untuk bergembira, melompat dan menari bersama teman-temannya, tetapi saat ia berada dekat dengan api unggun, tiba-tiba ia menjadi terhuyung-huyung dan akhirnya ia pun jatuh. Saat ia jatuh, tangannya mulai meleleh dan mencair di tangan teman-temannya yang menggandengnya, dan akhirnya hanya tinggal tetesan air yang bercahaya menempel pada jari-jari teman-temannya tadi.

“Ah, seandainya kita tidak menyalakan api tadi”, gerutu anak-anak itu, “mungkin si gadis salju masih bisa bersama-sama dengan kita beberapa hari lagi.” Kemungkinan besar memang hanya beberapa hari saja, karena segera cahaya sinar matahari di musim semi pasti akan membuatnya meleleh.

Apakah si gadis salju itu di musim dingin berikutnya datang kembali ke rumah suami istri itu? “ Hal itulah yang saya harapkan” kata si Jolantha, si petani tua dari Italia, yang menceritakan kisah ini, dan saya pun tidak tahu apakah si gadis salju itu akan datang kembali.













Tidak ada komentar:

Posting Komentar