Kisah si gadis salju
Jolantha, seorang petani tua dari
italia, menceritakan kepada saya kisah seorang anak perempuan dari salju, dan
sekarang saya akan menceritakannya kepada kalian semua. Kisah ini sangat indah
dan bagus, dan sekarang kalian akan mendengarkannya.
Ada seorang laki-laki yang
tinggal bersama istrinya di pondok paling ujung di sebuah desa. Pasangan suami
istri ini adalah orang yang sangat baik dan sangat rajin. Mereka mengurus dua
ladang mereka, menggembalakan dua lembu mereka, dan di musim gugur mereka
memetik buah-buahan dari dua pohon mereka yang sudah tua, kedua pohon itu
berdiri tepat di depan taman rumah mereka bagaikan dua penjaga raksasa.
“Selalu dua”, kata istrinya,
“selalu dua. Saya ingin sekali, dari dua menjadi tiga.” Suaminya tahu, istrinya
itu kembali sedih karena mereka sampai saat itu masih belum mempunyai anak.
Pada malam itu salju pertama
mulai turun pun, gumpalan-gumpalan salju yang besar pun mulai berjatuhan dari
langit. Salju-salju turun dengan lebatnya, sampai kelihatannya pondok mereka
yang kecil itu tidak dapat menahan bongkahan salju tersebut. Suami istri itu
berdiri di depan jendela sambil memandang turunnya salju. Tiba-tiba berkatalah
istrinya dengan mata bersinar, “Ayo, mari kita keluar dan membuat seorang anak
perempuan dari salju.” Dengan segera ia menarik tangan suaminya dan membuka
pintu.
Ketika melangkah di luar, salju
membenamkan kaki mereka, tetapi mereka tidak memperdulikannya. Dengan gembira
mereka mengambil salju yang bercahaya itu dan
mulai membentuk anak salju dengan tangan mereka sendiri. Pertama-tama
mereka membentuk tubuhnya yang kecil dengan tangan dan kaki, kemudian
kepalanya, dan meletakkan kepala tersebut bertengger pas di atas leher yang
telah mereka buat. Setelah ini selesai istrinya berlari dengan cepat ke pondok
mereka dan kembali membawa potongan arang kecil sebagai mata anak salju itu,
juga segulung benang wol hitam yang kemudian dikepangnya menjadi 2 kuncir
rambut. Kemudian mereka memakaikan anak salju itu sebuah baju yang berwarna
merah, baju yang sudah lama dirajut dan disembunyikan di laci pakaian. Sekarang
anak salju itu sudah tampak seperti seorang anak sungguhan. Tak lama kemudian
sang istri seperti mendengar suara anak kecil keluar dari mulut anak salju itu.
Anak salju itu berkata, “Mama, mama, gendong”. Awalnya sang istri seperti tidak
mempercayai pendengarannya. Kemudian dengan gembiranya suami istri itu membawa
anak salju tersebut ke dalam pondok mereka. Pada saat istrinya ingin menyalakan
penghangat ruangan, si anak salju memohon, “Tolong jangan nyalakan api, aku
tidak tahan!” Kemudian suami istri itu menganggukkan kepala mereka dan berkata
“Apapun akan kami lakukan untuk membuatmu tetap tinggal di sini dan menjadikan
rumah ini juga rumahmu.” Oleh karena
anak salju itu sekarang berada di dalam rumah mereka, hati suami istri
itu menjadi hangat, mereka bahkan tidak menyadari bahwa penghangat ruangan
tidak menyala.
Gadis kecil dari salju itu
merupakan anak yang ceria, ia selalu tertawa dan bernyanyi sepanjang hari, dan
orang-orang dari jauh pun datang hanya untuk melihat si gadis salju itu. “Oh,
alangkah baik dan cantiknya gadis ini.”, kata mereka. Semua anak yang datang sangat
menginginkan untuk dapat bermain bersama nya. Mereka bermain lempar salju
bersama-sama, mereka juga bermain seluncuran di atas kereta salju dengan
cepatnya, dan meluncur di atas sepatu salju dari desa yang satu ke desa yang
lain.
Hal ini terjadi sepanjang musim
dingin, suami istri itu hampir tidak mempercayai kebahagiaan yang mereka
dapatkan. Mereka tidak hanya mendapatkan seorang anak, melainkan seorang anak
istimewa, yang berbeda dari anak yang lain, yang juga membawa kebahagiaan dari
pagi hingga malam hari.
Pada saat angin musim semi mulai
berhembus, lambat laun salju mulai meleleh. Salju pun semakin meleleh lagi,
pada saat matahari musim semi semakin memancarkan cahayanya yang hangat. Gadis
salju kecil itu menjadi sangat sedih, ia melarikan diri dari musim semi dan
berlari ke arah hutan cemara sambil menyembunyikan tubuhnya yang bergetar
hebat. Ibunya akhirnya menemukannya di sana dan mencoba menghiburnya, walaupun
ia sendiri juga sebenarnya tidak kalah sedihnya. Teman-teman bermain si gadis kecil
itu juga kembali bernyanyi dan bermain
bersama, supaya si gadis itu dapat kembali tertawa lagi. Karena itu mereka
menyalakan api unggun yang besar hanya untuknya dan mulai menari mengelilingi
api unggun itu. “Yuk, menari yuk!” teriak teman-temannya. Pada saat ia
ragu-ragu, teman-temannya menariknya mendekati lingkaran api unggun tersebut.
Sekarang sebenarnya saat yang sangat tepat untuk bergembira, melompat dan
menari bersama teman-temannya, tetapi saat ia berada dekat dengan api unggun,
tiba-tiba ia menjadi terhuyung-huyung dan akhirnya ia pun jatuh. Saat ia jatuh,
tangannya mulai meleleh dan mencair di tangan teman-temannya yang
menggandengnya, dan akhirnya hanya tinggal tetesan air yang bercahaya menempel
pada jari-jari teman-temannya tadi.
“Ah, seandainya kita tidak
menyalakan api tadi”, gerutu anak-anak itu, “mungkin si gadis salju masih bisa
bersama-sama dengan kita beberapa hari lagi.” Kemungkinan besar memang hanya
beberapa hari saja, karena segera cahaya sinar matahari di musim semi pasti
akan membuatnya meleleh.
Apakah si gadis salju itu di
musim dingin berikutnya datang kembali ke rumah suami istri itu? “ Hal itulah
yang saya harapkan” kata si Jolantha, si petani tua dari Italia, yang
menceritakan kisah ini, dan saya pun tidak tahu apakah si gadis salju itu akan
datang kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar