Selasa, 27 September 2016

Teresina yang malas



Teresina yang malas

Dahulu kala ada seorang gadis, anak seorang petani, yang kesenangannya adalah berbaring sepanjang hari di tempat tidur. Sebetulnya gadis itu sehat dan muda, dan juga semua anggota tubuhnya lengkap. Ia selalu berbaring di tempat tidur, sementara matahari bersinar dengan terangnya di luar dan orang-orang melakukan pekerjaannya di ladang. Gadis itu hanya menggeliat dan meregangkan badannya, kadang-kadang menguap dengan kerasnya dan kemudian tertidur kembali.

Pada suatu hari ibunya bertanya kepada anak gadisnya, “Kamu mau jadi apa Teresina? Kamu tidak akan pernah mendapat seorang suami dan anak-anak, kamu hanya menyia-nyiakan hidupmu, ah, betapa hal ini menyedihkan saya.” Perkataan ibunya tadi sayangnya hanya sedikit masuk ke hati gadis itu, kemudian ia bangun, berganti pakaian dan duduk di depan  jendela. Dari sana ia melihat seorang petani yang masih muda. Petani muda itu berpikir: “Betapa cantiknya gadis itu, saya belum pernah melihat sosok cantik itu sebelumnya, saya tidak akan memperistrikan yang lain selain dia.”

Oleh karena pemuda itu juga seorang yang gagah, gadis itu pun tidak dapat menolaknya, tetapi Ibu dari Teresina memperingatkan pemuda itu: “Kamu akan mengalami keajaiban.” Ia hanya berkata demikian, karena ia tidak ingin merusak perkawinan putrinya. “Keajaiban, saya sudah mempercayainya” kata sang pengantin laki-laki, “Saya hampir tidak percaya, bahwa ia betul-betul mau menikah dengan saya.”

Pernikahan itu berlangsung tiga hari, di pesta tersebut terdapat makanan yang berlimpah, ada yang dipanggang, asinan, manisan, juga makanan penutup seperti bermacam-macam es. Para tamu yang datang dijamu dengan makanan dan minuman yang lezat, mereka juga menyanyi dan menari. Sang pengantin laki-laki tidak sedikitpun melepaskan pandangannya dari pengantin wanitanya,  sehingga si gadis sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk melepaskan dirinya dari pemuda itu untuk bermalas-malasan kembali.

Pemuda yang baru saja menjadi seorang suami itu, biasanya berkerja di ladang bersama dengan ibunya dan seorang pembantu mereka. Ketiganya sangat senang akan kedatangan seorang wanita muda di dalam rumah mereka. Pada hari pertama setelah perkawinannya Teresina tidak bangun di pagi harinya, demikian juga di hari yang kedua, ketiganya memang merasa sedikit heran, namun mereka berkata: “Suatu pesta pernikahan yang besar memang melelahkan, kita biarkan dulu dia beristirahat dengan baik.”

Pada hari yang ketiga Teresina masih saja tidak terlihat di ladang, dan ibu dari pemuda itu yang sudah tua masih harus memberi makan ternak dan memasak makanan untuk mereka. Melihat hal tersebut si ibu itu tidak meletakkan piring untuk Tersina di meja makan. “Di mana makanan untuk saya?” tanya si gadis malas yang baru saja keluar dari kamar tidurnya. Ibu petani itu menjawab, “Siapa yang tidak bekerja, tidak boleh makan.” Dan pada saat ibu itu kembali ke ladang bersama anak dan pembantunya, dikuncinya semua lemari dan peti di dalam rumah, supaya Teresina tidak dapat mengambil makanan dengan diam-diam.

Teresina memalingkan badannya dan kembali tidur. Ketika Teresina pada siang harinya, juga di hari-hari berikutnya menuju  ke meja makan, kembali ia mendengar kata-kata yang sama: “Siapa yang tidak bekerja, tidak boleh makan.” Maka mulailah ia sadar. Pada suatu pagi Teresina bangun, ia memberi makan ternak, menimbun jerami-jerami untuk ternak-ternak itu, kemudian ia kembali ke kamarnya. Kali ini ia mendapatkan sepiring sup hangat yang masih berasap, tidak lebih dan tidak kurang. Dan ia memakannya dengan lahap.

Keesokan harinya ia kembali memberi makan ternak, menimbun jerami-jerami untuk para ternak, juga membersihkan kandang ternak, dan kemudian kembali ke kamarnya. Kali ini Teresina mendapatkan sup yang hangat dan satu potong besar daging di dalamnya, tidak lebih dan tidak kurang. Dan ia pun memakannya dengan lahap.

Pada hari yang ketiga, saat ayam berkokok, si gadis sudah bangun bersamaan dengan yang lainnya, ia mengambil keranjang dan cangkul, cangkul itu dibawanya di atas bahunya dan ia pergi ke ladang bersama dengan yang lainnya. Ia berkata, “Ah, sebelumnya saya tidak menyadari, betapa indahnya pada pagi hari.” Dengan riangnya ia bernyanyi seolah-olah ia menyaingi nyanyian burung-burung.

Sesaat sebelum lonceng di siang hari berbunyi, Teresina berlari menuju rumah, menyiapkan sup, memanggang kue dengan cekatan, mengaduk telur dan akhirnya menaburkan gula di atasnya. Ia menyiapkan meja untuk makan, kemudian bersembunyi di dalam lemari.

Pada saat ibu petani, petani muda, dan pembantu mereka dari ladang masuk ke dalam rumah dan melihat semua sudah tertata dengan rapih di atas meja, mereka sangatlah gembira. Sang ibu mengambil piring istimewa yang ada gambarnya dari dalam rak dan berkata: “Siapa yang bekerja dengan baik, dia layak mendapatkan makan yang enak.” Tiba-tiba keluarlah Teresina dari tempat persembunyiannya, tertawa dengan riang, dan duduk di sebelah suaminya. Sekarang ia dapat makan sebanyak yang ia inginkan.

Kebetulan hari itu, ibu dari Teresina mengunjungi mereka dan melihat Teresina tidak lagi bermalas-malasan di atas tempat tidur, melainkan duduk dengan manisnya di depan meja. Ia menepuk kedua tangannya dan berkata: “Akhirnya kita semua mengalami keajaiban.” Ia pun takjub dan gembira akan perubahan anaknya.















Tidak ada komentar:

Posting Komentar