Teresina yang malas
Dahulu kala ada seorang gadis,
anak seorang petani, yang kesenangannya adalah berbaring sepanjang hari di
tempat tidur. Sebetulnya gadis itu sehat dan muda, dan juga semua anggota
tubuhnya lengkap. Ia selalu berbaring di tempat tidur, sementara matahari
bersinar dengan terangnya di luar dan orang-orang melakukan pekerjaannya di
ladang. Gadis itu hanya menggeliat dan meregangkan badannya, kadang-kadang
menguap dengan kerasnya dan kemudian tertidur kembali.
Pada suatu hari ibunya bertanya
kepada anak gadisnya, “Kamu mau jadi apa Teresina? Kamu tidak akan pernah
mendapat seorang suami dan anak-anak, kamu hanya menyia-nyiakan hidupmu, ah,
betapa hal ini menyedihkan saya.” Perkataan ibunya tadi sayangnya hanya sedikit
masuk ke hati gadis itu, kemudian ia bangun, berganti pakaian dan duduk di
depan jendela. Dari sana ia melihat
seorang petani yang masih muda. Petani muda itu berpikir: “Betapa cantiknya
gadis itu, saya belum pernah melihat sosok cantik itu sebelumnya, saya tidak
akan memperistrikan yang lain selain dia.”
Oleh karena pemuda itu juga
seorang yang gagah, gadis itu pun tidak dapat menolaknya, tetapi Ibu dari
Teresina memperingatkan pemuda itu: “Kamu akan mengalami keajaiban.” Ia hanya
berkata demikian, karena ia tidak ingin merusak perkawinan putrinya.
“Keajaiban, saya sudah mempercayainya” kata sang pengantin laki-laki, “Saya hampir
tidak percaya, bahwa ia betul-betul mau menikah dengan saya.”
Pernikahan itu berlangsung tiga
hari, di pesta tersebut terdapat makanan yang berlimpah, ada yang dipanggang,
asinan, manisan, juga makanan penutup seperti bermacam-macam es. Para tamu yang
datang dijamu dengan makanan dan minuman yang lezat, mereka juga menyanyi dan
menari. Sang pengantin laki-laki tidak sedikitpun melepaskan pandangannya dari
pengantin wanitanya, sehingga si gadis
sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk melepaskan dirinya dari pemuda itu
untuk bermalas-malasan kembali.
Pemuda yang baru saja menjadi
seorang suami itu, biasanya berkerja di ladang bersama dengan ibunya dan
seorang pembantu mereka. Ketiganya sangat senang akan kedatangan seorang wanita
muda di dalam rumah mereka. Pada hari pertama setelah perkawinannya Teresina
tidak bangun di pagi harinya, demikian juga di hari yang kedua, ketiganya
memang merasa sedikit heran, namun mereka berkata: “Suatu pesta pernikahan yang
besar memang melelahkan, kita biarkan dulu dia beristirahat dengan baik.”
Pada hari yang ketiga Teresina
masih saja tidak terlihat di ladang, dan ibu dari pemuda itu yang sudah tua
masih harus memberi makan ternak dan memasak makanan untuk mereka. Melihat hal
tersebut si ibu itu tidak meletakkan piring untuk Tersina di meja makan. “Di
mana makanan untuk saya?” tanya si gadis malas yang baru saja keluar dari kamar
tidurnya. Ibu petani itu menjawab, “Siapa yang tidak bekerja, tidak boleh
makan.” Dan pada saat ibu itu kembali ke ladang bersama anak dan pembantunya,
dikuncinya semua lemari dan peti di dalam rumah, supaya Teresina tidak dapat
mengambil makanan dengan diam-diam.
Teresina memalingkan badannya dan
kembali tidur. Ketika Teresina pada siang harinya, juga di hari-hari berikutnya
menuju ke meja makan, kembali ia
mendengar kata-kata yang sama: “Siapa yang tidak bekerja, tidak boleh makan.”
Maka mulailah ia sadar. Pada suatu pagi Teresina bangun, ia memberi makan
ternak, menimbun jerami-jerami untuk ternak-ternak itu, kemudian ia kembali ke
kamarnya. Kali ini ia mendapatkan sepiring sup hangat yang masih berasap, tidak
lebih dan tidak kurang. Dan ia memakannya dengan lahap.
Keesokan harinya ia kembali
memberi makan ternak, menimbun jerami-jerami untuk para ternak, juga
membersihkan kandang ternak, dan kemudian kembali ke kamarnya. Kali ini
Teresina mendapatkan sup yang hangat dan satu potong besar daging di dalamnya,
tidak lebih dan tidak kurang. Dan ia pun memakannya dengan lahap.
Pada hari yang ketiga, saat ayam
berkokok, si gadis sudah bangun bersamaan dengan yang lainnya, ia mengambil
keranjang dan cangkul, cangkul itu dibawanya di atas bahunya dan ia pergi ke
ladang bersama dengan yang lainnya. Ia berkata, “Ah, sebelumnya saya tidak
menyadari, betapa indahnya pada pagi hari.” Dengan riangnya ia bernyanyi
seolah-olah ia menyaingi nyanyian burung-burung.
Sesaat sebelum lonceng di siang
hari berbunyi, Teresina berlari menuju rumah, menyiapkan sup, memanggang kue
dengan cekatan, mengaduk telur dan akhirnya menaburkan gula di atasnya. Ia
menyiapkan meja untuk makan, kemudian bersembunyi di dalam lemari.
Pada saat ibu petani, petani
muda, dan pembantu mereka dari ladang masuk ke dalam rumah dan melihat semua
sudah tertata dengan rapih di atas meja, mereka sangatlah gembira. Sang ibu
mengambil piring istimewa yang ada gambarnya dari dalam rak dan berkata: “Siapa
yang bekerja dengan baik, dia layak mendapatkan makan yang enak.” Tiba-tiba
keluarlah Teresina dari tempat persembunyiannya, tertawa dengan riang, dan
duduk di sebelah suaminya. Sekarang ia dapat makan sebanyak yang ia inginkan.
Kebetulan hari itu, ibu dari
Teresina mengunjungi mereka dan melihat Teresina tidak lagi bermalas-malasan di
atas tempat tidur, melainkan duduk dengan manisnya di depan meja. Ia menepuk
kedua tangannya dan berkata: “Akhirnya kita semua mengalami keajaiban.” Ia pun
takjub dan gembira akan perubahan anaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar