Selasa, 27 September 2016

Tikus di dalam Jam Kuno



Tikus di dalam Jam Kuno

Apakah kalian pernah melihat jam kuno besar seperti milik seorang kakek tua? Yang saya maksud bukan seperti yang ada dalam cerita bergambar, tetapi suatu jam sungguhan seperti yang akan saya ceritakan sekarang ini. Jam ini terbuat dari kayu yang sangat bagus, dan mempunyai bandul yang sangat besar. Jarum penunjuknya berkilauan di dalam kegelapan, sedang bandulnya berayun dengan keras dan berdetak sedemikian rupa, sehingga setiap orang dapat melihat, bahwa tidak ada pekerjaan yang lebih penting di dunia ini selain dari tugas jam kuno itu.

Jam kuno ini dimiliki oleh seorang kakek, dan diletakkan di suatu tempat yang tepat sehingga dapat dilihat oleh semua orang. Ada seekor tikus yang membuat sarang didalam jam kuno tersebut dan hidup didalamnya dengan tenang dan damai. Hal ini membuat iri tikus-tikus lainnya yang harus puas dengan tinggal di dalam lobang dibalik dinding.

Semua kegiatan di dalam rumah sang Kakek sangatlah bergantung pada jam kuno tersebut. Setiap kali bangun tidur maupun saat menjelang tidur tidak lupa setiap orang didalam rumah itu pasti akan melihat padanya, bahkan anak-anak pun tidak lupa melirik jam itu pada saat mereka bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Bahkan pembantu rumah tangga juga selalu melihat pada jam tersebut untuk memastikan apakah sudah waktunya untuk menyiapkan makanan. Jam berdentang lima kali, tibalah saatnya untuk minum teh, sang tikus pun keluar dari sarangnya untuk mengambil remah-remah keju.

Tidaklah heran apabila si jam kuno itu merasa dirinya sangat penting, sehingga membuat dirinya angkuh, dan keangkuhannya itu hampir mencelakakan dirinya. Pada suatu hari berkatalah sang ibu: “Ah, apa yang harus kita lakukan tanpa jam kita yang setia ini.” Mendengar hal itu berdetaklah jam kuno itu dengan angkuhnya.

Kemudian si jarum penunjuk menit bertanya, “Ya Tuhan, mengapa kamu berdetak sedemikian rupa? Janganlah kamu sombong. Bayangkan, jika saya tidak ada, tidak ada seorang pun akan tahu waktu yang tepat.” “Kalian dengar perkataan dia?” gerutu sang penunjuk jam. “Banyak orang sombong yang tidak kenal siapa dirinya. Sebenarnya apabila saya, si jarum penunjuk jam tidak ada, tidak ada seorang pun yang akan tahu waktu yang tepat. ”Hei, penunjuk menit dan jam!” bantah sang bandul dengan suara kesal, “Kalian ini memang bodoh dan kalian yakin bahwa hanya kalian yang benar. Padahal sayalah yang terpenting di sini, jika saya tidak ada, tidak ada seorang pun yang tahu waktu yang tepat.”

Karena jengkelnya, sang penunjuk menit membungkukkan badannya ke belakang: “Benarkah?” teriaknya dengan suara yang nyaring, “Saya akan menunjukkan pada kalian, siapa yang paling terpenting disini. Mulai saat ini saya tidak akan berdetak lagi.” Dan sejak saat itu pun ia tetap diam dan tidak berdetak lagi. “Saya juga akan melakukan hal yang sama” sahut si jarum penunjuk jam. Ia berhenti tepat di depan jarum penujuk menit dan tidak berdetak lagi.

Si bandul yang memang sudah mulai tipis, karena sejak ratusan tahun selalu berayun dari satu sisi ke sisi lain, mulai berpikir, “Saya akan menunjukkan kepada kalian, siapa yang paling penting di sini.” Ia juga melakukan hal yang sama dan berhenti berayun.

Sang tikus yang ikut mendengar dari tempat persembunyiannya, berpikir: “Apa yang harus saya lakukan? Anak-anak akan terlambat masuk ke sekolah, makanan tidak akan disiapkan tepat pada waktunya, dan saya tidak akan mendapat remah-remah keju lagi. Ini benar-benar sesuatu yang buruk.” Ia mengerat sambil mencari akal, tetapi ia tidak mendapatkan jalan keluar apapun. Akhirnya ia pun keluar dari sarangnya dan memanjat ke atas jam tersebut. “Hai dengar!” teriaknya sesampainya di sana, “Mengapa kalian bertengkar, setelah ratusan tahun kalian bersama-sama hidup damai? Kalian semua sama pentingnya, tetapi kalian telah melupakan sesuatu: tanpa sang anak kunci tidak ada seorangpun dari kalian dapat bergerak.”

Saat itu terdengarlah langkah orang masuk, dan si tikus pun segera kembali ke tempat persembunyiannya.

“Oh”, kata suara itu. “Jam kuno ini tidak berdetak, seseorang pasti lupa menjalankannya.” Kemudian orang tersebut mengambil anak kunci dari dalam kotak jam, membuka jam itu dan membenarkan letak jarum-jarumnya. Lalu ia menyentakkan bandul itu dan menunggu sampa bandul itu berayun ke kanan dan ke kiri.

“Si Tikus itu benar, dia lebih pintar dari kita semua”, teriak jarum penunjuk jam. “Anak kunci lah yang paling penting. Hal yang tidak terpikirkan oleh siapapun” Akan tetapi anak kunci itu menyangkal, “Tidak, tidak, kita semua disini sama pentingnya: si bandul dan jarum penunjuk menit juga penting. Apabila setiap kita bekerja sendiri-sendiri, kita tidak akan berguna, tetapi apabila kita bekerja bersama-sama, semuanya akan dapat berjalan lancar dan baik.” Tak satupun dari mereka dapat menyangkalnya dan akhirnya mereka rukun kembali.

Bandul berdetak lima kali, dan si tikus pun melompat ke luar untuk mengambil remah-remah keju. Jam kuno milik kakek pun akhirnya berdetak terus menerus dengan gembira tiada henti sampai ratusan tahun kemudian.



























Tidak ada komentar:

Posting Komentar