Tikus di dalam Jam Kuno
Apakah kalian pernah melihat jam
kuno besar seperti milik seorang kakek tua? Yang saya maksud bukan seperti yang
ada dalam cerita bergambar, tetapi suatu jam sungguhan seperti yang akan saya
ceritakan sekarang ini. Jam ini terbuat dari kayu yang sangat bagus, dan
mempunyai bandul yang sangat besar. Jarum penunjuknya berkilauan di dalam
kegelapan, sedang bandulnya berayun dengan keras dan berdetak sedemikian rupa,
sehingga setiap orang dapat melihat, bahwa tidak ada pekerjaan yang lebih
penting di dunia ini selain dari tugas jam kuno itu.
Jam kuno ini dimiliki oleh
seorang kakek, dan diletakkan di suatu tempat yang tepat sehingga dapat dilihat
oleh semua orang. Ada seekor tikus yang membuat sarang didalam jam kuno
tersebut dan hidup didalamnya dengan tenang dan damai. Hal ini membuat iri
tikus-tikus lainnya yang harus puas dengan tinggal di dalam lobang dibalik
dinding.
Semua kegiatan di dalam rumah
sang Kakek sangatlah bergantung pada jam kuno tersebut. Setiap kali bangun
tidur maupun saat menjelang tidur tidak lupa setiap orang didalam rumah itu
pasti akan melihat padanya, bahkan anak-anak pun tidak lupa melirik jam itu
pada saat mereka bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Bahkan pembantu rumah
tangga juga selalu melihat pada jam tersebut untuk memastikan apakah sudah
waktunya untuk menyiapkan makanan. Jam berdentang lima kali, tibalah saatnya
untuk minum teh, sang tikus pun keluar dari sarangnya untuk mengambil
remah-remah keju.
Tidaklah heran apabila si jam
kuno itu merasa dirinya sangat penting, sehingga membuat dirinya angkuh, dan
keangkuhannya itu hampir mencelakakan dirinya. Pada suatu hari berkatalah sang
ibu: “Ah, apa yang harus kita lakukan tanpa jam kita yang setia ini.” Mendengar
hal itu berdetaklah jam kuno itu dengan angkuhnya.
Kemudian si jarum penunjuk menit
bertanya, “Ya Tuhan, mengapa kamu berdetak sedemikian rupa? Janganlah kamu
sombong. Bayangkan, jika saya tidak ada, tidak ada seorang pun akan tahu waktu
yang tepat.” “Kalian dengar perkataan dia?” gerutu sang penunjuk jam. “Banyak
orang sombong yang tidak kenal siapa dirinya. Sebenarnya apabila saya, si jarum
penunjuk jam tidak ada, tidak ada seorang pun yang akan tahu waktu yang tepat.
”Hei, penunjuk menit dan jam!” bantah sang bandul dengan suara kesal, “Kalian ini
memang bodoh dan kalian yakin bahwa hanya kalian yang benar. Padahal sayalah
yang terpenting di sini, jika saya tidak ada, tidak ada seorang pun yang tahu
waktu yang tepat.”
Karena jengkelnya, sang penunjuk
menit membungkukkan badannya ke belakang: “Benarkah?” teriaknya dengan suara
yang nyaring, “Saya akan menunjukkan pada kalian, siapa yang paling terpenting
disini. Mulai saat ini saya tidak akan berdetak lagi.” Dan sejak saat itu pun
ia tetap diam dan tidak berdetak lagi. “Saya juga akan melakukan hal yang sama”
sahut si jarum penunjuk jam. Ia berhenti tepat di depan jarum penujuk menit dan
tidak berdetak lagi.
Si bandul yang memang sudah mulai
tipis, karena sejak ratusan tahun selalu berayun dari satu sisi ke sisi lain,
mulai berpikir, “Saya akan menunjukkan kepada kalian, siapa yang paling penting
di sini.” Ia juga melakukan hal yang sama dan berhenti berayun.
Sang tikus yang ikut mendengar
dari tempat persembunyiannya, berpikir: “Apa yang harus saya lakukan? Anak-anak
akan terlambat masuk ke sekolah, makanan tidak akan disiapkan tepat pada
waktunya, dan saya tidak akan mendapat remah-remah keju lagi. Ini benar-benar
sesuatu yang buruk.” Ia mengerat sambil mencari akal, tetapi ia tidak
mendapatkan jalan keluar apapun. Akhirnya ia pun keluar dari sarangnya dan
memanjat ke atas jam tersebut. “Hai dengar!” teriaknya sesampainya di sana,
“Mengapa kalian bertengkar, setelah ratusan tahun kalian bersama-sama hidup
damai? Kalian semua sama pentingnya, tetapi kalian telah melupakan sesuatu:
tanpa sang anak kunci tidak ada seorangpun dari kalian dapat bergerak.”
Saat itu terdengarlah langkah
orang masuk, dan si tikus pun segera kembali ke tempat persembunyiannya.
“Oh”, kata suara itu. “Jam kuno
ini tidak berdetak, seseorang pasti lupa menjalankannya.” Kemudian orang
tersebut mengambil anak kunci dari dalam kotak jam, membuka jam itu dan
membenarkan letak jarum-jarumnya. Lalu ia menyentakkan bandul itu dan menunggu
sampa bandul itu berayun ke kanan dan ke kiri.
“Si Tikus itu benar, dia lebih
pintar dari kita semua”, teriak jarum penunjuk jam. “Anak kunci lah yang paling
penting. Hal yang tidak terpikirkan oleh siapapun” Akan tetapi anak kunci itu
menyangkal, “Tidak, tidak, kita semua disini sama pentingnya: si bandul dan
jarum penunjuk menit juga penting. Apabila setiap kita bekerja sendiri-sendiri,
kita tidak akan berguna, tetapi apabila kita bekerja bersama-sama, semuanya
akan dapat berjalan lancar dan baik.” Tak satupun dari mereka dapat
menyangkalnya dan akhirnya mereka rukun kembali.
Bandul berdetak lima kali, dan si
tikus pun melompat ke luar untuk mengambil remah-remah keju. Jam kuno milik
kakek pun akhirnya berdetak terus menerus dengan gembira tiada henti sampai
ratusan tahun kemudian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar