Hantu yang sakit pilek
Pada suatu waktu seorang hantu
mengalami sakit pilek yang sangat parah. Karena pileknya itu sedemikian parah,
ia pun mencuri saputangan dimanapun ia mendapatkannya.
“Saya tidak mengerti, apa yang
terjadi dengan saputanganmu.” kata seorang ibu kepada Kathrin kecil. ”Selalu
saja semakin berkurang dan berkurang lagi. Hanya Tuhan yang tahu, dimana kamu
meletakkannya!”. Hal yang sama juga dikatakan para ibu lain kepada anak-anaknya
di seluruh kota itu dan mereka semua sangat jengkel karena hal itu.
“Itu bukan salah kami”, kata
anak-anak itu sambil menggelengkan kepala mereka. “Kami sungguh-sungguh tidak
tahu dimana saputangan kami berada. Setiap kali kami menerima saputangan baru
dan menaruhnya di tempat yang aman, kemudian tiba-tiba “hush” – saputangan itu
segera hilang kembali. Benar-benar tidak masuk akal.” Di sudut ruangan yang
lain, hantu yang mencuri saputangan itu
hanya tersenyum dan tertawa, “Hihihi” katanya sambil tertawa terkikih-kikih,
“Cari saja lah sendiri!”. Tetapi karena ia harus bersin, ia meloloskan diri
melalui cerobong asap. “Mengerikan pilek ini” keluhnya, “Dan saya tidak dapat
menyingkirkannya! Inilah akibatnya jikalau saya harus menakut-nakuti orang di
tempat terbuka.”
Sayangnya hantu itu masih tetap
terus mengalami sakit pilek dan tidak dapat menahan bersinnya, juga karena di
dalam hidungnya masih tetap mengalir cairan yang tidak ada hentinya. Pada suatu
waktu ia mencuri sekaligus 50 saputangan dari sebuah toko. “Ini benar-benar
keterlaluan!” kata si pemilik toko pada saat ia menyadari hal itu. “50
saputangan hilang sekaligus, ini suatu hal yang mustahil !”
Tetapi hantu itu sekali lagi
terkikih sambil bersin, dan saat semua saputangan itu sudah digunakannya, ia
memanjat menara gereja dan menyebarkan semua saputangan yang telah dicurinya
itu dari atas menara. Saputangan-saputangan tadi melayang berterbangan dan
terbawa sampai ke seluruh penjuru kota. Pada saat anak-anak pulang dari
sekolah, mereka mengambil saputangan-saputangan itu dan berpikir saputangan itu
kepunyaan mereka. Tak lama kemudian semua anak mendapatkan flu yang sama
seperti yang dipunyai hantu itu. Mereka terus menerus bersin sampai semua
dinding rumah pun bergetar karenanya. “Benar benar mengerikan penyakit ini”
kata semua orang. “Kalau saja ada obat yang dapat menyembuhkannya!”. Sang
walikota pun menjanjikan hadiah besar bagi siapa yang dapat membuat obat yang
dapat menyembuhkan penyakit itu.
Kemudian para dokter dan para
ahli obat pun bekerja dengan giat untuk membuat obat penangkal pilek itu.
Mereka mengaduk, dan mencampur, serta membuat suatu adonan obat dari pil merah
dan pil hijau. Si hantu hanya bisa menertawakan kemalangan mereka, karena
menurut dia tidak ada satu obat pun yang dapat menyembuhkan penyakit pilek sang
hantu tersebut.
Akhirnya penyakit pilek yang
diderita anak-anak itu pun lama-kelamaan sembuh dengan sendirinya, hanya sang
hantu yang sayangnya masih tetap bersin siang dan malam. Karena ia masih tidak
dapat sembuh dari penyakit pilek tersebut, ia juga tidak berniat berhenti
mencuri saputangan. Salah satu jalan untuk menghentikannya adalah apabila ada
seseorang yang dapat menangkap hantu itu dan mengurungnya di ruang bawah tanah
yang paling dalam. Kini jika para ibu memarahi anak-anak mereka karena
saputangan yang selalu hilang, mereka sudah tahu bagaimana menjawabnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar