Selasa, 27 September 2016

Hantu yang sakit pilek



Hantu yang sakit pilek

Pada suatu waktu seorang hantu mengalami sakit pilek yang sangat parah. Karena pileknya itu sedemikian parah, ia pun mencuri saputangan dimanapun ia mendapatkannya.

“Saya tidak mengerti, apa yang terjadi dengan saputanganmu.” kata seorang ibu kepada Kathrin kecil. ”Selalu saja semakin berkurang dan berkurang lagi. Hanya Tuhan yang tahu, dimana kamu meletakkannya!”. Hal yang sama juga dikatakan para ibu lain kepada anak-anaknya di seluruh kota itu dan mereka semua sangat jengkel karena hal itu.

“Itu bukan salah kami”, kata anak-anak itu sambil menggelengkan kepala mereka. “Kami sungguh-sungguh tidak tahu dimana saputangan kami berada. Setiap kali kami menerima saputangan baru dan menaruhnya di tempat yang aman, kemudian tiba-tiba “hush” – saputangan itu segera hilang kembali. Benar-benar tidak masuk akal.” Di sudut ruangan yang lain, hantu yang mencuri  saputangan itu hanya tersenyum dan tertawa, “Hihihi” katanya sambil tertawa terkikih-kikih, “Cari saja lah sendiri!”. Tetapi karena ia harus bersin, ia meloloskan diri melalui cerobong asap. “Mengerikan pilek ini” keluhnya, “Dan saya tidak dapat menyingkirkannya! Inilah akibatnya jikalau saya harus menakut-nakuti orang di tempat terbuka.”

Sayangnya hantu itu masih tetap terus mengalami sakit pilek dan tidak dapat menahan bersinnya, juga karena di dalam hidungnya masih tetap mengalir cairan yang tidak ada hentinya. Pada suatu waktu ia mencuri sekaligus 50 saputangan dari sebuah toko. “Ini benar-benar keterlaluan!” kata si pemilik toko pada saat ia menyadari hal itu. “50 saputangan hilang sekaligus, ini suatu hal yang mustahil !”

Tetapi hantu itu sekali lagi terkikih sambil bersin, dan saat semua saputangan itu sudah digunakannya, ia memanjat menara gereja dan menyebarkan semua saputangan yang telah dicurinya itu dari atas menara. Saputangan-saputangan tadi melayang berterbangan dan terbawa sampai ke seluruh penjuru kota. Pada saat anak-anak pulang dari sekolah, mereka mengambil saputangan-saputangan itu dan berpikir saputangan itu kepunyaan mereka. Tak lama kemudian semua anak mendapatkan flu yang sama seperti yang dipunyai hantu itu. Mereka terus menerus bersin sampai semua dinding rumah pun bergetar karenanya. “Benar benar mengerikan penyakit ini” kata semua orang. “Kalau saja ada obat yang dapat menyembuhkannya!”. Sang walikota pun menjanjikan hadiah besar bagi siapa yang dapat membuat obat yang dapat menyembuhkan penyakit itu.

Kemudian para dokter dan para ahli obat pun bekerja dengan giat untuk membuat obat penangkal pilek itu. Mereka mengaduk, dan mencampur, serta membuat suatu adonan obat dari pil merah dan pil hijau. Si hantu hanya bisa menertawakan kemalangan mereka, karena menurut dia tidak ada satu obat pun yang dapat menyembuhkan penyakit pilek sang hantu tersebut.

Akhirnya penyakit pilek yang diderita anak-anak itu pun lama-kelamaan sembuh dengan sendirinya, hanya sang hantu yang sayangnya masih tetap bersin siang dan malam. Karena ia masih tidak dapat sembuh dari penyakit pilek tersebut, ia juga tidak berniat berhenti mencuri saputangan. Salah satu jalan untuk menghentikannya adalah apabila ada seseorang yang dapat menangkap hantu itu dan mengurungnya di ruang bawah tanah yang paling dalam. Kini jika para ibu memarahi anak-anak mereka karena saputangan yang selalu hilang, mereka sudah tahu bagaimana menjawabnya.



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar